Move On

Move On
Tiga Puluh



Safira masih memasang ekspresi datar saat melihat suaminya. Elbram akhirnya pulang setelah selama 4 hari pria itu menghilang. Safira bertanya-tanya di dalam hati akan keberadaan suaminya selama 4 hari ini, namun gengsinya terlalu besar untuk menanyakannya pada Elbram. Safira lebih memilih menelan semua rasa penasarannya sendiri.


"Kamu uda selesai mikirin semuanya? apa keputusan kamu tetap sama ingin berpisah dengan ku?" Elbram menatap istrinya penuh kerinduan. Pria itu juga terlihat was-was. Namun Safira tak menjawab. Gadis itu hanya membisu. Safira akui, keinginan nya untuk berpisah dari Elbram sedikit terkikis, karena itu ia tak berani selantang waktu itu menyatakan untuk berpisah.


"Sebenar nya aku kangen banget sama kamu, aku nggak kuat harus jauh dari kamu sayang. Aku masih terus berharap kamu akan memberiku kesempatan untuk tetap berada di sisi kamu Safira. " ucap Elbram lagi. Kali ini Safira menatap pada suaminya, namun bibirnya tetap terkunci. Ia masih terlalu bingung untuk menjawabnya sekarang.


"Kamu masih butuh waktu untuk berfikir lagi? kalau iya aku nggak keberatan memberikan waktu lebih panjang untuk mu sayang" Elbram terus berusaha mengajak istrinya berbicara meski Safira masih tak berminat merespon semua ucapannya.


"Oh ya, Dini bilang kamu masih ragu untuk melanjutkan bisnis karena ruko itu milik aku. Nggak apa-apa sayang kamu nggak usah ragu, lanjutin aja. Harusnya apa yang menjadi milikku juga jadi milik kamu kan? tapi aku uda urus penggantian kepemilikan. Jadi ruko itu uda dalam proses bentar lagi akan berganti menjadi atas nama kamu supaya kamu nggak perlu ragu lagi. Walaupun nanti pada akhirnya ikatan kita harus terputus kamu tetap bisa melanjutkan bisnisnya tanpa harus merasa terbebani" Elbram terasa berat mengungkapkan pengandaian pada kalimat terakhirnya, jauh di kedalaman hatinya ia merasa tak rela. Safira yang sempat mengalihkan pandangannya kembali menatap ke arah suaminya.


"Kenapa harus kayak gitu? aku nggak mau El. Itu ruko milik kamu. Aku nggak berhak untuk memilikinya" Safira terpancing untuk menjawab ucapan suaminya.


"Kamu istri aku sayang, jangan kan ruko nyawaku sekalipun adalah hak kamu. Aku tak keberatan untuk memberikannya." Safira mencebik dan membuang muka mendengar gombalan Elbram. Apalagi senyum menyebalkan yang pria itu tunjukkan.


"Aku nggak mau berhutang budi sama kamu" Balas Safira dingin.


"Kamu ngga usah khawatir. Itu sama sekali bukan hutang budi, aku nggak meminta balasan apapun untuk pemberian aku padamu. Anggap saja itu adalah hadiah dari seorang suami untuk istrinya. Bukankah itu hal yang lumrah?" Elbram meraih tangan Safira lalu menggenggam nya.


"Jangan menolak untuk kali ini ya. Aku mohon terima pemberian aku. Selama pernikahan kita baru itu yang bisa aku berikan. Aku belum bisa memberikan kebahagiaan sedikitpun untuk mu" Bisik Elbram dengan tatapan dalamnya. Safira memutus kontak mata diantara keduanya. Gadis itu juga melepaskan tangannya dari genggaman tangan Elbram.


Elbram menghembuskan nafas lelahnya. Safira masih membangun tembok yang tinggi diantara mereka.


"Safira, aku datang juga ingin memberi tahu kamu kalo aku ada dinas luar selama satu minggu ke depan. Aku berangkat 3 jam lagi. Kamu mau antar ke bandara?" Elbram terkekeh saat Safira menggeleng cepat.


