Move On

Move On
Part 59



''Aku langsung pergi ya,'' ucap Rayn pada Vio. Vio baru saja turun dari mobilnya. Mereka sudah sampai di butik sekarang.


''Oh ya Vi.'' Vio mendekat lagi, berpikir ada yang mau Rayn sampaikan padanya dan ....


Cup


Rayn mengecup keningnya singkat, lalu tersenyum dan kembali pamit.


''Elah, masih pagi udah nebar keuwuan aja sih Vi bikin iri kaum jomblo aja.''


Sebagai sahabat, Sabila tentu sangat senang dan sangat mendukung hubungan Vio dan Rayn. Sabila ingin Vio bahagia, dengan siapapun itu.


Hehehhehe


Vio malah terkekeh. Tangannya dia lingkarkan ke lengan Sabila dan mereka pun mulai melangkah masuk ke butik,


Hari hampir siang dan Vio masih sibuk dengan pekerjaannya. Tadi pagi, Vio dan butiknya baru saja menerima pesanan khusus dari seoarang konglomerat yang akan menikah 6 bulan lagi.


Konglomerat itu mempercayakan wedding dressnya pada Vio. Katanya, dia sangat menyukai desain-desain Vio.


''Makan dulu Vi.'' Sabila datang dengan membawa makan siang.


Vio baru meletakan pensilnya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Rayn tertera disana.


''Hallo Vi, Hari ini aku nggak bisa jemput kamu ya, maaf.''


''Ya nggak pa-pa kali, aku udah gede, bisa pulang sendiri, nggak bakalan tersesat juga.''


Rayn terkekeh kecil. ''Yaudah aku tutup ya. Oh iya Vi, aku udah ngirimin makan siang ke butik, mungkin sebentar lagi sampai.'' Rayn pun mengakhiri panggilan teleponnya.


''Apa katanya?''


''Nggek bisa jemput. Oh ya Bil, katanya Rayn ngirim makan siang, aku ke depan dulu ya.''


Cepat-cepat Vio berlari keluar, hanya butuh 4 menit dan dia sudah kembali ke ruangannya.


''Vi.''


''Hhmm?''


''Besok malam aku mau ketemu gebetan baruku, doain ya.''


Viona menghentikan makannya, kepalanya dia putar mengarah pada Sabila yang duduk di sampingnya. Viona pikir hubungan Sabila dan Daniel telah membaik atau apa dia salah?


''Gebetan?''


Rasanya sudah lama Sabila tidak membahas tentang masalah percintaannya lagi, atau apa karena dia yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, sampai Sabila enggan untuk bercerita padanya?


Sabila mengangguk.


''Kamu sama Daniel bukannya...?''


Sabila tertawa kecil. ''Nggak ada apa-apa Vi. Hubungan kami hanya sebatas tetanggaan, nggak lebih dari itu. Lagian, dia juga nggak suka aku kan?''


Dapat Vio rasakan, ada sedikit nada sedih dalam ucapan Sabila. Wanita itu juga sempat menghembuskan nafas berat.


''Bill kamu ....?''


''Oh ya Vi gebetan baruku ini seorang model loh, kamu mau liat instagramnya nggak. Terkenal loh dia, followersnya banyak.'' Sabila mengalihkan pembicaraan. Wanita itu tau apa yang mau Viona tanya.


Cepat-cepat Sabila mengambil ponselnya, membuka akun yang dimaksud dan memperlihatkannya pada Viona. Bukannya melihat ke arah ponsel, Viona malah memperhatikan senyum Sabila yang sepertinya agak dipaksakan.


''Hebat kan dia. Bayangin deh Vi kalau aku jadi sama dia, beh....'' Sabila memberikan jempolnya.


''Dikenalin teman Vi.''


Viona mengangguk-ngangguk kecil dan mereka pun mulai makan lagi. Kalau ada yang bertanya dimana Karin? Dia lagi makan siang sama Acel. Maklumlah, baru jadian jadi masih anget-angetnya.


Jam 22.34


Viona baru sampai di apartemennya. Tadi, Vio pulang jam setengah 8 tapi mampir dulu untuk bertemu Anastasya. Katanya paruh baya itu ingin bertemu dengannya.


''Malam tan,'' sapa Vio mengambil duduk di depan Anastasya. Vio melirik, dia pikir papanya Rayn juga ikut.


''Om Al nya nggak ikut ya tan?''


