
''Ray, kamu duduk aja disana, biar aku selesaikan sendiri.'' Vio meminta Rayn untuk duduk, karena sejak tadi pria itu terus merecokinya, bikin Viona tidak bisa fokus memasak.
''Kamu yakin?''
Viona mengangguk, dia melepas pisau ditangannya dan menuntun Rayn untu duduk di meja makan. Rayn pun menuruti, pria itu duduk sambil menopang kepala dengan tangan. Dia tersenyum memperhatikan Vio yang sedang serius dengan aktivitasnya.
Baiklah, Rayn akan mencoba percaya pada hasil masakan Viona. Kata orang, nggak baik menilai buku dari sampulnya. Iya kan?
Hampir satu jam Rayn menunggu. Sekarang di meja makan sudah tertata beberapa menu. Ada soup, ada bubur yang ditaburi wortel dan juga ada tumis wortel dan buncis.
''Cobain Ray.'' Viona memberikan sendok. Dia tidak sabar melihat reaksi Rayn.
Rayn hampir saja mengeluarkan kuah sup yang barusan dia makan. Pria itu melirik pada Viona.
''Gimana enak nggak?''
Rayn mengangguk dan terpaksa menelannya. ''Lumayan Vi,'' ucapnya tersenyum. Rayn tidak mungkin mengatakan rasa makanan itu buruk, apalagi mengingat usaha Viona tadi.
''Beneran? Kalo gitu cobain buburnya juga.''
Rayn menutup matanya, berusaha untuk baik-baik saja. Pelan-pelan tangannya bergerak, mengambil bubur dan memasukannya ke dalam mulut. ''Good,'' ucapnya mengangkat satu jempol kanannya.
Viona tentu senang. ''Tadinya aku pikir hasilnya akan buruk.''
''Nggak kok, lumayan enak Vi. Oh ya kamu udah sarapan?''
Viona mengangguk. ''Aku sudah makan salad tadi. Oh ya, kamu makan yang banyak deh, habisin ya, aku siap-siap mau ke butik dulu.'' Vio mengecup pipi Rayn sebelum berlalu masuk ke kamar.
Sepeninggalan Viona, Rayn langsung membuka lebar mulutnya, lidahnya keluar sebagai bentuk dan respon ketidaksukaannya pada rasa masakan Viona.
''Soup ini kenapa manis sekali?'' Rayn menggeleng kepalanya, melihat soup buatan Viona. ''Dan bubur ini ...'' Rayn hanya bisa menggeleng kepala lagi dan lagi. Pria itu bahkan enggan untuk mencoba tumisan sayur buatan Viona.
Cepat-cepat Rayn berdiri dan membuang makanan-makan itu. Dia menyisahkan sedikit, agar Viona tidak curiga. Rayn membuang makanan itu di tempat sampah yang ada di lorong apartemen. Sengaja, agar Vio tidak melihat makanan yang dia buang itu.
Rayn bukannya tidak menghargai ya, tapi kalau dipaksa yang ada dia malah akan muntah.
''Loh Ray, udah kelar makannya?'' Viona melirik mangkok di atas meja. Wanita itu tersenyum melihat makanan buatannya yang hanya tersisa sedikit.
''Udah siap Vi?'' Rayn memilih mengalihkan pembicaraan.
Hari ini, butik Vio kembali ramai. Bahkan ada beberapa pembeli yang datang dari luar kota.
''Banyak Vi hari ini yang datang,'' ucap Sabila menyandarkan punggungnya di sofa.
''Disyukurin mbak.'' Karin menimpali.
Sabila hanya mengangguk. ''Oh ya Vi, rencana pernikahan kamu udah sampe mana, ada yang bisa aku bantu nggak?'' Masih dalam posisi PW nya, Sabila menatap Viona yang sedang duduk di kursi kerjanya.
''Udah diurus Rayn semuanya, aku aja nggak ngapa-ngapin.''
''Emang yah tuh orang, ngebet banget kayaknya.''
Viona hanya tertawa, mendengar ucapan sang sahabat.
''Tapi mbak Vio beruntung loh, dapatnya pak Rayn. Kemarin nih ya mbak, pas abis dari butik aku kan nonton ya sama Acel, pas lagi nunggu jam penayangan, kami makan dulu. Eh mbak Vio tau nggak, di tempat makan, beberapa cewek sedang menggosipkan pak Rayn. Katanya mereka patah hati karena pak Rayn sudah mau menikah. Sumpah, ternyata pak Rayn terkenal banget mbak, aku baru tau.''
