
Dengan dada bergemuruh karena luapan perasaan yang tak menentu Safira menatap haru pada alat tes kehamilan yang berada di dalam genggamannya. Safira tak menyangka percintaan nya dengan Elbram beberapa waktu ini nyatanya berhasil menghadirkan janin di rahimnya.
"Sayang, kamu kenapa ninggalin aku tidur sendirian" Bisik Elbram dengan suara seraknya bersamaan dengan lengan kokoh pria itu melingkar di perut wanitanya. Kantuk tampaknya masih bergelayut hingga tak menyadari apa yang tengah sang istri lakukan di kamar mandi pagi itu.
"Kalau masih mengantuk lanjut tidur aja El" Ucap Safira saat merasakan nafas halus Elbram menyapa lehernya.
"Ayo, aku maunya sama kamu. Ini masih terlalu pagi untuk mulai beraktivitas sayang" Bisik Elbram dengan suara yang dibuat manja. Elbram masih sering dihantui kepanikan jika tak menemukan Safira di sisinya, ia takut Safira meninggalkannya. Karena itu setiap kali menyadari Safira tak ada didekatnya ketika membuka mata ia akan cepat-cepat mencari keberadaan sang istri.
Safira tersenyum, ia berbalik menghadapkan tubuhnya ke arah sang suami.
"El, aku ingin memberitahu kamu sesuatu" Ucap Safira, ia tak mengerti kenapa tiba-tiba dirinya merasa gugup.
"Apa?" kali ini El menatap serius pada istrinya.
"Ini" Safira mengangkat alat tes kehamilan hingga sejajar dengan wajah suaminya. Kening El berkerut, berusaha mencerna apa yang istrinya maksud.
"A-aku hamil El" Lanjut Safira terbata. Ia memalingkan wajahnya tak berani menatap ke arah Elbram yang hanya terpaku memandangi benda kecil yang ada di tangan nya.
"E-El kamu marah?" Karena El tak kunjung merespon ucapannya Safira memberanikan diri untuk menatap pada El dan bertanya. Namun Safira terhenyak ketika melihat air mata yang mengalir di pipi sang suami, hal itu semakin membuat Safira dilanda kecemasan.
Belum hilang rasa cemasnya, Safira harus kembali tercekat ketika El dengan cepat menarik dirinya ke dalam pelukan pria itu. Elbram terisak, ia mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Safira.
"Ini bukan mimpi kan sayang?" Tanya Elbram di sela isakan nya.
Safira melepaskan diri dari rengkuhan suaminya, wanita itu meraih wajah El dan menghapus air mata pria itu. Mata Safira ikut berkaca-kaca, ia bisa merasakan luapan kebahagiaan suaminya dan itu membuatnya sangat lega.
"Ini nyata El, aku benar-benar hamil. Kita akan segera menjadi orang tua sayang. Kamu bahagia?" Tanya Safira dengan senyum yang mengembang namun ada buliran bening yang menyusuri pipinya.
"Tentu saja, aku sangat sangat sangat bahagia sayang, sampai aku kesulitan untuk mengekspresikan nya." Elbram menciumi wajah Safira, air mata keduanya semakin deras mengalir membasahi wajah sepasang suami istri tersebut.
Elbram merasa teramat bersyukur, Tuhan memberinya kesempatan untuk memiliki Safira kembali setelah 5 tahun kehilangan wanita nya, dan sekarang Tuhan kembali memberikan nya hal yang sungguh berharga dalam pernikahan mereka. Elbram merasa Tuhan teramat menyayanginya hingga memberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa.
Begitupun dengan Safira, dulu ia begitu membenci Elbram karena luka mendalam yang pria itu goreskan di hatinya. Namun tak disangka semesta kembali menyatukan mereka dan Elbram terus menghujaminya dengan kasih sayang tanpa henti hingga membuat rasa sakit di hatinya perlahan memudar dan sekarang benar-benar hilang. Bahkan kini ia merasa teramat bahagia diberi kesempatan mengandung benih yang Elbram semai.
🍁🍁🍁
Elbram memandangi wajah Safira yang tampak lelah setelah beberapa jam yang lalu berjuang menghadirkan buah hati mereka ke dunia ini. Yah, Safira baru saja melahirkan seorang putra yang wajahnya mewarisi ketampanan Elbram suaminya.
Elbram menggenggam dengan erat tangan Safira dan sesekali menciuminya. Beberapa jam yang lalu ia sangat ketakutan, ia takut Safira meninggalkannya. Menyaksikan bagaimana perjuangan Safira juga semakin menumbuh suburkan rasa cinta di hatinya. Pria itu semakin menyadari bahwa dirinya tak akan bisa hidup dengan baik tanpa Safira di sisinya.
