
"Saya dengar kamu menawarkan kerja sama dengan istri dan adik saya, saya harap penawaran itu murni untuk kerja sama secara profesional dan tidak ada niat terselubung dibalik penawaran itu." Ucap Elbram dengan penuh penekanan saat berpapasan dengan Romi yang datang ke kantornya. Tatapan El begitu tajam menunjukkan betapa ia tak rela sang istri menjalin kerja sama dalam bentuk apapun dengan pria di hadapannya ini.
"Harusnya kamu tak perlu meragukan aku, selama ini aku selalu profesional dalam bekerja. Tak sekalipun aku mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjan. Tapi sayang nya niat ku kalian tangkap berbeda. Jangan khawatir, kerja sama itu tidak akan terjadi" Jawab Romi sambil tersenyum masam.
"Maksud kamu?" tanya El dengan kening berkerut.
"Safira dan Dini menolak kerja sama itu. Aku harap kamu bisa tenang sekarang" Romi kembali menyunggingkan senyum masam sebelum pria tersebut berlalu dari hadapan Elbram yang masih berusaha mencerna ucapan Romi.
Elbram belum mendengar cerita Safira mengenai kelanjutan kerja sama yang Romi tawarkan. Saat bersama mereka terlalu larut dalam kemesraan dan percintaan penuh hasrat sehingga mereka seolah tak memiliki waktu untuk membahas hal-hal yang terlalu berat. Setiap detik kebersamaan nya dan Safira selalu ingin El habiskan dengan hal-hal manis yang El harapkan bisa terus menumbuh suburkan cinta di hati sang istri. Meski Safira telah membalas cinta nya namun El masih belum sepenuhnya tenang, ia masih belum terlalu percaya diri.
El merasa tak sabar untuk segera pulang dan menemui istri tercintanya. Ia ingin mendengar alasan Safira menolak kerja sama dengan Romi padahal sebelumnya sang istri terlihat begitu tertarik pada penawaran kerja sama yang diajukan Romi.
🍁🍁🍁
Elbram terpana melihat pemandangan di depannya saat memasuki toko bunga istrinya. Pria itu memang langsung datang ke Sunny Florist selepas jam kantor berakhir karena sudah tidak sabar untuk bertemu Safira.
Terlihat istrinya sedang bercengkrama dengan sepasang laki-laki dan perempuan yang tak asing di mata pria itu.
Elbram tersenyum kecut ke arah Safira yang tiba-tiba melihat ke arahnya, wajah Safira yang terlihat salah tingkah membuat hati Elbram tak nyaman.
"El uda pulang?" Tanya Safira, Elbram mengangguk. Pria itu tersenyum sambil melangkah ke arah Safira yang tak beranjak dari duduk nya. Laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol dengan istrinya juga melihat ke arah Elbram dan melemparkan senyuman ramah.
"Ini suami tante Safira ya?"
"I-iya Davina, kenalin ini Elbram suami aku. El kenalin ini Davina dan Zio bos aku waktu aku kerja selama 5 tahun ke belakang" Ucap Safira. Wajahnya terlihat tak enak hati pada Elbram.
"Senang bertemu kalian" balas El sambil menyalami Davina dan Zio bergantian.
"Ya senang bertemu kalian juga" Balas Zio. Elbram menatap pria di hadapannya, pria yang El ingat pernah dicintai oleh Safira. Ada ketidak relaan pada diri Elbram melihat istrinya bertemu dengan pria yang pernah mengisi hati istrinya.
Namun El berusaha menahan perasaan nya demi menjaga harga diri dan nama baik Safira di hadapan sepasang suami istri tersebut. Terlebih El dapat melihat betapa pria di hadapannya itu begitu memuja wanita dengan perut buncit di sampingnya. Bahkan tangan keduanya saling bertaut seolah enggan terlepas.
"Baiklah kami permisi dulu, istri saya butuh istirahat. Dia terlihat lelah" ucap Zio pada El dan Safira, pria itu kemudian beralih menatap sang istri dan menyuguhkan senyum hangat sambil mengusap pundak wanita yang begitu dicintainya itu.
