
Viona melihat sekeliling apartemennya. Tidak ada Rayn disana. Vio memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dulu, dan setelahnya itu, dia langsung menyusul Rayn ke unit apartemen pria itu.
''Udah tidur ternyata,'' Vio tersenyum, melangkah mendekat pada Rayn yang tidur dalam posisi miring, membelakangi pintu kamarnya.
''Tumben banget udah tidur jam segini.'' Viona duduk di tepi ranjang, dia memperhatikan wajah Rayn dengan saksama. Sudahlah, mungkin dia bisa menjelaskan tentang Kevin besok pagi, pikir Viona yang memang datang untuk menjelaskan tentang dia yang pergi makan bersama dengan teman-teman Kevin.
Viona tidak ingin menyembunyikan hal itu dari Rayn, dia tidak ingin Rayn salah paham kalau misalnya mendengar hal ini dari orang lain.
''Selamat tidur.'' Viona berbisik, mencium singkat kening Rayn, sebelum kembali keluar dari kamar pria itu.
Saat Vio keluar, Rayn kembali membuka matanya. Tadi, dia hanya pura-pura tidur. Pria itu membalik badannya, memperhatikan pintu kamar yang baru tertutup. Rayn sedih, teringat tentang apa yang tadi dia lihat di depan lobby apartemen.
Rayn jadi bingung, bertanya-tanya tentang alasan sebenarnya kenapa Vio mau kembali padanya, sedangkan wanita itu masih ingin bersama Kevin. Kejadia tadi, semakin memperkuat keragu-raguan Rayn.
Viona sudah selesai bersiap-siap. Tumben sekali Rayn tidak menghampirinya, pikir Vio.
Vio mengambil ponselnya, melihat ada chat yang Rayn kirim sejak 1 jam yang lalu.
[Vi, hari ini aku ada kerjaan penting, nggak bisa nganter kamu]
Itu isi chat Rayn. Vio tidak berpikir aneh tentang chat itu, karena dia memaklumi dan mendukung pekerjaan Rayn, seperti Rayn yang selalu mendukungnya selama ini.
''Kev, kok disini?'' Vio agak kaget, melihat Kevin yang tiba-tiba muncul di depan butiknya.
''Vi, aku mau bikin jas, kamu yang buatin bisa kan? Rencananya mau aku pake 2 minggu lagi.''
''Bisa-bisa kok Kev.'' Vio kembali mengajak Kevin masuk ke ruangannya. Dia tidak mungkin menolak pelanggan kan?
Sabila hanya bisa menggeleng. Dia rasa, hal itu lama kelamaan akan jadi masalah dalam hubungan Viona dan Rayn. Karena walau bagaimana pun, nggak akan ada orang yang mau dan suka pasangannya masih berhubungan dengan mantan kekasih, apalagi untuk kasus Viona dan Kevin.
Di luar butik, lagi dan lagi Rayn kembali melihat Viona dan Kevin. Tadinya, dia datang dan berniat membicarakan hal semalam, tapi kedatangannya ternyata malah memperbesar rasa kecewanya.
''Itu bukannya Rayn ya?'' Sabila sempat melihat sekilas, sebelum mobil Rayn berlalu meninggalkan area butik.
Di ruangannya, Vio dan Kevin sedang membahas tentang jas yang Kevin inginkan. Viona tidak perlu mengambil ukuran Kevin lagi, karena memang dia sudah sangat hafal hal itu. Dulu, Vio juga sering membuatkan jas atau pakaian santai untuk Kevin.
Sabila masuk ke ruangan Vio, begitu melihat Kevin keluar dari butik.
''Vi, bisa ngomong bentar nggak?''
Vio mengangguk. ''Ada apa sih, serius banget.''
''Tadi aku liat Rayn depan butik, pas kamu masuk sama Kevin tadi. Vi, kamu yakin ini nggak akan jadi masalah untuk kalian?''
Viona diam sejenak. ''Rayn datang? Tapi kenapa dia nggak masuk?'' gumamnya.
''Vi.'' Sabila memanggil, karena melihat Viona yang malah ngelamun.
''Aku belum cerita tentang hal ini sama Rayn sih. Oh ya, yang tadi kamu liat, beneran Rayn?''
Sabila mengangguk. Dia yakin sekali kalau itu benar-benar mobilnya Rayn. ''Yakin Vi.''
Vio hanya mengangguk beberapa kali. Tidak berapa lama, dia sudah menyuruh Sabila untuk kembali bekerja dan jangan terlalu memikirkan hal itu. Dia yakin Rayn akan mengerti jika sudah dijelaskan nanti.