"Aku sebenarnya uda tau jawaban kamu. Tapi entah kenapa bibir bodohku ini masih saja mengucapkannya. Lebih bodohnya lagi hati aku berharap jawaban kamu akan bertentangan dengan isi kepalaku" Elbram memang tertawa namun jelas sekali bahwa pria itu menahan sakit di hatinya.


"Jaga diri selama aku pergi, maafin untuk semua kesalahan aku yang uda nyakitin hati kamu. Aku harap waktu satu minggu cukup bagi kamu untuk memikirkan semuanya. Dan semoga ketika aku pulang nanti kamu sudah memiliki jawaban untuk kelanjutan pernikahan kita" Safira merasakan getaran berbeda mendengar ucapan Elbram kali ini. Entah mengapa ada rasa yang sulit untuk Safira jelaskan merasuki hatinya. Semacam rasa sedih dan takut yang entah apa sebab nya.


"Iya, kamu juga jaga diri selama di sana" Meski nada bicara Safira terdengar datar dan wajahnya tanpa ekspresi namun jawaban Safira berhasil menyalakan binar bahagia di mata pria itu.


"Aku hanya mengatakan jaga diri, bukan meminta kamu untuk pulang cepat. Lagipula ucapan aku itu nggak ada maksud apa-apa. Jangan berlebihan untuk memaknainya." ucap Safira ketus.


"Iya Safira aku mengerti" jawab Elbram. Meski ucapan istrinya begitu menghujam namun tetap saja pria itu merasa bahagia.


"Oh ya Safira, sebelum aku pergi aku harus mengatakan sesuatu padamu. Tadinya aku ingin mengatakan setelah mendengar keputusan mu nanti. Tapi aku takut tak memiliki kesempatan lagi untuk mengatakannya" Ucap Elbram yang membuat kening Safira mengernyit heran.


Belum sempat Safira bertanya namun Elbram telah lebih dulu meraih dan menggenggam tangannya.


"Tolong jangan dilepas. Kali ini saja aku mohon" bisik Elbram penuh harap saat Safira berusaha melepaskan tangannya.


"Safira" Panggil Elbram lembut, Safira yang awalnya melempar pandangannya ke arah jendela kamar mereka beralih menatap pada Elbram yang juga tengah menatap dalam padanya. Suara Elbram seolah menghipnotisnya sehingga ia tak kuasa untuk tak merespon panggilan itu.


"Mungkin ini sudah sangat terlambat, bisa jadi kamu sudah tidak ingin mendengarnya. Atau akan sulit bagimu untuk mempercayainya. Tapi izinkan aku untuk tetap mengatakannya sayang" Elbram menghela nafasnya perlahan. Safira tak mengalihkan pandangannya. Tatapan dalam pria itu berhasil mengunci pergerakan nya.


"Safira istriku, aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. Bahkan sejak lima tahun yang lalu perasaan ini tak pernah berubah" Safira terpaku, setiap kata yang Elbram ucapkan terdengar tulus. Pancaran mata pria itu juga penuh kesungguhan sehingga sulit sekali bagi Safira untuk menyatakan bahwa ucapan Elbram hanya dusta. Tubuh Safira dialiri gelenyar yang membuat jantungnya berdetak cepat.


Untuk sesaat Safira seperti kehilangan kesadarannya, fikiran nya terus mengawang. Gadis itu bahkan tak menyadari bibir Elbram telah mendarat di kening nya. Namun Safira tersentak kala merasakan tubuh hangat pria itu kini melingkupi tubuhnya. Tapi lagi-lagi Safira seolah dibuat tak berdaya hingga gadis itu membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Elbram. Ia sama sekali tak memberontak dan tak berusaha untuk melepaskan diri dari pria itu.


"Aku pergi sayang, aku tunggu jawaban kamu" Kali ini Elbram mendaratkan ciuman di pipi Safira. Lagi-lagi gadis itu hanya membiarkannya tanpa melakukan penolakan apapun. Tapi bibirnya tetap terkunci bahkan di saat Elbram telah menghilang dari hadapannya. Meninggalkan aroma khas pria itu yang selalu sama sejak Safira pertama kali mengenalnya.


🍁🍁🍁


Kenapa ya abis lebaran mager banget, mungkin efek badan yang juga ikut 'Lebar'an kali ya 🙄😂


Terima kasih masih setia menunggu 🥰😘