
Safira sudah berada begitu dekat dengan suaminya. Ia menunggu dengan gelisah, berharap El segera merespon upayanya. Harusnya El langsung berinisiatif mengambil alih saat pertama kali ia melepaskan selimut yang membalut tubuhnya. Gadis itu sudah merasa seperti akan mati karena menahan rasa malu, tapi El masih terpaku menatap nya.
Upaya terakhir mau tak mau Safira lakukan, terlambat sudah untuk mundur. Tak ada jalan lain selain melanjutkan aksi ini.
Setelah menghela nafas, ia menatap Elbram dengan senyum menggoda mengikuti tutorial yang sempat ia tonton bersama Dini tadi siang. Safira kemudian mengalungkan tangan nya di leher Elbram, ia berharap suaminya akan berbaik hati untuk memegang kendali, karena setelah ini sungguh Safira sudah tak sanggup lagi untuk melancarkan godaan pada pria itu.
"Apa ini kado lanjutan untukku?" Bisik Elbram dengan senyum tipisnya. Matanya begitu dalam menatap pada wajah Safira yang terus memerah. Safira hanya bisa mengangguk karena saat ini ia tengah menahan nafas nya.
"Apa aku sudah boleh mengambil hak ku?" tanya Elbram lagi. Safira menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jangan banyak bicara El" ucapnya setengah putus asa. Harusnya El tak perlu bertanya lagi, sudah sejauh ini ia melancarkan rayuan harusnya El sudah paham meski ia tak mengatakan apapun.
Elbram terkekeh melihat raut kesal Safira, namun meski begitu Safira masih pada posisinya. Aroma wangi tubuh Safira menguar memanjakan telinga Elbram pada posisi sedekat ini.
Elbram merengkuh pinggang Safira dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
"Kamu benar-benar sudah siap sayang? aku nggak mau kamu menyesal nantinya" ucap Elbram dengan tatapan yang menghujam. Ia sangat menginginkan Safira namun ia tak mau apa yang ia lakukan menyakiti perasaan Safira jika gadis itu belum benar-benar rela menyerahkan diri.
"Aku milikmu El, nikmati apa yang menjadi hak mu" bisik Safira, ia membalas tatapan Elbram agar pria itu dapat merasakan kesungguhannya.
Elbram terlihat begitu bahagia, El tak lagi menyembunyikan gairahnya yang menyala. Pria itu kini menarik tubuh Safira agar semakin rapat padanya.
"Aku mencintai mu Safira" Bisik El sebelum menautkan bibir keduanya.
Safira memejamkan mata menikmati sentuhan lembut bibir Elbram. Gemuruh hebat menguasai seluruh tubuhnya merasakan sesapan pada bibirnya. Tubuhnya terasa melayang kala lidah Elbram ikut beraksi menggelitik dan merayu lidah nya. Ini bukan ciuman pertama mereka namun tak berarti keindahan nya sirna. Justru semakin berwarna dan penuh makna.
Permainan bibir Elbram semakin liar, menghisap dan menyesap yang juga disertai gigitan-gigitan kecil dan belitan lidah yang membuat Safira kewalahan.
El mengangkat tubuh Safira dan membawanya ke ranjang, matanya nyalang menatap pada Safira yang tampak terengah. Dada gadis itu terlihat naik turun ketika Safira berusaha meraup udara.
El terus menyusuri tubuh indah istrinya dengan tatapan yang memuja. Wajah Kemerahan istrinya tampak menggemaskan dan menggairahkan secara bersamaan.
Safira terperangah ketika hanya dalam satu tarikan, lingerie yang ia pakai lolos begitu saja tak menyisakan sehelai benangpun di tubuhnya. Safira akan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, namun dengan sigap El menghalangi tangannya. Pria itu memposisikan diri di atas Safira lalu kembali menyatukan bibir mereka.
"El jangan..." Ucap Safira terbata sembari merapatkan kakinya untuk menghalangi tangan El menyentuh bagian sana. Rasanya masih terlalu asing untuk Safira. Tanpa Safira duga, El menghentikan pergerakan bibirnya.
