Move On

Move On
Empat Puluh Sembilan



Safira menenggelamkan wajahnya yang merona ke dada Elbram karena pria itu terus menatap nya.


"Jangan liatin aku terus kayak gitu El" Ucapnya manja.


"Kenapa? padahal mandangin wajah istriku itu kegiatan paling menyenangkan buat aku" El mengusap rambut Safira yang masih terasa basah akibat keringat yang ditimbulkan dari kegiatan panas mereka beberapa saat yang lalu.


"Iya tapi akunya malu El" ucap Safira masih enggan menampakkan wajahnya. Apalagi saat mengingat apa yang baru saja terjadi, Safira merasa teramat malu.


"Kenapa harus malu, kan sama suami sendiri"


Sebenarnya posisi mereka yang saling berpelukan dalam kondisi tanpa pakaian seperti ini membuat El sedikit tersiksa, apalagi beberapa waktu yang lalu ia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia ingin mengulangi dan merasakan kembali namun melihat Safira yang begitu kelelahan membuat pria itu mau tak mau menekan egonya.


"Tau nggak sayang, malam ini benar-benar malam yang luar biasa dan sangat membahagiakan. Aku nggak nyangka akan mendapatkan kesempatan ini, makasih ya udah ngasih kado yang paling istimewa di hari ulang tahun aku. Saking bahagianya rasanya aku ingin menghentikan waktu di detik ini" ucap Elbram sambil menciumi rambut istrinya.


Selama ini, bisa membawa Safira kembali ke sisinya saja sudah sangat ia syukuri. Ia tak berani berandai-andai terlalu jauh.


Safira mengangguk, karena rasa haru membuat lidah nya terasa kelu untuk menjawab ungkapan Elbram yang Safira rasakan penuh ketulusan.


"Uda malam, kita istirahat ya?" ucap Elbram kemudian. Namun Safira merasa khawatir menyadari El bernafas dengan berat seolah tengah menahan sesuatu.


"Kamu sesak nafas El?" Tanya Safira polos, ia mengangkat wajah dan sebagian tubuhnya agar bisa menatap ke arah suaminya. Safira tak menyadari posisinya tersebut membuat bagian dadanya yang begitu menggoda terekspose dan semakin memancing hasrat yang sejak tadi El tahan.


"Nafas aku nggak sesak sayang, tapi ini" ucap Elbram dengan tatapan penuh arti sembari membawa tangan Safira pada miliknya yang kembali tegang.


Wajah Safira memerah seketika, ia kelabakan namun anehnya Safira malah menggenggam erat benda keras itu. El kembali menahan nafasnya, merasakan tangan halus Safira yang menggenggam erat senjata kebanggaannya itu membuat hasratnya kian meronta.


Safira segera melepaskan genggaman tangannya ketika menyadari apa yang sedang ia lakukan. Wajahnya memanas menahan rasa malu yang luar biasa. Ia yang salah tingkah segera merebahkan tubuhnya dan menelusup kan kepalanya pada bantal.


"Sayang, aku boleh nggak minta nambah kadonya?" Bisik Elbram sembari mengusap punggung istrinya. Sentuhan Elbram membuat Safira meremang. Namun ia tak bergeming, karena terlalu malu untuk menampakkan wajah pada suaminya.


"Boleh nggak? kalo nggak boleh nggak apa-apa. Tapi tidurnya jangan gini ya, sini peluk kayak tadi" Bujuk Elbram berusaha menekan hasratnya. Mendengar hal itu membuat Safira merasa tidak tega, El telah menunggunya terlalu lama untuk sampai pada tahap ini.


Safira membalikkan badannya, dan menatap malu-malu pada Elbram.


"Kamu boleh kalo mau ambil kado kamu lagi El" Wajah Elbram berbinar seketika mendapatkan respon baik istrinya.


"Beneran sayang?" ucapnya tak percaya. Safira mengangguk sambil tersipu. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Elbram segera melancarkan aksinya. Menikmati kado istimewa yang istrinya berikan yang ternyata tak cukup satu kali, ia terus dan terus menginginkan Safira.


