Move On

Move On
Tiga Puluh Dua



Safira dibuat bingung pada kondisi yang tengah ia hadapi saat ini. Ia tak pernah berfikir kejadian ini akan menimpa Elbram. Ia memang sempat merasa marah dan benci pada pria itu bahkan mungkin hingga detik ini kemarahan itu belum sepenuhnya sirna.


Namun sedikitpun ia tak pernah berharap atau menginginkan sesuatu yang buruk menimpa Elbram semarah dan sesakit apapun ia pada suaminya itu selama ini.


Sepanjang perjalanan mama mertuanya terus menangis, papa mertua Safira sibuk menenangkan sang istri.


Sementara Safira hanya terpaku, ia sengaja mengosongkan otaknya agar tidak berfikir apapun untuk saat ini. Ia takut jika ia berfikir maka ia akan memikirkan sesuatu yang buruk tentang kondisi suaminya.


Ia tak berani membayangkan nya, ia memang sempat ingin berpisah dari Elbram dan tak ingin hidup bersama pria itu. Namun bukan berarti ia menginginkan Elbram pergi dari dunia ini, mungkin ia tak akan siap kehilangan pria itu dengan cara seperti ini.


Mereka tiba di daerah tempat Elbram mengalami musibah setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam lewat jalur udara dan jalur darat, rasa lelah seolah tak mereka rasakan karena beban yang menimpa mereka terasa jauh lebih berat.


Kedatangan mereka disambut oleh rekan kerja Elbram, mereka langsung di arahkan untuk pergi ke rumah di mana Elbram menginap selama berada di sini.


Di rumah itu ternyata sudah menunggu beberapa orang termasuk pejabat yang memimpin daerah tersebut.


Safira merasa gelisah, ia tak begitu siap mendengar penjelasan dari mereka. Ia takut akan ada kabar yang tak siap untuk ia dengar.


"Kami masih melakukan upaya pencarian, belum ada titik terang mengenai keberadaan dan kondisi pak Elbram dan ketiga pekerja tersebut. Tidak ada saksi mata yang dapat memastikan apakah mereka berhasil lari menyelamatkan diri atau..." Rekan kerja Elbram yang juga terlibat dalam proyek itu menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Atau apa?" Mama Elbram bertanya dengan tidak sabar. Suaranya bergetar menandakan wanita itu didera rasa khawatir yang besar. Papa Elbram berulang kali mengusap tangan istrinya untuk menenangkan.


"Atau tertimbun longsoran" ucap pria itu lemah. Terdengar jeritan tertahan mama Elbram mendengar penuturan pria itu.


Air mata Safira yang sejak mendapatkan berita hingga tiba di tempat ini tak keluar sedikitpun kini perlahan menyeruak menyusuri pipinya. Tubuhnya terasa gemetar, sudut hatinya seperti tertusuk.


"Sebenarnya saat pak Elbram akan pergi ke mata air kami sudah melarang karena melihat hari sudah mendung dan angin yang kencang menandakan akan turun hujan yang lebat. Tapi beliau tetap memaksa pergi, karena pak El katanya sekalian ingin mencari sinyal beliau ingin menghubungi istrinya. Pak Elbram takut istrinya menunggu kabar dari nya karena selama tiga hari di sini terlalu sibuk sehingga tak sempat menghubungi istrinya" ujar rekan kerja Elbram lagi.


Safira semakin tercekat, sekarang keadaan berbalik. Semesta seolah ingin menyudutkan nya dengan kejadian ini. Apa sikapnya selama ini sudah benar-benar keterlaluan pada Elbram sehingga ia seakan tengah dihukum dengan musibah ini?


"Selamatkan anak saya, tolong cari sampai ketemu" ucap mama mertua Safira, suaranya melemah karena sudah terlalu banyak menangis.


"Apa aku boleh ikut mencari?" tanya Safira sembari menghapus air matanya.


