
Setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam, diperoleh hasil bahwa kondisi Elbram cukup baik. Elbram sudah diperbolehkan untuk menjalani pemulihan di rumah. Sejak awal El memang sudah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja meski masih begitu lemas.
El dan Safira diantar oleh mama Sofia dan mama Sandra pulang ke apartemen.
"Mau sampai kapan tinggal di sini? kapan pindah ke rumah yang sudah kamu siapkan El?" Tanya mama Sofia. Padahal setau mereka sejak awal El dan Safira akan tinggal di rumah yang sengaja El siapkan sebelum mereka menikah. Kedua orang tua El maupun orang tua Safira tak tau apa yang menyebabkan El berubah fikiran sehingga mereka malah tinggal di apartemen.
"Nanti ma, setelah Safira melahirkan" jawab Elbram sekenanya. Safira memelototi El yang asal bicara. Safira ingin meralat ucapan suaminya namun sepertinya terlambat karena sang mama lebih dulu memotong ucapannya.
"Safira uda hamil?" Mama Sandra bertanya dengan mata berbinar bahagia begitupun mama Sofia yang ikut menatap penuh semangat pada sang menantu.
"Be-belum ma" Jawab Safira gugup.
"Iya Safira belum hamil. Ini masih terus diusahakan, para nenek diharapkan bersabar. Semoga tidak lama lagi cucu kalian akan segera hadir di sini" Tanpa Safira duga Elbram mengusap perut nya tak peduli wajah Safira yang telah berubah merah padam. Ada saja tingkah Elbram yang membuatnya mengusap dada.
"Kalian uda periksa ke dokter belum?" Tanya mama Sofia terlihat khawatir.
"Iya biar tau ada masalah nggak, kalian uda menikah berapa bulan kok belum hamil juga, mama Dulu cuma kosong satu bulan uda langsung hamil kamu loh sayang" Sambung mama Sandra yang membuat Safira meringis salah tingkah.
"Kita masih usaha secara mandiri dulu, nanti kalau uda 1 tahun baru periksa ke dokter. Ini juga alasan El dan Safira masih tinggal di sini supaya bisa berduaan tanpa ada gangguan dari asisten rumah tangga jadi bisa fokus program hamilnya. Kalau uda pindah ke rumah nggak mungkin nggak ada art, terlalu lelah kalo Safira mengurusnya sendirian" jelas Elbram. Safira sudah pasrah, membiarkan suaminya mengarang bebas semaunya. Lagi pula Elbram yang mengundang pembicaraan seperti ini jadi ia menyerahkan pada pria itu untuk menyelesaikannya.
"Ya sudah kalau memang begitu, mama doakan semoga Safira segera hamil. Ingat ya, kami selalu menantikan kabar baik dari kalian" Timpal mama Sandra.
"Siap ma, akan selalu kami usahakan agar berhasil secepatnya. Makanya kita butuh waktu berduaan. Jadi mama-mama bisa pulang sekarang, El dan Safira mau produksi calon cucu dulu buat kalian" Ucap El. Sontak saja Safira menatap tajam suaminya.
"Apaan sih El, suka asal kalo ngomong. Jangan didengerin ma El cuma bercanda" Ucap Safira panik. Berbeda dengan mama Sofia dan mama Sandra yang malah mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya. Mereka bisa merasakan kalau Elbram banyak berubah semenjak menikah dengan Safira. Ia lebih banyak berbicara ketimbang sebelumnya.
"Jadi kamu ngusir kita?"
"Bukan ngusir ma, cuma minta kesempatan berduaan sama Safira biar bisa bikin cucu buat mama. Katanya pengen cepat punya cucu" Safira memejamkan mata menahan perasaan yang campur aduk akibat ucapan suaminya. Safira tak habis fikir kenapa Elbram bisa mengatakan hal itu tanpa rasa malu sedikitpun.
