Move On

Move On
Dua Puluh Delapan



"Kita mau ke mana sih?" Safira menatap heran pada Elbram yang tengah mengemudi. Pria itu memaksanya untuk ikut tanpa memberitahu tujuan mereka.


"Nanti juga kamu akan tau sendiri sayang, sabar ya" Elbram melempar senyum manis pada Safira yang membalasnya dengan cebikan sinis.


"Jangan-jangan kamu mau nyulik aku ya? jangan coba macam-macam ya El" ancam Safira yang memancing tawa suaminya.


"Macam-macam sama istri sendiri nggak dosa kok" Balas Elbram jahil. Safira mendengus, enggan menimpali lagi.


Safira memilih menyimpan rasa penasarannya sendiri. Entah akan ke mana Elbram membawanya tapi sedikit banyaknya Safira yakin El tidak akan berbuat yang tidak-tidak padanya.


Setelah beberapa waktu El menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko yang entah milik siapa. Letaknya berada di kawasan yang cukup ramai.


"Ngapain stop di sini?" Safira menatap pada sekeliling. Ia sama sekali tak mengenali tempat itu.


"Turun dulu yuk, nanti aku jelasin" Ucap Elbram. Pria itu membuka pintu dan keluar dari mobil. El kemudian berjalan cepat ke arah kursi penumpang dan membukakan pintu untuk istrinya. Elbram mengulurkan tangan pada Safira, diam-diam berharap untuk kali ini saja Safira akan menerima uluran tangan darinya. Rasanya sudah terlalu lama gadis itu mengabaikannya.


Namun untuk ke sekian kali Safira menolak uluran tangan nya. Sang istri turun dari mobil tanpa menggubris tangan El yang tergantung di hadapan nya.


Elbram tersenyum pahit, pria itu menghela nafas untuk menghilangkan kegalauan hatinya. Ia memutar tubuhnya menghadap pada Safira yang berdiri sambil menatap ke arahnya setelah merasa lebih baik.


"Kita ke sana sayang" El menunjuk ruko yang ada di depan mereka. Safira yang masih bingung mau tidak mau mengikuti langkah Elbram


"Mau ngapain sih?" tanya Safira saat mereka sudah memasuki ruko yang tampak kosong.


"Ini ruko kita, baru aja habis sewanya. Aku memutuskan untuk nggak lanjut menyewakan" ucap Elbram.


"Terus apa hubungannya sama aku? kamu mau pamer punya ruko?" Safira masih tak mengerti arah ucapan suaminya.


Elbram tertawa mendengar tuduhan istrinya.


"Ngapain pamer sama istri sendiri, ini juga milik kamu sekarang. Kamu bilang kamu bosan kan nggak ada kegiatan? kamu bikin usaha aja gimana? dari pada kamu kerja di perusahaan jadi karyawan, nanti kamu kelelahan karena terlalu sibuk. Apalagi kalo nanti kita punya bayi pasti akan sangat repot" ucap Elbram.


Safira menatap tajam suaminya mendengar kalimat terakhir yang Elbram lontarkan.


"Kita nggak akan punya bayi El, jangan suka ngasal" Protes gadis itu. Tapi Elbram tak menggubris kekesalan istrinya.


"Kita pasti akan punya bayi suatu saat nanti sayang" Ucap Elbram penuh keyakinan.


"Aku nggak ada bayangan mau buka usaha apa, aku nggak punya bakat bisnis" ucap Safira mengalihkan topik pembicaraan nya dengan Elbram.


Sebenarnya Safira merasa tertarik pada usul suaminya dan mulai memikirkan usaha apa yang akan ia jalankan untuk mengisi kekosongan.


"Kita fikirkan sama-sama nanti ya, kita lihat peluang apa yang paling menguntungkan dan yang kamu nyaman ngejalaninnya. Mungkin kamu bisa berdiskusi sama Dini. Kalian juga bisa join kalo mau. Dini juga lagi pengen buka usaha katanya" ucap Elbram.


"Ya udah"


"Ya udah apa?"