"Nggak sayang, kita tunggu saja di sini. Akan sangat berbahaya. Kita nggak tau daerah sini. Sebentar lagi El akan ketemu, mama yakin itu sayang" Larang mama Elbram. Meski ia terlihat lemah namun wanita paruh baya itu berusaha menguatkan Safira.


"Kalau hanya menunggu, lalu untuk apa kita datang ke sini ma, pa?" Safira tak ingin merasakan rasa bersalah terlalu lama. Safira ingin Elbram segera ditemukan dalam keadaan hidup agar ia bisa tenang.


🍁🍁🍁


Safira menatap sekeliling kamar tempat Elbram tidur selama berada di tempat ini. Ia meraih baju suaminya yang terletak di atas koper lalu menciumnya, masih ada aroma Elbram di sana.


Tanpa sadar Safira memeluk erat baju itu sembari terus menyesap aroma tubuh Elbram yang tertinggal di sana.


"Hei, cepatlah pulang El. Tepati janjimu" Gumam Safira sembari membayangkan wajah suaminya. Ia ingin sekali ikut melakukan pencarian karena tak sabar menunggu tanpa kepastian seperti ini.


Namun tak ada seorang pun yang memperbolehkan nya karena beralasan dirinya adalah seorang perempuan dari kota yang tak terbiasa dengan perbukitan yang terjal. akan sangat berbahaya untuk keselamatannya jika dia ikut memaksa melakukan pencarian.


Safira mau tidak mau menurutinya, padahal ia yakin akan kemampuan dirinya. Ia merasa tak selemah itu. Keinginan nya untuk segera menemukan Elbram rasanya mampu menepis segala keterbatasan nya.


"Dari dulu kamu selalu saja membuatku menunggu El. Kamu benar-benar jahat. Aku sangat membenci kamu. Kamu terlalu sering menyiksaku, apa melihatku sedih begitu menyenangkan bagimu El?" Umpat Safira namun air matanya mengalir.


Setelah lima tahun, ini kali pertama ia begitu ingin melihat wajah Elbram. Ia tiba-tiba merindukan senyuman suaminya yang sebelumnya ia rasa sangat menyebalkan. Ia sangat ingin mendengar rayuan-rayuan yang biasanya begitu memuakkan.


"Jangan lemah El, pulanglah. Kamu baik-baik aja kan? tentu saja kamu harus baik-baik aja. Aku nggak mau tau!" gerutu Safira lagi. Ia terus berbicara untuk melawan bayangan buruk yang mencoba menguasainya.


"Aku memang benci sama kamu El, tapi aku nggak mau kamu mati. Aku belum puas melampiaskan rasa sakit hatiku padamu, jadi kamu harus tetap hidup dan cepat kembali agar kamu bisa terus merasakan siksaan dariku" Safira mulai terisak. Ia merasa putus asa, sekuat apapun ia menolak namun bayangan buruk itu tetap mencoba memasuki jiwanya, Safira merasa sangat tersiksa.


Ternyata rasa sakit nya menantikan kepastian status dari Elbram lima tahun yang lalu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Menunggu kabar hidup dan matinya Elbram terasa lebih menyesakkan dibandingkan saat melihat Elbram berciuman dengan Maya.


Safira benar-benar tak ingin Elbram mati. Ia mungkin sudah tak mencintai pria itu lagi, tapi tanpa keberadaan Elbram juga begitu meresahkan hatinya.


Akan seperti apapun kisah mereka nantinya yang terpenting bagi Safira saat ini adalah Elbram kembali dalam keadaan selamat. Atau ia akan merasa tersiksa rasa bersalah hingga helaan nafas terakhirnya.


Rasa lelah memaksa Safira merebahkan tubuhnya di kasur yang begitu sederhana. Ia masih memeluk baju Elbram yang basah terkena air matanya.


"El saat aku bangun nanti kamu sudah harus ada di sini. Aku nggak mau menunggu lebih lama lagi. Aku nggak kuat El" Bisik Safira, Gadis itu mulai memejamkan matanya berharap rasa penat yang mendera segera sirna.


🍁🍁🍁