Anastasya menggeleng. Memberikan buku menu pada Viona. Viona hanya memesan minum, karena tadi Rayn sudah mengantarkannya makan malam.


Anastasya memang sengaja ingin bertemu dengan Vio, hanya berdua saja, karena ada yang ingin dia sampaikan pada Viona.


''Vi.''


Viona melihat tangannya yang sudah digenggam Anastasya.


''Vi kamu sama Rayn baik-baik aja kan?''


Viona mengangguk. Agak bingung juga sih, kenapa tiba-tiba Anastasya bertanya tentang hal ini.


''Anak itu, dia beneran serius loh sama kamu. Dulu tante sama papanya sempat mikir kalo dia hanya main-main eh nggak taunya cinta mati.'' Wajah Anastasya berubah sendu. ''Vi, kamu bisa janji satu hal nggak sama tante?''


Vio mengangguk pelan.


''Kamu janji ya, jangan pernah tinggalin Rayn lagi. Tante nggak sanggup Vi, liat Rayn yang sehancur itu lagi dan tante harap, kali ini kamu benar-benar serius pada hubungan kalian. Kalian bisa bertengkar, ya itu kan wajar dalam sebuah hubungan tapi tidak untuk saling meninggalkan. Tante akui, waktu itu tante sempat kesal sama kamu, tapi semua itu hilang begitu saja, saat tante melihat Rayn yang kembali tersenyum karena kehadiran kamu lagi. Disini tante juga mau terimakasih banyak, karena kamu memilih kembali pada Rayn tapi tante mohon, apapun yang terjadi nanti, sebesar apapun masalah kalian nanti, tolong jangan pernah melepas tangan Rayn lagi. Kamu mungkin berpikir, kalau Rayn bisa dengan gampangnya melupakan kamu, tapi nggak Vi, anak itu hancur banget pas waktu kamu tinggalin. Jadi tante mohon sama kamu, tante nggak perlu apa-apa, nggak akan nuntut ini itu, nggak akan nuntut kalian untuk cepat menikah atau lain sebagainya hanya saja, tolong jangan tinggalkan Rayn lagi.''


Mata Vio mulai berkaca-kaca. Viona sadar dia sudah sangat menyakiti Rayn, tapi tidak pernah menyangka kalau Rayn akan secancur itu saat dia pergi. Hatinya terasa sakit, dadanya sesak, mengingat dan membayangkan bagaimana rapuhnya Rayn saat itu.


Beberapa kali Vio menggumamkan kata maaf, dia benar-benar minta maaf karena sudah bikin Rayn kecewa. Vio sadar selama ini selalu dia yang bikin Rayn kecewa dan dia sadar kalau dirinya belum pernah meminta maaf untuk itu.


''Vi, kok belum tidur?''


Cepat-cepat Rayn menghampiri. Vio, wanitanya itu duduk di sofa sambil menangis. Tangisanya pilu tanpa suara.


''Kenapa Vi, ada aapa?'' tanya Rayn dengan wajah kwawatirnya. Pria itu menangkup wajah Viona.


Viona tidak menjawab, dia menatap lama wajah Rayn, kira-kira hampir 3 menit lamanya.


''Maaf, maaf, maaf, maaf.'' Viona memeluk tubuh Rayn erat, beberapa kali dia mengucap kata maaf. Rayn ingin melepas pelukan, tapi Viona menggeleng dan semakin mempererat pelukannya. Air matanya semakin lancar mengalir, hingga sedikit membasahi kemeja Rayn.


''Ada apa hhmm?'' Rayn mengelus lembut punggung Viona. Rayn pikir, Viona menangis karena teringat Kevin lagi.


Ya, pria itu masih terganggu dengan kehadiran Kevin, dia belum benar-benar yakin akan cinta Viona padanya. Rayn tau bagaiamana besarnya cinta Viona pada Kevin dan itu yang membuatnya ragu. Dan kata maaf dari Viona agak membuatnya takut, takut kalau Viona meminta maaf karena berniat meninggalkannya lagi.


''Maaf Ray.''


Hampir 20 menit Rayn membiarkan Viona memeluknya. Tidak ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulut keduanya, mereka hanya saling memeluk, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Perlahan, Vio mulai memberi jarak, wanita itu menengadah, menatap prianya yang juga sedang memandangnya. ''Maaf,'' ucapnya lagi.


Rayn berusaha tersenyum, walau dalam hatinya dia sedang ketakutan.


''Ray, ayo kita menikah.''


Bersambung .....