Elbram mengusap rambut istrinya ketika melihat Safira perlahan membuka matanya.
"Kenapa bangun, ayo tidur lagi. Kamu butuh banyak istirahat sayang" Bisik pria itu.
"Aku uda tidur lama El, aku harus menyusui bayi kita" Tolak Safira meski tercetak jelas rasa lelah di wajahnya.
"Tapi dia juga lagi tidur sayang" Elbram membantu Safira untuk duduk setelah sebelumnya El menyusun bantal untuk Safira menyandarkan tubuhnya, lalu kemudian pria itu beranjak menuju box bayi mereka yang terletak di samping ranjang Safira.
"Bangunin El, kamu lupa ya dokternya bilang bayi kita harus disusuin setiap 2 jam sekali" ucap Safira.
Mata Safira berbinar ketika sang putra telah berpindah ke dalam dekapannya. Rasa letih dan mengantuk hilang begitu saja. Safira menciumi putranya untuk membangunkan lelaki kecil itu. Sementara Elbram menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. Pemandangan itu begitu indah bagi pria itu.
"Sangat berat tapi mau tidak mau aku harus ikhlas dia mengambil alih milikku" ucap Elbram saat melihat putranya mulai menyusu.
Safira mengernyit menatap suaminya, ia tak begitu paham apa yang Elbram maksudkan.
"Dia merebut nya dariku sayang" lanjut Elbram sembari menunjuk dada Safira, hal itu membuat wajah Safira memerah seketika.
"El apaan sih" Safira mengulum senyum, tak habis fikir pada tingkah suaminya tersebut.
"Kamu tetap cinta sama aku kan walaupun sekarang sudah ada putra kita?" Tanya Elbram kemudian, Safira menatap heran pada suaminya yang tampak begitu serius dengan ucapannya.
"Kamu lagi cemburu El? cemburu sama anak kita?" Safira terbelalak saat Elbram mengangguk dengan yakin.
"Lucu banget sih kamu, masa cemburu sama anak sendiri. Kan kamu sendiri yang bikin" Safira terkekeh.
"Kamu masih tetap cinta sama aku?" Safira menghela nafasnya, sepertinya El benar-benar butuh jawaban atas pertanyaan konyolnya.
"Kamu sayang nggak sama anak kita El?"
"Sayang, sayang banget" Meski bingung atas pertanyaan Safira namun El tetap menjawab pertanyaan tersebut.
"Terus setelah ada dia, kamu masih sayang nggak sama aku? masih cinta nggak?"
tanya Safira lagi.
"Tentu saja, bahkan rasa cinta dan sayang aku ke kamu semakin besar sayang" Jawab Elbram penuh kesungguhan.
"Jadi aku nggak perlu jawab pertanyaan kamu sebelumnya ya, karena jawaban nya sama seperti yang kamu ucapin" Balas Safira yang berhasil melukis senyum dengan binar bahagia di wajah Elbram.
"Terima kasih uda hadir di hidup aku Sayang. Kehadiran kalian berdua membuat aku merasa utuh dan sempurna" Bisik Elbram sembari memeluk Safira yang tengah menyusui buah hati mereka.
Safira dan buah hati mereka adalah sumber kebahagiaan bagi Elbram saat ini. Karena itu ia memberikan nama Yash Hilario pada putra pertama mereka yang bermakna kebahagiaan.
Elbram berharap kebahagiaan tak akan pernah beranjak dari hidup keluarga kecil mereka seperti doa yang ia sematkan dalam nama putra kecil nya dan Safira.
_______________The End ______________
Akhirnya... 😆😆😆
Maafin ya kalau banyak kekurangan... Author sadar n ngerasa banget novel "Move On" ini nggak maksimal sama sekali. Kesibukan di Real Life salah satu faktornya.
Author pernah cerita kan kalo di real life author ini juga kerja, bukan full ibu rumah tangga. Nah kalau sebelumnya waktu covid kerjanya nggak full, so banyak waktu luang buat nulis. Sementara sekarang semenjak Covid dinyatakan uda minggat kerjanya uda full dan itu nguras tenaga banget banget banget. Kebayang dong gimana rempong nya author sekarang? (bayangin bareng-bareng yokk 😆😆) tapi jujur niat buat ngehalu bareng kalian itu nggak pernah hilang, doain ya semoga bisa bagi-bagi waktu dan bisa kembali ngehalu bareng...
See u di kisah Rey dan Dara ya 🥰😍