Safira semakin terpaku, rasa khawatir menyelimutinya kala El melepaskan ciumannya dan beranjak dari posisi nya, gadis itu takut sang suami merasa tersinggung akibat penolakannya. Safira segera bangkit, bersiap untuk menahan suaminya jika saja pria itu berniat untuk pergi.
Safira menelan kembali kata-kata yang hampir terucap, gadis itu terpukau ketika melihat El ternyata melepaskan semua yang melekat pada tubuhnya hingga menampakkan tubuh polos pria itu. Gadis itu segera memalingkan wajahnya yang merona, ini pertama kalinya ia melihat tubuh Elbram tanpa penghalang apapun. Harus Safira akui, tubuh suaminya terpahat begitu gagah dan indah!
Dengan tersenyum El kembali mendekat pada Safira dan mendorong perlahan tubuh istrinya agar kembali tidur. Safira tercekat, tangannya meremas erat sprei ketika tanpa ia duga El melakukan sesuatu yang tak pernah terfikir di otaknya. "El kamu mau ngapain?" Tanya Safira panik karena El mendekatkan wajah ke arah inti nya.
"Menikmati kado istimewaku tentu saja" Mata Safira terpejam merasakan hembusan hangat nafas Elbram di bawah sana. Safira ingin menggagalkan rencana Elbram dengan merapatkan kedua pahanya. Namun karena El menahan begitu kuat ia tak berhasil menyembunyikan sesuatu yang telah ia jaga selama ini.
Safira menjerit tertahan karena tindakan gila Elbram selanjutnya, namun gadis itu ikut menggila merasakan ujung lidah pria itu menyentuh bagian inti yang terasa berdenyut. Lutut gadis itu terasa lumpuh dan pahanya bergetar tiap kali merasakan sapuan lidah suaminya yang begitu liar. ******* beberapa kali lolos dari bibir Safira seiring genggaman tangan nya yang semakin erat pada sprei yang ada di bawahnya. Safira tak menyangka El bisa melakukan hal seliar ini.
Safira kembali menjerit saat merasakan getaran yang teramat dahsyat, tubuhnya bergetar tak mampu lagi menahan sebuah rasa asing yang siap menggempur nya. Safira memejamkan mata karena rasa pening yang menerpa seiring serbuan badai yang seolah meleburkan tubuhnya. Elbram mengangkat kepalanya, menatap bangga pada Safira yang terlihat kepayahan dengan peluh yang mengaliri tubuhnya. El kemudian memposisikan diri di atas dan sejajar dengan Safira.
"El.." Ucap Safira lemah ketika pandangan keduanya bertemu. Elbram tersenyum dan mengusap keringat yang memercik di wajah sang istri.
"Apa sudah boleh dilanjut?" tanya Elbram dengan suara yang begitu lembut.
Safira terpana, lanjut? oh tentu saja ini belum selesai untuk pria itu. Meski tubuhnya terasa begitu lemas namun Safira mengangguk, El belum mendapatkan kado istimewanya.
Safira mengira mereka akan segera memasuki permainan inti, namun ternyata semua di luar dugaan nya. Nampaknya El masih ingin bersenang-senang mengeksplore bagian-bagian terindah tubuh nya. Mungkin pria itu masih ingin mengenalkannya pada berbagai rasa dalam prosesi percintaan ini.
Kali ini El menjadikan dada Safira sebagai wahana bermainnya. Terlihat begitu menyenangkan bagi Elbram sementara bagi Safira itu adalah sebuah kenikmatan yang teramat menyiksa. El mencumbu puncak merah jambu milik Safira, menerbangkan jutaan kupu-kupu di perut gadis itu. Tubuh Safira kembali menegang merasakan sesapan dan cumbuan lidah serta remasan yang El lakukan pada dadanya.
🍁🍁🍁
Segini aja dulu ya guys...
semoga cepat lulus review 🥰