Move On

Move On
Lima Puluh



"El, kamu mau ngapain?" Tanya Safira gugup ketika El bukannya keluar dari kamar mandi dan membiarkannya sendiri malah melepaskan pakaiannya. Pria itu sama sekali tak malu tampil polos di depan istrinya.


"Ikut kamu mandi" ucapnya tanpa beban. Pria itu langsung bergabung bersama Safira masuk ke dalam bathtub mengabaikan wajah istrinya yang memerah. Pria itu memposisikan diri di belakang sang istri.


"Kamu belum mandi memang nya?" tanya Safira terbata. Bulu kuduknya meremang merasakan hembusan nafas El yang terasa begitu dekat di lehernya.


"Sudah, tapi pengen ikutan mandi lagi. Kayaknya asik banget bisa mandi bareng kamu, sekalian biar aku bisa bantuin kamu mandi" ucap El lalu mencium leher Safira, kedua tangannya bertengger di pundak gadis itu.


"A-aku bisa kok El mandi sendiri" Safira memejamkan matanya, tubuh gadis itu menegang ketika El terus mendaratkan kecupan di sepanjang leher dan pundaknya. Terlebih saat merasakan milik El yang menegang menekan bagian pinggulnya.


"El mau ngapain" tanya gadis itu dengan suara yang sedikit mende sah menahan hasrat yang tiba-tiba bergejolak. Bayangan kenikmatan tadi malam menari-nari dalam benaknya hingga rasa letih akibat percintaan mereka yang sebelumnya begitu terasa kini seolah sirna. Tubuh Safira kini merindu rasa asing penuh kenikmatan seperti tadi malam.


El menyelipkan tangannya melewati ketiak istrinya. Safira sudah bisa menebak ke mana tujuan tangan itu, tentu saja bulatan padat miliknya menjadi sasaran pria itu.


"Arghh El..." Safira tak bisa lagi menahan erangan nya. Remasan pria itu mengalirkan gelenyar-gelenyar indah yang membuat dirinya basah.


El semakin bersemangat memilin puncak dada istrinya yang mengeras bergantian dengan remasan-remasan lembut, kecupan juga tak El hentikan sama sekali. Elbram lalu menurunkan satu tangannya menyusuri bagian perut Safira, mengusap lembut perut bawah gadis itu.


Safira yang merasa lemas menyandarkan tubuhnya pada Elbram, ia pasrah namun menanti tak sabar aksi Elbram selanjutnya. Safira menahan nafas, refleks merapatkan paha nya ketika jari-jari panjang Elbram menyibak miliknya.


"Jangan ditutup sayang" bisik El tepat di telinga Safira. Meminta Safira membuka kembali pahanya. Gadis itu tak berdaya, menuruti permintaan Elbram dan membiarkan pria itu melakukan apa yang ia mau. Safira menunggu dengan gelisah.


Erangan kembali terdengar kala Jemari El menelusup pada area sensitif gadis itu, usapan lembut Elbram membuat tubuh Safira gemetar. Ia tak menyangka ketika bagian mungil itu tersentuh rasanya akan begitu dahsyat.


Jemari El terus mengusap dengan pola naik turun membuat kenikmatan itu terasa menusuk mengaliri setiap sel dalam tubuh Safira, des ahan dan lengu han tak lagi Safira tahan, ia mengabaikan rasa malunya untuk sejenak. Safira ingin mengekspresikan rasa nikmat yang tengah melandanya akibat permainan jari Elbram.


"El akhu nggak kuat" keluh Safira, pinggulnya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama tangan suaminya yang bergerak semakin cepat.


"Keluarkan sayang" bisik Elbram sambil menyesap leher Safira dengan dalam. Pekikan tertahan keluar dari bibir Safira bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar dan menegang.


Nafasnya terengah dengan tubuh yang lunglai. El membiarkan Safira menikmati sisa-sisa pelepasannya. Pria itu memeluk tubuh Safira dan menciumi puncak kepala sang istri dengan sayang.


Saat terjangan gelombang kenikmatan itu mulai mereda, El mengambil sabun cair yang berada di sisi kanan nya. Pria itu mulai mengusap tubuh istrinya dengan busa sabun yang beraroma lembut.