"Ya sudah kalau begitu. Mungkin sebaiknya kami pulang dulu, tapi ingat El tenaga kamu jangan terlalu diforsir. Kamu masih dalam pemulihan, gak boleh terlalu kelelahan" Ucap mama Sofia masih menahan tawa.
Safira terpaku melihat mama dan mama mertuanya kompak meninggalkan mereka sambil tertawa. Kedua mama itu sama sekali tak tersinggung pada ucapan El yang mengusir mereka. Malah tampak senang hati menuruti.
"Kamu kenapa sih mulutnya nggak di sekolahin, masa orang tua yang sesekali datang diusir gitu" Sungut Safira.
"Tapi para mama nggak marah sayang, malah semangat banget mereka pergi untuk ngasih kesempatan supaya kita bisa berduaan. Itu tandanya mereka uda ngarep banget dapat cucu dari kita. Yuk sayang bikin bayi yuk?" El memainkan alisnya menggoda sang istri.
Safira terperangah, ia menutup mulutnya sambil menatap tak percaya pada suaminya. Ia tak menyangka El begitu enteng membahas hal yang masih sangat tabu bagi nya.
"Kamu nyebelin El" Safira meninggalkan Elbram dengan setengah berlari menuju kamarnya. Ia mengunci pintu sebelum El menyusul. Safira menyandarkan tubuhnya di belakang pintu sambil memegangi dadanya yang berdetak tak menentu. Wajahnya terasa memanas, sudut hatinya bergidik meresapi kalimat-kalimat yang terucap dari bibir suaminya.
"Sayang, aku cuma bercanda. Buka dong pintunya" Suara panggilan dan ketukan pintu membuat Safira semakin salah tingkah.
"Sayang masa suaminya dikunciin di luar, kan kata dokter aku harus banyak istirahat. Masa istirahatnya di sofa" Ucap Elbram berusaha membujuk agar Safira membukakan pintu kamar ia tau Safira tak akan tega membiarkannya beristirahat dengan tidak nyaman.
Safira kelabakan, ia belum siap berdekatan dengan El saat ini. Namun ia juga merasa iba karena El memang masih butuh istirahat.
"Makanya jangan nyebelin jadi orang" sungut Safira saat membukakan pintu untuk suaminya. Ia sengaja memasang wajah cemberut untuk menutupi rasa gugup yang menderanya.
"Bagian mana yang nyebelin? aku cuma berusaha memenuhi keinginan mama kita yang uda nggak sabar pengen gendong cucu dari kita sayang, biar dapat bayi ya kita mesti bikin" Elbram menarik tangan Safira dan membawanya ke ranjang.
"Ih kamu apa-apaan. Jangan coba macam-macam ya El" Safira berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Elbram. Bayangan yang tidak-tidak melintas si otaknya sehingga membuat detak jantung nya semakin menggila.
"Aku cuma bercanda sayang, aku nggak akan memaksa kamu kalau memang kamu belum siap. Semua akan kita lakukan berdasarkan persetujuan dari kamu. Kamu bisa pegang ucapan aku, jadi jangan khawatir ya. " Ucap Elbram sambil tersenyum. Wajah Safira terlihat begitu lucu saat sedang merasa gugup.
"Temenin aku istirahat ya? aku mau tidur sambil meluk kamu" lanjut Elbram, ia menarik lembut tubuh Safira agar rebah bersamanya. Safira hanya diam menuruti keinginan Elbram sembari berusaha menenangkan detak jantung nya.
Semenjak berbaikan dengan El Safira sering sekali merasakan jantung nya yang berdetak begitu cepat, ia juga kerapkali merasa salah tingkah saat El mengeluarkan kata-kata rayuan padanya.
"Aku sudah menantikan ini begitu lama sayang, aku nggak pernah berhenti berharap untuk bisa memeluk kamu seperti ini setiap saat." Bisik Elbram sambil mengeratkan pelukannya. Pria itu juga beberapa kali mendaratkan kecupan di kening dan puncak kepala Safira.
🍁🍁🍁🍁