
''Kamu lagi ngomongin apa sih Ray? Ciuman, emang siapa yang ciuman?''
Semakin kesal saja Rayn. Pria itu berpikir kalau Viona sedang mencoba menutupi hal tersebut darinya.
Viona memperhatikan perubahan ekspresi Rayn yang terlihat bertambah kesal, karena uacapannya barusan.
''Ray, ada apa? Kamu masih marah saa aku?''
''Vi kamu tuh kalo ngomong mikir dulu. Kamu pikir di dunia ini ada orang yang senang melihat pacarnya berciuman dengan pria lain?'' Rayn hampir kehilangan kontrol, dia berbicara dengan nada sedikit tinggi. Para pengunjung cafe pun sudah melihat ke arah mereka, karena suara besar Rayn tadi.
''Oke aku tau aku salah, harusnya aku nggak mengiyakan, saat Kevin mengajakku bertemu dengan teman-temennya. Tapi, Ray, dari tadi kamu terus membahas tentang ciuman, ciuman apa yang kamu maksud?''
Rayn memejamkan matanya selama beberapa detik, mencoba untuk menanangkan dirinya. ''Aku tau Vi, aku liat semuanya. Kamu nggak perlu menutupinya lagi.''
Semakin bingung saja Viona. Ini sebenarnya Rayn sedang membicarakan tentang ciuman siapa sih?
''Aku udah jujur sama kamu Ray, nggak ada lagi yang aku sembunyiin dari kamu.'' Tiba-tiba Vio terpikir akan kotak yang semalam Kevin kasih.
''Semalam, Kevin juga memberiku sebuah kalung, tapi sumpah, aku sudah mengembalikannya tadi pagi, aku tidak menerimanya.''
Kotak kecil yang semalam Kevin kasih ternyata berisi sebuah kalung dan Vio rasa dia tidak bisa menerimanya, makanya tadi pagi dia mengembalikan kalung itu lagi pada Kevin.
''Dia memberimu kalung?''
Vio mengangguk. ''Tapi sudah aku kembalikan. Ray, aku udah menjelaskan semuanya, nggak ada lagi yang aku tutupin dari kamu dan kedepannya, aku janji akan lebih mempertimbangkan perasaan kamu, aku akan menjaga jarak dengan Kevin dan sekali lagi aku minta maaf, karena sudah bohong semalam.''
''Kamu melewatkan satu hal Vi, kamu nggak ebnar-benar jujur sama aku.'' Rayn menatap Viona sendu.
''Ray?'' Viona memperhatikan ekspresi Rayn yang nampak penuh kekecewaaan. Viona tidak suka cara Rayn manatapnya, tapi dia sadar, kalau dialah penyebab semua ini terjadi.
''Maaf Vi, aku harus balik kantor sekarang.'' Rayn berdiri dan pergi begitu saja. Vio langsung menyusul, karena tau Rayn masih kesal padanya.
''Ray.'' Vio menghentikan Rayn yang akan masuk ke mobil. Wanita itu perlahan melangkah, memeluk Rayn dan kembali meminta maaf.
''Maaf kalau lagi dan lagi, aku kembali bikin kamu kecewa.'' Vio menahan air matanya, tapi tidak bisa. Dia merasa sedih, melihat Rayn yang pergi dalam keadaan marah seperti ini.
''Ray.''
''Maaf Vi, aku masih punya kerjaan penting.'' Rayn akan melepaskan tangan Vio, tapi Vio menggeleng dan lebih mempererat pelukannya.
''Nggak akan, kamu nggak bisa pergi kalau lagi marah kayak gini. Ray, aku tau kamu mau menghindar dari aku.''
''Ray.''
Perlahan, Rayn pun mulai membalik badannya, menatap mata Vio yang sudah berkaca.
''Maafin aku,'' ucap Vio lagi.
''Aku kecewa Vi, sakit hati aku tiap kali mengingat kejadian semalam, saat kamu dengan santainya berciuman dengan kevin. Ada aku Vi, aku ada disana, melihat semuanya dengan jelas.''
Vio malah diam, mencerna apa yang baru Rayn katakan. ''Ciuman? aku nggak ciuman sama Kevin,'' ucapnya diiringi gelengan kepala.
''Aku lihat semuanya Vi, kamu masih mau bohong juga?''
Viona kembali menggeleng. ''Aku nggak bohong, aku benar-benar nggak melakukan itu Ray.''
Rayn semakin kesal, dia masih berpikir kalau Vio membohonginya.
Rayn menarik nafasnya kasar, dia membalik badannya dengan tangan yang diletakan di pinggang. Ingin sekali dia berteriak, saking kesal karena ketidakjujuran Vio.
Vio terus memperhatikan Rayn. Dia tidak pernah menyangka, hal yang dia anggap sepeleh ternyata malah menimbulkan masalah yang besar pada hubungannya dan Rayn. Tadinya Vio berpikir kalau Rayn pasti tidak akan keberatan tentang dia yang masih berhubungan dengan Kevin.