Safira menikmati setiap sentuhan dan pijatan lembut El di tubuhnya. Rasanya begitu nyaman dan hangat. Namun sesaat kemudian Safira sadar bahwa El belum mendapatkan jatah nya, tak adil rasanya jika pria itu hanya memberi tanpa mendapatkan timbal balik.


Safira berusaha melawan rasa letih nya gadis membalikkan badan agar menghadap pada suaminya. Ia menatap dalam pada Elbram yang juga menatap pada Safira seolah tengah menantikan apa yang sedang istrinya inginkan.


"Aku menginginkannya lagi" ucap Safira berusaha membunuh rasa malu, melihat binar kebahagiaan pada wajah El begitu menyenangkan baginya saat ini.


El mengernyitkan keningnya, merasa heran pada Safira. "Kamu nggak capek?" Karena sejak tadi El mati-matian menahan hasratnya, ia ingin sekali mereguk madu tubuh Safira seperti tadi malam. Namun ia takut Safira merasa lelah, apalagi mereka belum makan. El tak mau Safira sampai pingsan karena keegoisan nya.


"Enggak sayang" ucap Safira dengan suara serak, gadis itu memberanikan diri meraih wajah Elbram dan menautkan bibir mereka. El menyambut nya dengan penuh semangat, mendengar panggilan sayang dari bibir Safira untuk pertama kalinya membuat kebahagiaan menggelegak di dadanya, hatinya menghangat dengan rasa haru yang ikut hadir.


El merengkuh tubuh Safira dan menuntun gadis itu untuk duduk di pangkuannya tanpa melepaskan pertautan bibir keduanya. pergumulan season selanjutnya tak terelakkan. Suara erangan dan lenguhan yang saling bersahutan memenuhi ruangan itu, kamar mandi menjadi saksi keindahan pagi yang diwarnai oleh gelora panas percintaan sepasang suami istri yang berlomba untuk saling memberikan kenikmatan.


🍁🍁🍁


Safira dan El menikmati sarapan yang lebih cocok disebut makan siang mereka dengan bahagia. Saat keluar dari kamar mandi mereka baru menyadari bahwa waktu yang mereka habiskan hampir satu jam lamanya.


"Makan yang banyak, kamu pasti lemas" Ucap El sambil sesekali menyuapkan makanan yang ada di piring nya ke arah Safira. Padahal makanan mereka sama saja, namun Safira sama sekali tak menolak. Ia dengan senang hati menerima suapan dari suaminya. Pria itu terlihat merasa bersalah karena membuat Safira terlambat sarapan.


"Kamu nggak lemas emang nya?" Wajah Safira bersemu merah, ia masih merasa malu mengingat kejadian tadi malam dan pagi ini, darahnya selalu berdesir dan tubuhnya memanas.


"Sedikit, tapi tertutup oleh rasa bahagia" Ucap El dengan tatapan penuh cinta.


"Bahkan aku masih sanggup melakukannya beberapa kali lagi" ucapnya penuh arti. Pria itu terkekeh dan mengusap rambut istrinya dengan gemas ketika melihat wajah malu-malu Safira.


"Makasih ya sayang" Bisik El sembari mencium pipi Safira.


"Makasih untuk apa?" tanya Safira heran


"Untuk kado istimewanya tadi malam dan pagi ini" balas Elbram.


"Ya ampun El, entah ini udah ke berapa ratus kali kamu bilang makasih" Safira menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mencebik.


"Karena aku benar-benar bahagia sayang, aku nggak tau lagi harus seperti apa mengungkapkan rasa bahagiaku. Aku benar-benar berterima kasih karena kamu memberiku kesempatan untuk memiliki kamu seutuhnya dan menjadikan aku pria paling beruntung di dunia ini" Ungkapan yang terdengar berlebihan namun entah mengapa Safira sangat menyukainya.


🍁🍁🍁


Sorry guys menghilang tanpa kabar beberapa hari. Maklum ada kerjaan di dunia nyata ditambah harus nemenin anak belajar buat semesteran.


Semoga masih ada yang berkenan buat mampir 😀🤭😘🥰