Move On

Move On
Delapan Belas



Safira menatap lelah pada dekorasi kamar pengantinnya. Tiba-tiba ia ingin mengamuk dan menghancurkan semuanya, emosinya terasa meluap-luap.


Safira heran pada dirinya sendiri yang merasa teramat kesal melihat hiasan di kamar itu, terkesan norak dan menjijikkan di matanya.


"Apa kesehatan mental ku mulai terganggu?" Safira tersenyum pahit. Ia mulai meragukan kewarasan otaknya, selama ini ia tak pernah merasa marah untuk hal-hal yang tak terlalu penting dan remeh, namun sekarang? bisa-bisanya ia merasa semarah ini hanya karena melihat kelopak bunga mawar yang bertaburan membentuk lambang hati di ranjang serta hiasan-hiasan lainnya yang terasa mengganggu mata.


Safira menghela nafas berulang kali. Ia berusaha menenangkan dirinya. Berharap bisa mengembalikan kewarasan yang ia curigai sempat hilang dari dirinya.


Safira terlonjak saat merasakan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya diikuti aroma wangi yang begitu maskulin.


"El?" Safira berusaha melepaskan diri dari pelukan Elbram yang entah kapan datangnya. Dari aroma tubuh serta penampilannya Safira yakin Elbram telah selesai membersihkan tubuhnya entah di mana. Seingat Safira, tadi ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setibanya di kamar selepas acara resepsi karena rasa gerah yang tak tertahankan lagi. Tadi ia tak melihat siapapun di kamar ini selain dirinya, Safira sama sekali tak peduli akan keberadaan Elbram namun sekarang pria itu malah sudah berada di kamar yang sama dengan nya.


"El ngapain sih, lepasin!" Safira masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Elbram yang malah semakin erat.


"Aku ingin memeluk istriku apa itu salah?" Bisik Elbram begitu dekat di telinga Safira hingga tubuh gadis itu terasa meremang akibat hembusan nafas pria itu. Safira semakin getol dalam usaha nya untuk melepaskan diri.


"Aku sudah bilang jangan terlalu serius menanggapi pernikahan ini. Bagiku kamu tetaplah orang asing. Tolong jangan bersikap berlebihan seperti ini." Ucap Safira ketus. Elbram memutar tubuh Safira sehingga keduanya kini saling berhadapan. Namun tangan Elbram masih merengkuh erat lengan Safira.


"Sekuat apapun kamu menyangkal kamu tetaplah istriku Safira dan aku suamimu. Aku adalah bagian dari dirimu begitupun sebaliknya"


"Anggap pernikahan ini tak pernah terjadi El" lagi-lagi Safira melihat kilatan luka di mata Elbram ketika mendengar ucapannya.


"Aku berjanji di hadapan Tuhan Safira, mana mungkin aku bisa menyangkal pernikahan ini." Tegas pria itu dengan tatapan tajam nya.


"Pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bukan karena keinginan kita. Lagipula kamu sendiri kan yang bilang kalo di matamu aku ini seperti Dini, artinya aku ini adik bagimu kan El? tentu ada batasan perlakuan seorang kakak pada adiknya. Apa kamu bisa memperlakukan dan menganggap Dini sebagai seorang istri? bukankah itu aneh El?" Wajah Elbram memerah, tatapannya semakin tajam pada sang istri.


"Sudah kubilang, jangan menganggap serius ucapan ku dulu Safira. Karena apa yang terucap dulu tak semuanya berasal dari hatiku" Suara Elbram terdengar berat.


"Tapi sayangnya ucapan itu telah berhasil menembus dan menghancurkan hatiku El" lirih Safira.


"Aku akan merawat dan kembali memulihkan hatimu Safira. Beri aku kesempatan, percayalah padaku kali ini saja" rayu Elbram sendu. Tatapan mata Elbram terlihat bersungguh-sungguh, tak ada kilat keraguan di mata pria itu. Namun hati Safira tetap saja meragu.