"Terima kasih sudah mampir, hati-hati di jalan" Balas Safira, ia ikut berdiri saat Davina dan Zio beranjak dari duduk nya. Begitupun dengan Elbram. Pria itu mencuri pandang pada Safira, ia bisa menangkap sang istri terlihat tak nyaman. Lagi-lagi hati Elbram tergelitik, ia menduga Safira masih menyimpan rasa pada mantan atasan nya itu.
El merasa cemburu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, meski Safira menyatakan sudah membalas cintanya tetap saja El tak merasa percaya diri ketika berhadapan dengan Zio yang El akui begitu berwibawa dan terlihat gagah. Dari bahasa tubuhnya dan bagaimana pria itu memperlakukan Davina El yakin Zio adalah laki-laki yang begitu bertanggung jawab dan penuh cinta. Menyadari hal itu membuat perasaan nya kembali didera gelisah, takut Safira akan kembali terpikat pada pria itu.
"Iya sama-sama Davina, kalau ke kota ini lagi jangan lupa mampir ke sini ya" Balas Safira.
"Iya tante, semoga tante cepat hamil juga kayak aku ya" Balas Davina lagi sambil mengusap perutnya yang buncit. Davina terlihat begitu ceria, ia juga terlihat menggemaskan dan semakin menawan karena aura kehamilannya. Wajar saja jika Zio begitu memuja Davina, Safira bisa melihat jelas nyala cinta yang begitu terang di mata pria itu untuk Davina.
Safira menghela nafas lega setelah Davina dan Zio menghilang di balik pintu florist nya yang tertutup. Semua ekspresi Safira tak lepas dari pengamatan Elbram.
"Mereka kenapa bisa ada di sini?" Tanya Elbram, Safira tersenyum dan duduk kembali ke sofa sebelum menjawab pertanyaan suaminya. Safira menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Kamu mengundang mereka kemari?" Tanya Elbram lagi, pria itu terlihat tak sabar menantikan jawaban istrinya.
"Nggak, mereka datang kemari untuk membeli bunga karena mereka ke kota ini bertujuan untuk membesuk rekan bisnis pak Zio yang sedang sakit. Semua hanya kebetulan El. Mereka juga awalnya nggak tau kalo ini toko bunga aku dan Dini" ucap Safira. Wajah Safira yang terlihat sendu menyulut kecurigaan pada diri Elbram, terlebih saat ini Safira memejamkan matanya dan beberapa kali menghembuskan nafas lelah.
"Kamu masih menyimpan perasaan pada mantan bos mu itu sayang?" tanya Elbram lembut namun penuh penekanan. Pria itu bahkan menatap tajam pada Safira.
"Apa?" Safira membuka matanya dengan cepat dan menatap tak percaya pada suaminya.
"Sejak tadi aku perhatikan kamu seperti menyimpan kesedihan dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka yang terlihat begitu mesra" Ucap Elbram yang membuat mata Safira semakin membeliak.
"Kamu mengada-ada El. Aku sama sekali nggak ngerasa kayak gitu. Jujur sejak tadi aku tu ngerasa nggak enak badan El. Kepala aku rasanya berat banget" suara Safira melunak.
"Kamu sakit?" Elbram yang sempat tersulut cemburu berubah khawatir. Ia dengan sigap menempelkan punggung tangannya pada kening sang istri.
"Ayo kita ke dokter sekarang" Pria itu bahkan sudah menggendong tubuh Safira.
"Enggak usah El, aku cuma kelelahan aja kayaknya. Nanti juga enakan kalo uda istirahat. Kita langsung pulang aja ya?" Ucap Safira manja, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Elbram.
"Beneran langsung pulang aja?" Tanya Elbram ragu.
"Iya sayang, aku mau istirahat di rumah aja biar bisa tiduran sambil dipeluk kamu. Rasanya nyaman banget berada dalam pelukan kamu kayak gini" Elbram mengangguk sembari tersenyum, pria itu begitu bersemangat setelah mendengar ucapan istrinya.
🍁🍁🍁
Semoga nggak pada lupa sama mereka ya... 😘🥰