Move On

Move On
Empat Puluh Delapan



Kali ini El menjadikan dada Safira sebagai wahana bermainnya. Terlihat begitu menyenangkan bagi Elbram sementara bagi Safira itu adalah sebuah kenikmatan yang teramat menyiksa. El mencumbu puncak merah jambu milik Safira, menerbangkan jutaan kupu-kupu di perut gadis itu. Tubuh Safira kembali menegang merasakan sesapan dan cumbuan lidah serta remasan yang El lakukan pada dadanya.


Safira menggeliat gelisah, sapuan bibir dan lidah El yang semakin intens dikombinasikan oleh permainan tangannya yang bergantian meremas dan memilin puncak merah mudanya membuat Safira merasakan kehadiran rasa asing itu lagi.


Mendadak Safira merasa kosong, jiwanya memberontak ketika El menghentikan cumbuan nya. Safira menatap protes pada El yang kini membawa tubuhnya kembali ke atas sehingga wajah keduanya kini sejajar. El tersenyum lalu mendaratkan kecupan di bibir Safira yang basah. Dengan cepat Safira membalas pag utan El pada bibirnya. Ia seolah begitu kehausan dan ingin segera menuntaskan dahaganya.


Safira mengernyit di sela hisapan El pada bibirnya, merasakan di bawah sana sesuatu yang keras sedikit menekan bagian intinya, mengalirkan gelenyar kenikmatan luar biasa yang sebelumnya sempat terhenti. Safira begitu ingin meraih benda itu dan mengundangnya semakin masuk ke dalam dirinya, namun rasa malu belum benar-benar sirna pada dirinya hingga mau tak mau ia harus bersabar menunggu El yang melanjutkan dan memegang kendali permainan mereka.


Seolah mengerti pada apa yang Safira inginkan, El mengarahkan miliknya agar posisinya semakin pas. Rasa panas mengaliri tubuh El dengan cepat, gairah nya memuncak saat ujung miliknya menyentuh milik Safira yang licin dan basah namun begitu hangat. Ini benar-benar kenikmatan yang begitu sulit untuk dijelaskan.


Kenikmatan di bawah sana membuat El semakin liar menghisap dan mel umat bibir Safira. Pria itu mulai menekan miliknya, merasakan benda asing mulai menyapa miliknya membuat mata Safira yang semula terpejam kini terbuka. Pandangan sepasang suami istri itu bertemu, Safira melihat wajah El yang begitu tegang seperti menahan sesuatu, matanya berkabut dengan keringat yang memercik. Begitu tampan dan terlihat amat seksi di mata Safira.


"Aku sangat menginginkan mu, aku nggak bisa berhenti lagi sayang" Bisik nya. Wajah Safira kembali bersemu merah.


"Ini akan sakit, bertahanlah sayang" Bisik Elbram lagi. Kali ini naluri Safira menuntunnya untuk menganggukkan kepala. El kembali menekan miliknya, des ahan keluar dari bibir pria itu saat kepala tumpulnya menelusup lebih dalam pada celah basah milik Safira. Sensasi baru kembali dirasakan oleh keduanya, rasanya begitu nikmat hingga mampu menerbangkan akal sehat keduanya.


"Argh, ini sempit banget sayang" Elbram mengeram, ia tau di depan sana ada sebuah penghalang yang tak akan mudah untuk ia tembus. Pria itu sedikit memundurkan pinggulnya, membuat ancang-ancang untuk kembali masuk semakin dalam. Keduanya terengah, Safira mulai merasakan nyeri dan tak nyaman pada bagian paling sensitif tubuhnya seiring usaha Elbram untuk memasuki dirinya lebih dalam.


Kening Safira berkerut, kali ini rasa sakit itu kian terasa namun Safira menutup rapat bibir dan juga matanya. Ia tak ingin El menyadari apa yang ia rasakan dan memilih untuk berhenti, sungguh sangat tidak rela rasanya. Ada sesuatu dalam diri Safira yang menuntut untuk segera dituntaskan.


"El, in-ni sakit banget" Keluh Safira tanpa sadar ketika El kembali menekan miliknya, padahal sejak tadi ia berusaha menahan agar El tak merasa ragu untuk melanjutkan. Air mata tanpa terasa mengalir di sudut mata gadis itu.