Sepeninggalan Sabila, Vio langsung mengambil ponselnya, memeriksa apakah ada chat atau panggilan masuk dari Rayn tapi nggak ada sama sekali.
Vio pun memutuskan untuk menelpon Rayn. Hanya butuh beberapa detik sampai Rayn mengangkat panggilan teleponnya.
''Iya, kenapa Vi?''
''Nanti siang sibuk nggak, makan bareng yuk.''
Rayn pun menyetujui dan Vio kembali melanjutkan pekerjaannya. Berbeda dengan Rayn yang malah kembali termenung, menatap walpaper ponselnya yang diatur dengan menggunakan foto Vio yang sedang tertawa bahagia.
Seperti rencana mereka, siang ini Vio dan Rayn makan bersama di sebuah cafe. Tadi, Rayn tidak datang menjemput Vio.
''Apa kabar Vi?''
Kening Viona mengerut. Kenapa Rayn jadi kaku seperti ini? Dia memandang Rayn dengan tatapan herannya, pria itu tidak bersikap seperti biasanya. Rayn terkesan menjaga jarak darinya.
''Viona, pak Rayn, kalian saling kenal?'' Endar klien Rayn datang menghampiri. Endar ini juga sahabatnya Kevin.
Vio hanya bisa memberikan senyum paksanya. Dalam hati, dia berharap agar Endar tidak membahas tentang Kevin atau apapun yang berhubungan dengan pria itu. Bukannya apa, tapi kan Vio belum sempat menjelaskan tentang kejadian tadi malam pada Rayn. Vio takut Rayn akan salah paham.
Dan ....
''Vi, Kevinnya mana?''
Vio hanya tersenyum datar, enggan untuk menjawab.
''Pak Endar kenal calon istri saya?'' Rayn bertanya.
''Calon istri? siapa, Viona?'' Endar agak terkejut, apalagi saat melihat Rayn yang menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaannya tadi.
''Vi, kamu bukannya tunangannya Kevin?''
''Maaf pak Endar, mungkin pak Endar salah orang. Wanita ini calon istri saya. Dia memang pernah bertunangan dengan orang lain, tapi sekarang tidak lagi.'' Nada bicara Rayn agak ketus. Dia hanya tidak suka mendengar nama Kevin, Kevin dan Kevin lagi.
''Maaf pak Rayn, saya tidak bermaksud.'' Endar langsung meminta maaf. Sudahlah, dia tidak peduli tentang Vio tunangannya Kevin ataupun calon istrinya Rayn, yang jelas, dia harus menyelamatkan perusahaannya yang baru beberapa minggu ini berkerja sama dengan perusahaan Rayn.
''Vi, bisa jelasin?'' tanya Rayn begitu Endar pergi. Rayn jelas tau kalau Vio masih sering jalan dengan Kevin, tapi dia tidak pernah menyangka kalau keduanya masih mengaku sebagai tunangan.
''Ray.'' Vio mengambil tangan Rayn untuk dia genggam. ''Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, semalam aku udah nggak jujur.'' Vio menjeda ucapannya. ''Semalam, pas kamu jemput aku dibutik, saat itu aku lagi sama Kevin, lagi nemenin dia ketemu teman-temannya. Tapi sumpah deh, aku hanya nemenin dia kok, beneran. Maaf ya, kalau udah nggak jujur.''
''Terus, kalau masalah ciuman, gimana cara kamu ngejelasinnya?'' Kekesalan Rayn belum berkurang barang sepersen pun.
''Ciuman? Siapa yang ciuman Ray?''
Rayn menghembuskan nafasnya kasar. Rahangnya mengeras, menahan rasa kesal, saat teringat kejadian semalam lagi.
''Jujur sama aku Vi, kamu masih suka sama Kevin?''
Vio menggeleng. ''Kalau aku suka sama Kevin, aku nggak mungkin ada disini sekarang, duduk sama kamu Rayn.''
Rayn tertawa kecut. ''Jadi maksudnya kamu menyukaiku, begitu?''
Vio mengangguk, mengiyakan.
''Kalau kamu beneran suka sama aku, kamu nggak mungkin ikut dia semalam Vi dan kamu nggak mungkin ciuman seperti semalam.''
Vio sadar sepertinya Rayn sedang mengungkapkan rasa tidak sukanya tentang Vio yang masih bertemu Kevin, tapi kenapa tiba-tiba membahas ciuman? Vio kurang mengerti hal itu.
Bersambung .....