Move On

Move On
Dua Puluh



Safira tersenyum kaku ketika membuka pintu dan mendapati Dini adik ipar nya.


"Aku ganggu nggak Fir?" Dini masih berdiri di tempatnya.


"Enggak, ayo masuk" Dini mengangguk dan melangkah masuk ke dalam apartemen Safira dan Elbram. Safira mengikuti di belakang setelah menutup pintu terlebih dahulu.


Safira berjalan ke dapur dan mengambilkan Dini segelas air putih. Sementara Dini berjalan ke arah sofa. "Elbram lagi belanja, di sini nggak ada persediaan minuman dan makanan apapun. Cuma ada air putih" Ucap Safira. Sebenarnya tadi Elbram mengajaknya untuk berbelanja namun Safira menolak. Ia masih enggan untuk menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana seharusnya. Safira juga merasa tidak nyaman berdekatan dengan Elbram, sebisa mungkin ia ingin menghindari segala bentuk interaksi dengan pria itu.


"Nggak apa-apa Fir" Dini menerima air putih yang Safira sodorkan. Suasana masih terasa kaku, seolah ada jarak yang terbentang antara keduanya. Tak ada sisah-sisah keakraban yang pernah terjalin di antara mereka dulu.


"Tadi abang minta aku datang untuk bantuin beres-beres dan bersih-bersih apartemen" Karena ada beberapa peralatan rumah tangga yang baru Elbram beli seperti kasur dan lemari pakaian yang lebih besar. Selama ini Elbram hanya hidup sendiri jadi tak terlalu banyak barang yang ia butuhkan berbeda dengan sekarang saat ia sudah berdua dengan Safira.


"Fir, kita bisa ngobrol nggak?" tanya Dini setelah keheningan sempat menyelimuti mereka, Safira mengernyitkan kening nya heran atas pertanyaan yang Dini lontarkan.


"Dari tadi bukannya kita uda ngobrol ya?" Tanya Safira. Dini tersenyum getir.


"Iya, maksud aku ngobrol yang lebih serius Safira. Ehmm Tentang kejadian 5 tahun yang lalu" ucap Dini sedikit ragu-ragu. Ia menatap takut pada kakak iparnya, raut wajah Safira berubah sendu dan menampakkan kepahitan mendalam. Dini berusaha meredam ketakutannya, ia sudah terlanjur membahasnya dan tak bisa mundur lagi.


"Safira, aku mau minta maaf untuk kejadian 5 tahun yang lalu. Aku sangat menyesali nya Fir" Lanjut Dini karena Safira tak kunjung menimpali ucapannya.


"Lupain Din, aku uda maafin kamu" jawab Safira datar. Ia memang sudah memaafkan Dini bahkan Maya dan Elbram. Tapi ia belum bisa melupakan bagaimana mereka mengkhianatinya dulu.


"Meskipun tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan apa yang aku lakukan dulu tapi aku sama sekali nggak bermaksud nyakitin hati kamu Fir. Saat kamu datang waktu itu aku juga sedang kalut, aku lagi bertengkar sama Romi karena sebuah fakta menyakitkan yang baru aku ketahui." Dini menghela nafasnya dan menatap pada Safira untuk melihat respon sahabatnya tersebut "Sebenarnya Romi diam-diam memendam perasaan ke kamu. Romi cinta sama kamu Fir" Dengan susah payah akhirnya Dini berhasil mengucapkan fakta menyakitkan yang begitu enggan untuk ia ingat kembali. Safira menatap tak percaya pada Dini, apa yang Dini ucapkan begitu sulit untuk ia terima. Namun mata Dini tak menunjukkan kebohongan sedikitpun.


"Sulit dipercaya kan Fir? aku mendapati banyak sekali foto kamu yang tersimpan di ponsel Romi yang dia ambil diam-diam. Awalnya Romi menyangkal, tapi karena aku terus maksa akhirnya Romi mengakui bahwa dia menyukai kamu, Kamu bisa bayangin gimana hancurnya hati aku saat itu Fir. Dia cinta sama kamu tapi dia macarin aku? padahal aku uda menaruh harapan yang besar pada Romi bahkan kami sudah berencana untuk menikah. Aku kecewa dan marah sama kamu Fir padahal kamu nggak salah dalam hal itu, aku nggak seharusnya melampiaskan kekecewaan aku pada Romi dengan melukai kamu. Harusnya kita saling menguatkan karena kita sedang sama-sama mengalami hal pahit. Aku benar-benar menyesal Safira. Betapa bodoh nya aku saat itu" Safira kehilangan kata, ia masih terlalu shock atas fakta yang baru ia ketahui. Safira baru sadar bahwa suami Dini bukanlah Romi, padahal dulu betapa lengketnya mereka seolah tak akan pernah terpisahkan.


"Aku tau Fir kamu nggak mungkin mengkhianati aku. Aku saja yang tak tau terima kasih malah menyakiti hati kamu. Padahal kamu uda jadi sahabat yang baik banget buat aku" Mata Dini basah, betapa selama ini ia sangat menyesali apa yang terjadi. Karena masalah tersebut 5 tahun yang lalu ia tak hanya kehilangan Romi namun juga kehilangan sahabat baiknya.


"Butuh berbulan-bulan untuk memulihkan hatiku saat itu. Duniaku benar-benar hancur. Namun akhirnya aku berhasil keluar dari rasa sakit, aku belajar untuk ikhlas. Aku juga sadar nggak seharusnya aku marah sama kamu karena itu sama sekali bukan salah kamu. Tapi saat aku ingin memperbaiki semuanya ternyata kamu menghilang, nomor kamu nggak aktif bahkan akun media sosial kamu ikut hilang. Aku sempat tanya pada mama kamu, tapi tante Sandra nggak mau kasih informasi apapun." Air mata Dini menyeruak semakin banyak, selama 5 tahun ini ia tersiksa oleh rasa bersalah dan penyesalan.


"Maafin aku Safira" ucap Dini terbata di sela isakan nya. Safira merangkul tubuh Dini dan memeluknya erat. Seketika semua rasa sakit yang ia rasakan atas ucapan Dini dulu benar-benar hilang. Safira dengan lapang dada berusaha memaklumi sikap Dini padanya dulu, rasa sakit terkadang mampu membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.


"Aku uda maafin kamu Din, maafin aku juga karena secara nggak langsung aku uda nyakitin kamu karena jadi penyebab hubungan kamu dan Romi hancur" Keduanya sama-sama menangis.


"Kamu nggak salah Safira, aku yang salah."


Safira melepaskan pelukannya pada Dini, gadis itu meraih wajah sahabatnya dan menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Dini.


"Lupain semuanya ya? kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita masih sahabat kan Din?" Dini membulatkan matanya, mendapatkan maaf dari Safira saja sudah sangat membahagiakan dan Safira masih bersedia menjadi sahabatnya?


"Kamu beneran masih mau bersahabat sama aku setelah apa yang aku lakuin dulu?" Tanya Dini ragu namun sekaligus berharap penuh.


"Iya, lupain semua yang menyakitkan di masa lalu Din. Kita fokus ke depan aja" Keduanya berpelukan kembali. Rasa lega merayapi hati mereka. Dini dan Safira tak pernah menyangka bahwa mereka bisa kembali merajut persahabatan setelah hubungan mereka sempat rusak dan hancur .


"Terima kasih karena sudah bersedia menjadi sahabat ku lagi Safira." Bisik Dini. Safira menganggukkan kepalanya berulang kali, sekarang beban nya sedikit berkurang.


🍁🍁🍁