"Duh istri aku, sekarang kalo kamu lagi judes gini aku kok malah makin suka ya?" ucap Elbram. Pria itu pura-pura akan memeluk Safira. Benar saja Safira mengelak dengan panik. Elbram memang tertawa namun hatinya menyimpan kepedihan atas sikap Safira yang belum bisa ia taklukkan


"Apaan sih, nggak jelas" Safira menatap sinis pada suaminya


🍁🍁🍁


"Toko bunga aja Fir. Dulu kan kita sempat punya cita-cita punya florist gitu? Kamu juga dari dulu juga suka dan pintar bikin desain-desain buket bunga" Usul Dini.


"Iya juga ya Din kok aku nggak kefikiran" Safira terkekeh. Otaknya terlalu kusut dengan berbagai peristiwa tak terduga yang ia alami sehingga banyak hal yang ia lupakan. Dulu saat kuliah Safira, Dini dan Maya memang sempat ingin memiliki toko bunga sendiri sebagai sampingan meski bertentangan dengan jurusan kuliah yang mereka ambil, namun semenjak kejadian 5 tahun yang lalu semua angan itu lenyap.


Ketika sibuk bekerja safira menghentikan kebiasaan nya membuat desain buket dan melupakan impiannya memiliki toko bunga apalagi persahabatannya dengan Maya dan Dini bisa dikatakan telah hancur.


"Kamu mau bantuin aku ngejalanin bisnis ini nggak Din?" Tawar Safira.


"Mau banget, aku emang lagi mau cari kegiatan juga. Suntuk banget cuma ngurusin rumah dan anak. Suami aku nggak kasih izin aku buat kerja." Keluh Dini.


"Kalo usaha ini kamu kira-kira diizinin nggak Din sama suami kamu?" Safira khawatir suami Dini akan melarang sahabat sekaligus adik iparnya tersebut menjalankan bisnis bersama nya.


"Di izinin lah, kan aku nggak terikat. Waktunya juga fleksibel, aku tetap bisa urus rumah" jawab Dini yang membuat Safira lega.


"Syukurlah kalau gitu, jadi kita bisa fikirin konsep florist kita seperti apa dan kapan kita akan memulainya" Ucap Safira yang diangguki oleh Dini.


"Happy banget ya Fir bisa mewujudkan mimpi yang pernah kita rangkai dulu. Walaupun Maya nggak bisa gabung sama kita" Ucap Dini. Saat menyebut nama Maya wajah keduanya berubah kaku.


"Aku nggak nyangka Maya jahat banget sama aku Din" Ucap Safira saat mengingat apa yang sudah Maya lakukan.


"Dia kasih video aku sama Devan yang lagi pelukan ke Elbram, padahal jelas-jelas Maya tau kalau Devan itu sepupu aku dia sengaja ngelakuin cara licik itu supaya El benci sama aku dan dia bisa merebut perhatian Elbram Din" Ucap Safira. Emosi kembali menyelinapi hatinya.


"Maya ngelakuin itu?" Dini kini mengerti alasan Elbram sempat menunjukkan foto Devan dan menanyakan perihal foto itu padanya.


"Iya, aku juga baru tau. El baru cerita sama aku beberapa hari yang lalu. Nggak nyangka banget kan? aku kira Maya itu sahabat Din" ucap Safira menggebu.


Dini meraih tangan Safira dan menggenggamnya. "Ia aku nggak nyangka sama sekali Maya akan setega itu. Tapi yang penting sekarang kita uda tau kebenarannya, dan yang nggak kalah penting lagi kita sudah dijauhkan dari dia Fir. Semoga kita nggak akan terjebak lagi sama dia" Ucap Dini.


"Iya Din" Safira mengangguk.


"Untuk ke sekian kalinya aku minta maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu ya Fir?" Dini kembali didera rasa bersalah mengingat masa lalu diantara mereka. Beruntung saat ini hubungan mereka telah kembali membaik.


"Aku uda maafin kamu Din, nggak usah diingat lagi" Safira tersenyum tulus


🍁🍁🍁


Pada nungguin? Sorry ya lama. Mager banget efek kebanyakan makan rendang pas lebaran nih kayaknya 😂🥰