Move On

Move On
Tujuh Belas



Safira merasa begitu lelah, tak hanya fisik namun juga jiwanya. Ia butuh mengistirahatkan diri karena itu ia memilih tak menimpali lagi ucapan Elbram.


Safira berjalan ke arah sofa, dan merebahkan diri di sana. Suara panggilan Elbram ia abaikan, mungkin ia harus belajar menulikan telinganya dari suara pria itu mulai sekarang.


Safira baru sebentar memejamkan matanya namun ia dengan cepat membukanya kembali saat merasakan sentuhan tangan disusul dengan tubuhnya yang terasa melayang.


Safira terkejut kala mendapati wajahnya begitu dekat dengan wajah Elbram, pria itu terlihat sangat tampan namun sayang tak sedikitpun menggetarkan hati gadis itu.


"Kamu mau ngapain? turunin aku El" Safira meronta berusaha melepaskan diri namun Elbram tak menggubris protesan istrinya. Ia semakin mengeratkan rengkuhannya pada tubuh Safira. Pria itu terus berjalan membawa Safira ke atas ranjang dan merebahkan gadis itu di sana.


"Kamu butuh istirahat nanti malam akan sangat melelahkan. Tamu yang hadir pasti banyak, belum lagi setelahnya kita juga pasti akan bekerja keras. Kamu mana bisa istirahat dengan nyaman kalo tidurnya di sofa" Bisik Elbram sambil mengusap rambut Safira yang menatap kesal padanya.


"Bekerja keras?" Safira menangkap gelagat aneh pada ekspresi Elbram saat mengucapkan kalimat itu.


"Tentu saja, pengantin baru pasti akan bekerja keras selepas melewati rangkaian acara pernikahan kan? atau kamu mau kita melakukannya sekarang? tapi sebaiknya kita bersabar dulu ya, aku nggak mau kamu capek saat acara resepsi nanti malam"


Safira membulatkan matanya, ia akan memaki namun Elbram buru-buru meletakkan telunjuknya di bibir sang istri.


"Ssst udah, sekarang istirahat. Aku aja yang di sofa kalo emang kamu belum terbiasa dan merasa nggak nyaman berbagi ranjang sama aku sekarang. Tapi ingat ya cuma untuk sekarang aja, nanti malam dan seterusnya aku nggak akan kasih kamu kelonggaran apapun, kita akan tinggal satu kamar dan tidur di atas ranjang yang sama. Nggak ada penolakan dan nggak ada tawar menawar" Kekesalan Safira bertambah kala El tiba-tiba mendaratkan kecupan di keningnya "Selamat beristirahat istriku" Elbram tersenyum manis pada Safira tak peduli meski wajah istrinya terlihat begitu marah. Pria itu kemudian berjalan menjauh dari istrinya.


Safira membuang nafas kasar, rasa kantuk yang sempat mendera hilang begitu saja karena rasa kesal atas kelakuan pria yang beberapa jam yang lalu resmi menjadi suaminya. Suami? ah ini benar-benar terasa seperti mimpi buruk!


"Seperti halnya aku yang nggak akan berharap apapun sama kamu, kuharap kamu juga demikian El. Jangan menaruh harap padaku, pernikahan ini sama sekali nggak berarti apa-apa buat aku"


Safira benar-benar tak peduli meski kata-katanya akan menyakiti hati Elbram.


🍁🍁🍁


"Istriku cantik banget, kamu selalu terlihat sempurna Safira. Dari dulu sama sekali nggak berubah. Aku benar-benar suami yang beruntung bisa memiliki kamu" Goda Elbram pada Safira saat keduanya telah berada di pelaminan.


Safira hanya diam, sama sekali tak berminat meladeni pujian receh yang Elbram ucapkan. Bahkan Safira enggan menoleh pada pria itu, Namun Safira segera menatap tajam pada Elbram sebagai bentuk protes karena Elbram tiba-tiba meraih dan menggenggam tangannya.


