Move On

Move On
Part 71



Rayn memukul kuat meja. Tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras menahan kemarahan. Sabila dan Daniel baru saja menceritakan apa yang terjadi.


Daniel juga mengatakan kalau Kevin belum sempat melakukan aksinya, karena sudah lebih dulu digagalkan oleh Sabila.''


''Kevin. Febby.  Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja.'' Rayn tidak bisa membiarkan Febby dan Kevin lagi. Kali ini perbuatan mereka sudah sangat keterlaluan dan Rayn akan membalas mereka berkali-kali lipat lebih kejam dari apa yang mereka lakukan pada Viona.


Tidak hanya Rayn, tapi Anastasya juga sudah memikirkan hal itu. Awalnya dia tidak menyangka kalau Febby akan sejahat itu tapi bukan berarti dia akan melepas Febby begitu saja. Anastasya tidak peduli lagi, bahkan jika Febby adalah anaknya Andrea.


''Sekarang, dimana dua orang itu?'' tanya Anastasya.


Daniel kembali memberitahu kalau sekarang Febby dan Kevin sudah ditahan oleh polisi.


''Ditahan polisi? Itu terlalu ringan.'' Rayn menyeringai kejam sampai membuat mereka bergidik ngeri.


''Aku pasti akan segera menjenguk kalian,'' gumamnya penuh arti. Rayn tidak bisa langsung pergi menemui kedua orang licik itu, karena harus menemani Viona yang masih belum sadar. Sudah hampir 5 jam sejak Viona tidak sadar. Entah berapa banyak dosis obat yang Febby berikan.


Sudah hampir jam 7 pagi, artinya sudah 12 jam Vio tidak sadarkan diri.


Viona mengerjab matanya beberapa kali, matanya berputar melihat sekeliling. ''Rayn?'' gumamnya melihat Rayn yang tidur di kursi, kepala pria itu dia letakan diatas ranjang.


''Apa yang terjadi? Kok aku ada di rumah sakit?'' gumamnya lagi.


''Vi ... kamu udah bangun Vi?'' Rayn langsung memeluk Viona. Viona bingung, karena beberapa kali Rayn mengucapkan kata maaf.


''Ray, kamu kenapa sih?''


Rayn menggeleng. Sebelumnya Mereka sudah sepakat, untuk tidak menceritakan tentang tindak pelecehan yang kevin lakukan.Mereka takut hal itu akan memperngaruhi mental Vio, apalagi mengingat kevin yang dulu pernah menjadi bagian paling berarti bagi Viona.


''Ray, aku kenapa bisa disini? Seingatku tadi malam lagi di hotel sama kak Febby terus ....'' ucapan Vio terpotong. Dia mengingat tentang Febby yang sepertinya menaruh obat dalam jus yang dia minum.


''Ray, kak Febby.... kak Febby sekarang dimana?''


''Kalau masalah itu aku kurang tau. Sudah nggak usah dipikirin.''


''Tapi Ray, semalam aku ketemu kak Febby terus abis itu dia ngasih jus mangga dan sepertinya ... dia menaruh obat tidur di dalamnya.''


Rayn tersenyum tipis, tangannya terangkat untuk mengusap belakang kepala Viona. ''Nggak usah dipikirin, yang penting kamu baik-baik aja.''


Vio tetap mengangguk, walau merasa ada yang sedikit ganjel.


Sejam setelah sadarkan diri, Rayn langsung membawa Vio pulang. Bukan ke apartemen, dia membawa Viona ke rumah orang tuanya.


''Ray, kenapa kesini?'' Masih di dalam mobil, Viona memperhatikan rumah mewah keluarga Rayn.


''Untuk sementara kita tinggal disini kamu keberatan nggak?''


''Aku mau tinggal di apartemen aja Ray, nggak enak kita belum nikah.''


''Sehari dua hari aja Vi.''


Viona menggeleng. Dia hanya tidak mau merepotkan atau mengganggu orang tua Rayn.


''Ray, please ....?''


Mau tidak mau Rayn mengalah. Dia pikir apartemen mereka juga tergolong aman.


''Baiklah.''


*****


''Loh Vi, kamu berangkat kerja?'' tegur Rayn pada Viona yang sudah menggunakan pakaian kerjanya.


''Yaiya dong. Pekerjaan aku numpuk Ray.''


''Ray, kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?'' tanya Vio mendekati pria itu. Rayn sedang duduk di sofa. Viona rasa sikap Rayn agak aneh.


