Move On

Move On
Sepuluh



"Hei mau ke mana?" Tanya Elbram saat mendapati Safira, Dini dan Maya tampak rapi dan berjalan menuju pintu.


"Girls day out bang" jawab Dini sementara Maya dan Safira hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Safira juga ikut?" tanya Elbram, pria itu menatap pada Safira menunggu jawaban.


"Iya El"


"Ya iyalah bang, kita meluangkan waktu jalan khusus bertiga itu juga buat Safira karena hari-hari biasanya kita kadang-kadang kita ninggalin dia jalan bareng pacar" lanjut Dini. Sejak dulu Mereka memang selalu mengagendakan 1 hari khusus yaitu hari sabtu untuk menghabiskan waktu bertiga tanpa gangguan dari pasangan masing-masing. Hal itu tentu saja berlaku bagi Dini dan Maya yang memiliki pasangan berbeda dengan Safira yang berstatus jomblo


"Hari ini kamu nggak usah ikut aja ya Fir? aku baru aja mau nelfon kamu ngajak jalan" detakan jantung Safira selalu saja tak beraturan jika sudah berhadapan dengan Elbram.


"Lah mana bisa kayak gitu, kita cuma sampe jam 3an kok bang perginya. Kalo mau ajak jalan Safira nanti aja sekalian malam mingguan" Timpal Dini.


"Ya udah deh kalo gitu, nanti malam jam 7 aku jemput kamu ya Fir?" ucap Elbram akhirnya. Safira kelabakan, ia menatap cepat ke arah Dini. Gadis itu kebingungan harus menjawab apa pada pria itu. Dini yang mengerti maksud Safira menganggukkan kepalanya.


"I-iya El" Jawab Safira terbata, apalagi saat melihat Elbram menyunggingkan senyum hangatnya.


"Ya udah kita pergi sekarang bang" Dini diikuti Maya dan Safira beranjak dari hadapan Elbram. Namun langkah mereka terhenti karena Elbram memanggil nama Safira


"Iya kenapa El?" Tanya Safira pada Elbram yang mendekat ke arahnya


"Hati-hati ya perginya" ucap Elbram sambil mengusap rambut Safira. Pria itu tampak begitu santai tapi tidak bagi Safira. Tubuh gadis itu bergetar dengan darah yang mengalir cepat. Perlakuan Elbram membuat tubuhnya terasa begitu lemas bagaikan tak bertulang.


"Kok malah ngelamun?" Tanya Elbram sambil meraih dagu Safira. Tentu saja hal itu membuat Safira semakin kelabakan.


"E-enggak aku nggak ngelamun. Aku pergi dulu El. Sampai nanti" Safira membalikkan badannya dan berjalan dengan tergesa ke arah Dini dan Maya yang mengulum senyum melihat apa yang terjadi barusan.


"Cie yang makin dekat" Goda Maya saat mereka sudah di dalam mobil. Safira tampak menyandarkan tubuhnya sambil memegangi dadanya, mata gadis itu terpejam dengan pendar kemerahan yang masih tampak jelas di wajahnya. Safira masih berusaha mengatur nafasnya.


"Uda sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Dini


Safira menghela nafasnya, mata indah gadis itu terbuka dan menatap ke arah Dini.


"Masih kayak kemaren-kemaren Din, aku kan selalu cerita sama kalian gimana aku sama El" Safira memang kerap bercerita pada Dini dan Maya, ia juga selalu bertanya pada kedua sahabatnya itu bagaimana caranya menghadapi Elbram.


"Mungkin bang El masih ingin melakukan penjajakan lebih dalam lagi sebelum memutuskan untuk melangkah pada hubungan selanjutnya sama kamu Fir" Entahlah Safira juga tak begitu mengerti, Elbram selalu membuatnya berbunga-bunga dengan segala perlakuannya. Tapi hubungan mereka masih jalan di tempat, Safira juga tak berani bertanya pada El tentang status mereka. Padahal kedekatan mereka sudah terjalin hampir dua bulan lamanya.