Elbram terkesiap, pria itu menatap khawatir pada istrinya. Meski terlihat tidak rela namun El bergerak untuk menggeser tubuhnya. Namun dengan cepat Safira mengaitkan kakinya pada pinggang Elbram.


"Jangan berhenti, lanjutkan El" mohon Safira.


"Tapi kamu kesakitan sayang" bisik Elbram sembari mengusap rambut Safira dengan sayang.


"Aku nggak mau berhenti El, please" selain karena tak ingin mengecewakan Elbram yang ia tau sudah sangat mendambakan dirinya, Safira juga merasa kehilangan saat benda keras itu menjauhi miliknya.


"Kamu yakin?"


Lum atan beserta hisapan bibir Elbram membuat suasana semakin panas, Safira terbuai hingga sejenak rasa sakit di bagian intinya teralihkan. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Elbram. Ia memajukan tubuhnya dan menghentak lebih kuat hingga miliknya berhasil menembus dinding pertahanan Safira.


Safira merasa tubuhnya terbelah, begitu nyeri, perih dan tersayat. Namun pekikan nya teredam oleh pagu tan lembut bibir Elbram. Pria itu tetap diam, membiarkan milik Safira menyesuaikan keberadaan benda asing yang bertamu.


Safira merasakan bagian tubuh nya terasa penuh dan sesak. Air mata nya kembali mengalir seiring rasa nyeri yang masih bertahta.


"Maaf sayang" Elbram menciumi seluruh wajah Safira. Gadis itu menatap ke arah suaminya, Safira tercekat melihat mata Elbram yang tampak berkaca-kaca. Pria itu menahan tangis haru, ia benar-benar merasa bersyukur telah berhasil memiliki Safira secara utuh setelah hampir kehilangan gadis itu dalam hidupnya.


Safira mengangkat tangannya yang sejak tadi memeluk erat tubuh Elbram dan membawanya mengusap pipi sang suami.


"Terima kasih sudah menjadikan ku wanita seutuhnya El" Bisik Safira yang membuat air mata Elbram semakin tumpah. Ia mencium bibir Safira kembali.


Pergerakan ringan Elbram membuat bagian bawah keduanya saling bergesekan, membangkitkan rasa panas pada diri Elbram.


"Boleh aku melanjutkan?" tanya Elbram penuh harap, kabut gairah telah memenuhi mata nya. Safira mengangguk, tak ia pungkiri rasa sakit masih menderanya.


Safira sebisa mungkin menahan bibirnya agar tak bersuara ketika El mulai bergerak, pria itu memaju mundurkan tubuhnya secara perlahan. Rasa sakit dan perih begitu terasa seiring pergerakan Elbram, namun ada rasa asing lainnya yang turut hadir. Rasa nikmat yang menelusup hingga sampai ke ubun-ubun membuat Safira menerima setiap hentakan suaminya dengan penuh damba.


El semakin cepat memacu tubuhnya, gerakan nya semakin tak teratur. Erangan dan lenguhan keduanya saling berbaur dan berkejaran, hingga Safira memejamkan matanya dengan rapat ketika deburan kenikmatan itu kembali menghampiri dan menghempaskan dirinya dengan begitu dahsyat, melebihi kenikmatan yang El berikan sebelumnya.


"El... Ak-khu..." Kata-kata itu tak mampu Safira lanjutkan, tubuhnya menegang dan bergetar di bawah kuasa Elbram yang terus memacunya dengan semakin cepat, tidak berapa lama Elbram ikut menegang dan menghujamkan miliknya begitu dalam. Safira merasakan kehangatan menyirami


"Sayang..." Erang pria itu, Safira merasakan semburan hangat di kewanitaan nya bercampur dengan cairan miliknya. Elbram kemudian ambruk di atas tubuh istrinya dan meletakkan wajah di ceruk leher gadis itu. Nafasnya memburu terasa hangat di leher Safira. Keduanya memejamkan mata, berusaha menormalkan kembali tarikan nafas yang terasa berat.


🍁🍁🍁


Hufftt...Mengcapekkkk guys πŸ˜‚πŸ˜‚


semoga lulus Review β˜ΊοΈπŸ˜‰