Vio tersenyum lebar, merasa lucu. ''Justru karena sudah mau menikah, makanya aku harus lebih giat lagi kerjanya. Pesanan di butik sedang banyak-banyaknnya dan juga nanti setelah menikah aku nggak mungkin langsung kerja kan? Setidaknya 1 atau 2 hari aku ingin menghabiskan waktu sama kamu.''


''Honeymoon maksudnya?''


''Ya nggaklah. Mana ada honeymoon yang sesingkat itu?''


''Berarti abis nikah kita nggak honeymoon?''


Vio menyengir. ''Mungkin setelah semua pesanan di butik selesai,'' ucapnya.


''Nggak pa-pa kan?'' tanyanya karena takut Rayn keberatan. Vio bukannya sengaja, tapi butiknya sudah terlanjur menerima banyak pesanan jauh-jauh hari sebelum Rayn melamarnya.


''Nggak pa-pa Vi, aku nggak keberatan kok. Yaudah yuk, aku anterin ke butik.''


Di butik, Sabila menyambut Viona seperti biasa, seolah tidak terjadi apapun semalam. Sabila bahkan tidak menceritakan hal itu pada Karin. Rahasia akan lebih mudah dijaga, jika hanya sedikit orang yang mengetahuinya.


''Tumben Vi datang siang,'' sambut Sabila.


''Kecapean,'' jawab Viona asal.


''Cape apaan woi?''


''Bill titip Vio ya,'' ucap Rayn sebelum pergi. Sabila hanya mengangguk. Lagian tanpa dibilang pun dia tetap akan menjaga Viona.


Sehabis mengantar Viona, Rayn langsung melajukan mobilnya ke tempat ditahannya Febby  dan kevin.


''Ray... Rayn kamu datang mengunjungiku?'' Febby kesenangan, melihat Rayn di depannya.


''Dasar wanita gi*l,'' Rayn berdiri dan langsung mencengkram rahang Febby kuat. Harusnya sejak dulu dia tidak mentorerir wanita itu.


''Ray, sakit Ray ...,'' rancau Febby yang mulai kesulitan bernafas.


''Sakit?'' Rayn menyeringai.


''Mulai hari ini, akan aku pastikan kamu menerima rasa sakit yang berkali-kali lipat dari ini. Aku tidak akan melepaskan siapun yang sudah menyakiti Viona.''


Febby menggeleng. ''Wani-ta sial-lan itu, aku pas-ti akan menghan-curkannya,'' ucapnya walaupun sedang kesulitan bernafas. Wajah Febby sudah sangat merah, cengkaram Rayn semakin kuat saja, hingga wanita itu beberapa kali menutup mata, meringis manahan sakit.


''Ck. Aku akan menghancurkanmu lebih dulu. Ingat, setelah kamu masuk kedalam sana, sekalipun kamu tidak akan pernah keluar lagi.''


''Ap-apa maksud ka-mu Ray?''


Rayn tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung menghempas kasar rahang Febby. Kepala Febby sampai terbentur dinding dan Rayn tidak mempedulikan itu.


Setelah Febby. Rayn pun bertemu dengan Kevin.


Wajahnya langsung berubah merah, begitu melihat Kevin berdiri di depannya. Rayn tersenyum sinis, melayangkan beberapa pukulan di wajah Kevin. Kevin tidak bisa melawan karena tangannya sedang di borgor.


''Pak ... Pak Rayn anda bisa membunuhnya.'' Seorang petugas melerai.


Rayn tidak peduli, dia malah menyingkirkan petugas itu dan kembali menghajar Kevin dengan membabi buta. Nafas Rayn naik turun, melihat Kevin yang sudah tidak beradaya. ''Mulai hari ini, hidupmu tidak akan tenang lagi,'' ucapnya penuh arti.


Seperti yang dia katakan pada Sabila tadi, Rayn juga mengatakan hal yang sama pada Kevin. ''Setelah masuk kedalam sana, selamanya kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi.'' Seringai menakutkan menghiasi wajahnya.


Kevin tidak mengatakan apa-apa, dia bahkan tidak membela diri sama sekali.


Sebenarnya. Entah bagaimana caranya, Rayn sudah menyewa beberapa orang untuk mengawasi dan menyiksa Febby dan Kevin dalam penjara. Dia benar-benar akan membalas berkali-kali lipat, lebih dari apa yang Vio alami.


Sebenarnya hal yang sama juga sudah dilakukan Anastasya. Dia sudah lebih dulu menyewa beberapa orang untuk memberi pelajaran pada Febby dan Kevin.


Bersambung .....