Viona hanya tersenyum sedangkan Sabila memilih tidak menanggapi.
Viona mengambil ponselnya yang baru berdering. ''Kak Febby?'' gumamnya agak tidak percaya. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali kakaknya menelpon.
''Kamu dimana, aku mau ngobrol.''
''Aku lagi dibutik kak, kakak dimana?''
''Siapa Vi?''
''Kak Febby,'' jawab Viona masih menatap layar ponselnya.
''Ngapain lagi dia?'' Nada bicara Sabila berubah kesal. Dia ingat jelas bagaimana jahatnya Febby pada Viona, makanya dia kesal.
''Dia ngajakin ketemuan di Greren hotel.''
''Ngapain, tumben banget. Jangan-jangan dia punya rencana licik lagi Vi.''
''Bill nggak baik ngomong gitu, dia kakakku loh.''
''Kakak apaan yang modelannya kayak iblis gitu?''
''Bill.'' Vio kembali menegur. Ya walau bagaimana pun febby adalah kakaknya jadi Viona agak keberatan saat Sabila mengejeknya.
''Oke-oke tapi aku ikut ya. aku nggak percaya sama tuh lampir. Pokoknya aku mau ikut Vi.''
''Kamu ini. Nggak pa-pa Bill, aku pergi sendiri aja, lagian katanya ada hal penting yang mau kakakku katakan.''
''Ya karena hal penting itu yang bikin aku curiga Vi.''
Vio hanya menggeleng. Dia pun mulai mengetik balasan.
[Oke] Itu balasan yang Viona kirim.
*****
Jam setengah 7 malam, Vio sampai di hotel yang dikatan Febby. Dia benar-benar datang sendirian dan kebetulan juga, hari ini Rayn mengabari kalau pria itu akan pulang sedikit terlambat.
''Hallo kak, aku udah di lobby nih.'' Vio menelpon Febby.
Tidak sampai 5 menit, wanita itu datang menemuinya. Febby membawanya naik dan masuk ke sebuah kamar. Katanya Febby sengaja memesan kamar itu agar mereka bisa leluasa mengobrol.
Vio tidak curiga sama sekali. Dia bahkan menerima dan langsung meminum jus mangga yang Febby berikan.
''Kakak mau ngomong apa?'' tanyanya mendudukan dirinya di ranjang kamar hotel tersebut.
Hampir 20 menit, Febby terus mengulur waktu. Wanita itu sengaja, menunggu obat yang tadi dia berikan bereaksi di tubuh Viona.
Viona mengerjab kuat matanya yang tiba-tiba terasa berat.
''Kak, apa yang kamu taruh dalam jus tadi?''
Viona menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, dia coba mempertahankan kesadarannya. Dia pun bangkit, ingin keluar dari kamar tersebut tapi sudah terlambat, karena sedetik kemudian wanita itu sudah jatuh tidak sadarkan diri.
''Selamat bersenang-senang adik si*lanku,'' ucap Febby menatap sinis Viona. Dia pun mengambil ponsel dan menelpon Kevin.
''Masuklah, semuanya sudah beres,'' ucap Febby dan langsung mengakhiri panggilan. Setelah menelpon Kevin, Febby langsung menelpon Nindy.
''Masuklah setelah 30 menit lagi,'' ucapnya dan kembali mengakhiri panggilan.
''Kevin?'' Di depan hotel, Sabila melihat Kevin yang buru-buru masuk ke dalam hotel. Perasaannya jadi tidak tenang, dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada Viona.
Tadi, Sabila sengaja mengikuti Vio, ya karena dia tidak percaya pada Febby dan takut wanita itu menyakiti Viona. Dan sekarang, setelah melihat Kevin, perasaannya menjadi lebih tidak tenang. Buru-buru sabila mengikuti pria itu. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Sabila melihat Kevin menekan tombol 6. Cepat-cepat dia berlari ke arah tangga darurat, memilih menggunakan tangga, untuk bisa mengejar Kevin dan tidak ketahuan kalau dia sedang mengikuti pria itu.
Tadi Sabila juga sudah menelpon Rayn tapi sayangnya, pria itu tidak mengangkat teleponnya. Jadinya, Sabila menelpon Daniel, untuk meminta bantuan kalau-kalau pikiran negatifnya ini terbukti benar.
Sabila mengintip dari balik tembok. Tidak lama setelah Kevin masuk ke sebuah kamar, Sabila melihat Febby keluar dari kamar itu.
Bersambung .....