Safira dengan cepat memalingkan wajahnya saat menyadari El mulai mendekatkan wajahnya. Kecupan Elbram yang semula ingin menyasar bibir Safira meleset dan hanya mengenai pipi. Tapi Elbram tak menyerah, ia menurunkan kecupannya hingga ke leher jenjang nan mulus milik istrinya.


"El jangan macam-macam" Safira begitu panik. Ia menahan wajah pria itu dengan kedua tangannya. Ia tak mau terbuai pada sentuhan Elbram dan ia tak sudi menyerahkan diri meski Elbram berhak atas dirinya.


"Aku suami mu Safira" Suara Elbram terdengar berat menandakan pria itu mulai tersulut gairah.


"Kamu milikku dan aku berhak mengambil apa yang sudah menjadi hak ku" Safira semakin kelabakan saat Elbram membawa tubuhnya rebah di ranjang yang mengakibatkan bunga-bunga yang menjadi hiasan ranjang kamar mereka hancur berserakan.


Safira menghembuskan nafasnya berulang kali, ia tak mau kalah dengan pria itu.


"Oke lakukanlah, lagipula aku sudah lama tidak merasakan sentuhan seorang pria di tubuhku. Aku penasaran bagaimana rasanya bermain dengan mu, apakah rasanya akan sama dengan 3 eh empat pria yang pernah meniduri ku" ucap Safira. Ia berusaha terlihat santai padahal jantung nya berdegup kencang.


"Kamu jangan sampai mengecewakanku ya El, karena 4 pria yang pernah tidur denganku semuanya begitu luar biasa dan mampu membuatku menjerit dengan sangat puas" lanjut Safira lagi. Semoga saja Elbram jijik dan menghentikan niatnya.


Benar saja, Elbram tampak terpaku dan wajahnya terlihat menegang. Safira bersorak di dalam hati, ia yakin harga diri pria itu terluka mendapati fakta bahwa istrinya telah ditiduri oleh pria lain. Safira berharap Elbram akan menceraikan nya saat itu juga.


Safira diam-diam menghela nafas lega saat Elbram menggulir tubuhnya dan beranjak. Pria itu duduk dan meremas rambutnya dengan frustasi.


"Kenapa berhenti El? kamu kaget ya? kamu jijik sama aku?" Tanya Safira, gadis itu menggigit bibirnya menahan senyum.


"Apa menurutmu aku percaya pada ucapan mu Safira? aku tau istriku sedang berbohong, aku yakin tubuhmu sedikitpun belum terjamah oleh pria manapun. Aku berhenti bukan karena aku percaya pada ucapan mu, aku hanya tak ingin semakin menyakitimu dengan memaksa mu meski aku berhak untuk itu" Elbram tersenyum namun senyumannya tak berhasil menutupi kesedihan di wajahnya.


Safira tak menyangka sandiwara yang ia kira sudah sangat meyakinkan begitu mudah terbaca oleh pria itu. Tapi setidaknya Elbram tau bahwa ia menolak untuk disentuh.


"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk memberikan hak ku Safira. Aku nggak akan memaksa kalau memang kamu nggak mau" Safira memalingkan wajahnya, tak berani membalas tatapan Elbram yang membuat hatinya tidak nyaman.


"Ini sudah sangat malam Safira, istirahatlah. Besok kita pulang" Ucap Elbram setelah keduanya larut dalam kebisuan beberapa saat. "Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, aku nggak mau tidur terpisah dari kamu"


"Aku nggak mau berbagi ranjang sama kamu El, aku akan tidur di sofa" Tolak Safira, gadis itu akan beranjak turun dari ranjang. Namun Elbram menahannya.


"Jangan keras kepala sayang, aku bisa saja memaksamu untuk segera memenuhi hak ku kalau kamu membantah permintaan ku" Ketegasan Elbram membuat nyali Safira menciut. Mau tidak mau ia menuruti permintaan Elbram daripada ia harus kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam dirinya. Ia harus tetap menjaga keutuhan itu, karena ia ingin memberikannya pada pria yang ia cintai.


🍁🍁🍁