Kalau saja tak memikirkan harga diri dan kehormatan kedua orang tuanya Safira pasti sudah meneriaki dan mengumpati Elbram dengan segala kata-kata kotor yang memenuhi otaknya saat ini.


"Malu dilihat orang El" Ucap Safira dengan geram. Elbram malah tersenyum penuh arti.


"Kenapa harus malu, kita pasangan yang sah. Semua undangan yang ada di sini tau bahwa aku ini suami kamu Safira, bahkan aku berhak melakukan lebih dari ini. Aku berhak atas keseluruhan diri kamu." Ucapan Elbram terasa merobek hati Safira, kata-kata Elbram menyadarkan nya bahwa secara hukum dan agama dirinya adalah milik Elbram. Safira menyesali garisan tangannya yang harus terikat pada pria ini.


Di usia matangnya, pernikahan adalah momen yang sangat dinantikan oleh seorang perempuan tak terkecuali Safira. Namun sayang Safira malah merasakan hal yang sebaliknya. Semua ini bagaikan mimpi buruk baginya. Andai pria yang berada di sampingnya saat ini bukan Elbram, Safira pasti akan merasakan kebahagiaan itu.


Tiba-tiba Safira mengingat sosok pria tampan yang masih bertahta di hatinya, hatinya terasa semakin pilu. Andai Zio membalas cintanya ia tak harus menjalani pernikahan dengan Elbram. Apa daya cintanya tak bersambut hingga ia tak memiliki pilihan apapun. Ia harus rela dinikahi oleh pria yang pernah mencampakkan nya dengan sangat kejam.


Sepanjang acara Safira hanya termenung, raganya memang berada di tengah ribuan tamu yang hadir. Namun jiwanya melanglang buana, meratapi segala kesakitan yang kembali terasa. Karena terlalu sibuk dengan lamunannya Safira baru menyadari acara hampir berakhir. Para undang satu persatu datang untuk mengucapkan selamat pada mereka.


"Selamat ya Fir, aku bahagia banget kamu dan bang El akhirnya bersatu" Ucap Dini dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya. Safira tersenyum tipis, ia tak berminat menjawab ucapan adik dari suaminya tersebut.


"Bahagia terus ya kalian, akhirnya apa yang kamu impikan dulu terwujud." Lanjut Dini lagi, dan ucapan itu berhasil menggelitik hati Safira. Kali ini ia terpancing untuk menimpali ucapan Dini yang terdengar memuakkan di telinga nya.


"Setelah apa yang terjadi lima tahun yang lalu, apa menurut mu impianku masih sama Din? Kamu tau aku nggak sebodoh itu kan?" Safira tersenyum sinis pada Dini yang berubah muram. Senyum yang awalnya merekah kini surut dan menghilang.


"Maaf" Dini tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca, ia segera berlalu dari hadapan Safira dan Elbram setelah mengucapkan permintaan maafnya diikuti oleh sang suami yang menggendong buah hati mereka.


Safira menoleh ke arah Elbram ketika merasakan pria itu menggenggam tangannya.


Tatapan keduanya bertemu, Safira dapat merasakan kesedihan mendalam yang terpancar dari wajah Elbram. Safira tak habis fikir, kenapa Elbram dan Dini terlihat begitu bersedih padahal ia merasa tak ada yang salah dengan ucapannya. Kenapa sekarang mereka bersikap seolah mereka adalah korban? Safira menghembuskan nafas kasar. Ia melepaskan genggaman tangan Elbram padanya dengan cukup kasar.


Gadis itu mengalihkan pandangannya, beruntung tamu kembali datang sehingga Safira tak perlu berbicara apapun lagi pada pria itu.


🍁🍁🍁


Pada nungguin malam pertama Elbram dan Safira nggak? biasanya kan kalo ada momen pernikahan begini malam pertamanya pasti dinanti-nanti banget kan yah? 😂😂😂