Vio kaget, saat tiba-tiba Rayn menutup pintu mobil dengan kuat. Pria itu pergi dan meninggalkannya.
Sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat Vio dan Rayn bertengkar tadi. ''Bagus juga rencanamu.'' Kevin menyeringai, menatap Febby yang duduk di kursi pengemudi. Ya, rencana mereka berhasil, Rayn dan Vio bertengkar hebat dan mungkin sebentar lagi akan putus.
Mengajak Vio bertemu dengan teman-temannya memang sudah di rencanakan oleh Febby dan Kevin. Tapi, kalau masalalah tentang Kevin yang berpura-pura seolah sedang mencium Vio, itu adalah sebuah rencana dadakan, karena kehadiran tiba-tiba Rayn.
''Aku jamin, mereka akan berpisah sebentar lagi,'' ucap Febby dengan percaya diri.
Awalnya, Kevin ingin bertindak sendiri, tapi karena Febby datang menawarkan bantuan, Kevin pun mengiyakan. Apalagi mengingat mereka punya tujuan yang sama, yaitu memasihkan Rayn dan Vio.
Rayn baru sampai di ruangannya. Disaat yang sama, Vio juga baru tiba di depan lobby perusahaan Rayn. Vio tidak tenang, dia akan terus meminta maaf sampai Rayn mau memafkannya.
''Ray,'' ucap Vio membuka ruangan Rayn. Dia melihat pria itu sedang berdiri menatap jendela kaca.
''Vi?'' Sebenarnya, Rayn dapat melihat bagaimana upaya Vio dalam meminta maaf padanya. Wanita itu terlihat serius, tapi kenapa? Kenapa Vio tidak jujur tentang ciuman itu? Itu yang bikin Rayn sakit hati dan kecewa.
''Ray, aku minta maaf kalau aku nyusul kamu sampai kesini, aku hanya nggak mau kita terus bertengkar seperti ini. Tolong kasih tau aku, apa yang harus aku lakukan, supaya kamu mau memafkan aku?'' Vio berjalan mendekat pada Rayn, berhenti tepat di depan Rayn.
''Kamu nggak perlu melakukan apa-apa, aku hanya mau kamu jujur tapi dari tadi kamu terus mengelak Vi.'' Rayn mendudukan tubuhnya kasar pada sofa. Vio pun ikut duduk disamping pria itu.
''Aku udah ceritain semuanya Ray, nggak ada yang aku tutupin dari kamu, nggak ada.''
''Tentang ciuman semalam, kenapa kamu nggak mau jujur tentang itu?''
''Ciuman apa Ray, aku nggak ngerti.''
''Di depan lobby apartemen Viona, aku liat kamu ciuman sama pria itu!'' Rayn kembali berteriak, melampiaskan rasa kesalnya karena Vio yang terus menerus mengelak.
Vio menggeleng. ''Aku sama sekali nggak ada melakukan hal seperti itu Ray. Semalam dia nganterin aku dan ....'' Vio kembali mengingat, agar lebih rinci lagi penjelasannya. ''Oh iya dia sempat mengambil rambut rontokku.'' Tiba-tiba Vio terhenti, jangan-jangan, Rayn salah paham karena itu?
''Ray, kamu benar-benar liat aku ciuman sama Kevin. Kamu liat pas bibir aku sama bibir dia saling menyentuh? Nggak kan?'' Vio mengangkat tangan kanannya dan ditempelkan di bibirnya, seolah mempraktekan gaya dua orang yang sedang berciuman.''
Satu alis Rayn terangkat. Dia memang hanya melihat dari arah belakang semalam dan itu benar-benar terlihat seperti sedang berciuman kok.
''Rayn jawab aku dong.''
''Aku liat dari belakang.''
Vio menggeram kesal, dia membuang nafas berat dan langsung menatap tajam Rayn. Dia yakin pria itu sudah salah sangka. Mungkin saat Kevin mengambil rambut rontoknya, Rayn melihat itu seperti mereka sedang berciuman.
''Benar-benar ya kamu Ray, lain kali kalau ada masalah, kalau ada yang bikin kamu nggak senang, tanya baik-baik ke aku, jangan marah-marah nggak jelas gini, bikin kesal aja.'' Berbalik. Sekarang malah Vio yang memarahinya.
''Mak-maksud kamu?''
Vio pun kembali menceritakan, kali ini lebih rinci lagi, biar Rayn nggak salah sangka lagi.
''Jadi ...?''
Vio mendengus. Membuang tatapannya ke arah jendela kaca dan lebih memilih melihat langit, daripada melihat Rayn. Dia bukannya benar-benar kesal, Vio malah legah karena ternyata Rayn hanya salah paham padanya dan pastinya, hubungan mereka akan kembali membaik. Tapi, tetap saja, dia agak sedikit kesal pada sikap Rayn yang seperti ini.