🍁🍁🍁


Safira terbangun ketika mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera meraih ponselnya di nakas meski kantuk masih bergelayut.


"Fir kamu nggak ke toko?" Suara sahabatnya terdengar di seberang telefon.


"Ke toko Din nanti, ini masih terlalu pagi Din" jawab Safira dengan suara serak. Safira mendengar Dini malah tertawa.


"Hah yang bener Din udah hampir jam 10?" Mata Safira mendadak terbuka lebar, matanya menatap jam di dinding. Benar saja jarum jam sudah menunjukkan angka jam 10 kurang 5 menit.


"Semalam capek banget ya sampai jam segini aja belum bangun? agaknya rencana kemaren berhasil dong? semalam berapa ronde sih?" Goda Dini yang membuat Safira menutup mulutnya dengan wajah yang merona.


"Dini apaan sih"


"Udah aku matiin telfonnya ya, kamu nggak usah ke toko dulu. Aku yakin kamu juga nggak akan kuat. Pasti masih sakit juga buat jalan" Ucap Dini, ia langsung memutus sambungan telefon. Safira menghela nafas lega, beruntung memiliki partner seperti Dini yang sudah berpengalaman dan penuh pengertian.


Safira menatap ke samping nya, tak ada lagi Elbram di sana. Ia hanya sendirian di kamar ini dengan tubuh yang dibalut selimut. ia yakin Elbram sudah berangkat ke kantor tanpa membangunkannya. Ada rasa kecewa di hatinya karena El meninggalkannya begitu saja.


Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Safira melepaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia ingin segera mandi dan pergi ke toko meski Dini sudah melarang nya, berharap bisa mengalihkan rasa kecewanya.


Safira mendesis ketika mencoba berdiri setelah turun dari ranjang. Milik nya terasa begitu perih, belum lagi tubuhnya yang terasa sakit. Wajar saja, tadi malam El meminta tambahan tidak hanya satu kali.


"Hei sayang uda lama bangunnya?" El yang baru saja masuk ke kamar melangkah cepat ke arah Safira dengan wajah khawatir.


"Kamu nggak ke kantor El?" Tanya Safira mendapati Elbram dengan pakaian santainya. Rasa kecewa yang sempat bergelayut hilang seketika berganti rasa bahagia. Tadinya ia berfikir dirinya begitu menyedihkan, seperti wanita bayaran yang ketika selesai dinikmati langsung ditinggalkan begitu saja.


"Nggak sayang, aku uda izin nggak kerja dulu. Kamu mau mandi?"


"Iya El" Safira terduduk kembali menyadari dirinya yang tak tertutupi apapun. Ia ingin meraih selimut dan membungkus tubuhnya kembali.


"Kamu tunggu bentar, aku siapin air hangat biar nyaman" Ucap El langsung meninggalkan Safira menuju kamar mandi dan menyiapkan keperluan mandi istrinya. Tak sampai 5 menit El sudah kembali dan mendapati Safira sudah terbungkus selimut.


"Kenapa pake selimut lagi? kan mau mandi. Ayo lepas selimutnya sayang"


"Tapi kamu keluar dulu sana El" Meski tadi malam El sudah melihat keseluruhan dirinya, tapi tetap saja ia masih merasa malu.


El menggeleng, tanpa Safira duga pria itu melepaskan selimut yang melilit tubuhnya lalu segera menggendong dan membawanya menuju kamar mandi.


"El turunin aku, aku bisa jalan sendiri" Namun Safira malah melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Kamu pasti kesulitan jalan sayang" Bisik Elbram.


"Tadi kamu ke mana aja, aku kira kamu ninggalin aku ke kantor" Ucap Safira dengan manja, mendengar nada manja istrinya membuat hati Elbram menghangat.


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian sayang, tadi aku nyiapin sarapan." Dengan hati-hati El meletakkan Safira di bathtub yang sudah terisi air hangat.


"Kamu masak?"


"Enggak sayang, aku pesan. Kelamaan kalo masak, takut kamu uda bangun dan kelaparan" Safira tersenyum, menatap haru pada suaminya yang begitu perhatian dan penuh cinta.


🍁🍁🍁