"Iya Fir, kamu tenang aja dari perlakuan abangnya Dini ke kamu dapat dipastikan dia suka sama kamu. Sweet banget, aku jadi baper tau nggak" timpal Maya. Safira hanya mengangguk sambil berharap di dalam hati bahwa apa yang Maya dan Dini ucapkan benar-benar seperti yang Elbram rasakan.


🍁🍁🍁


"Aku selalu suka bersantai menikmati udara malam sambil memandangi langit. Walaupun sebenarnya aku lebih suka suasana yang hening dan sepi bukan ramai seperti ini" Ucap Elbram memecah keheningan.


"Kamu sering melakukannya?" tanya Safira, ia menoleh ke arah Elbram yang mendongakkan kepalanya memandangi langit.


"Tentu saja, biasanya sebelum tidur aku selalu mendinginkan otakku dengan cara seperti ini agar setelahnya aku bisa tidur nyenyak"


"Biasanya sambil mikirin siapa? pacar kamu?" Safira memberanikan diri untuk bertanya hal pribadi pada pria itu. Safira kembali menoleh ke arah Elbram yang tertawa.


"Kenapa nggak langsung nanya aja sih"


"Maksud kamu?" Safira menatap heran.


"Kamu ngomong kayak gitu sekalian mau cari info aku punya pacar atau enggak kan?" Ucap Elbram lalu kembali tertawa melihat wajah Safira yang langsung memerah.


"Enggak" Elak Safira, karena sebenarnya gadis itu sudah tau dari Dini bahwa Elbram baru putus dari kekasihnya.


"Aku nggak punya pacar, baru putus satu bulan sebelum aku kembali ke sini" Sekilas wajah Elbram berubah sendu namun dengan cepat pria itu mengubah ekspresi nya kembali santai. Safira diam-diam merasa senang karena Elbram mulai terbuka dengan kehidupan pribadinya.


"Jadi kamu mandangin langit sambil mengenang mantan pacar?" Elbram terkekeh lagi mendengar pertanyaan Safira.


"Enggaklah, itu kebiasaan aku sejak dulu. Bukan karena ingin mengenang siapa-siapa" Bantah pria itu.


"El, kalo aku boleh tau kenapa bisa putus? pacar kamu asli orang sana atau orang Indonesia?" Safira merasa tak enak hati saat Elbram menatap datar padanya. Ia takut El merasa tersinggung dengan pertanyaan nya. Bagaimana pun ia bukan siapa-siapa dan tak berhak bertanya tentang kehidupan pribadi pria itu.


"Dia selingkuh sama teman kerja aku, bahkan sampai hamil. Dia asli Indonesia tapi sejak SMP keluarganya besarnya sudah pindah dan menetap di sana" Elbram tertawa pahit.


"Sorry El, aku nggak bermaksud membuat kamu sedih. Harusnya aku nggak nanya" Ucap Safira menyesal.


"Hei aku baik-baik aja, nggak usah merasa bersalah. Hati aku udah pulih cukup lama, rugi banget nggak sih kalo terlalu lama terluka, hidup aku terlalu berharga hanya untuk meratapi pengkhianat seperti mereka" Safira sedikit lega.


"Kamu trauma?" tanya Safira hati-hati


"Enggaklah, cemen banget kalo cuma gara-gara dikhianati sampai trauma. Masih banyak gadis baik di dunia ini Safira. Contohnya kamu" Ucap Elbram sambil tersenyum "Nggak semuanya kayak mantan aku, cuma aku lebih hati-hati aja sekarang. Nggak mau buru-buru menjalin hubungan yang baru" Safira mengangguk, ia jadi paham kenapa Elbram tak kunjung memberi kejelasan pada hubungan mereka.


Atau sebenarnya ia saja yang terlalu berharap dan menyalah artikan semua perlakuan Elbram padanya selama ini? bisa saja perasaan Elbram padanya hanya biasa-biasa saja.


Memikirkannya membuat dada Safira terasa sesak, ia takut jika nanti terjadi sesuatu yang diluar harapannya.