
Elbram sedetikpun tak melepaskan tangan Safira saat mereka tengah berada di dalam air menikmati keindahan yang tersaji di bawah laut. Pria itu seolah begitu takut Safira terlepas dan hilang dari jangkauannya.
Tak mampu dijelaskan dengan kata-kata betapa Safira bahagia bisa menikmati momen ini bersama pria yang ia cintai.
"Luar biasa ya El, bagus banget" ucap Safira saat mereka telah selesai menikmati keindahan biota laut di pulau tersebut. Mereka tengah berjalan menuju ruang ganti pakaian.
"Iya bagus, kamu senang?" Entahlah pria itu benar-benar menikmati kegiatan snorkeling mereka atau tidak, mengingat pria itu terlalu sibuk menjaga Safira. Elbram memperlakukan Safira seolah mereka tengah menyelam di laut dalam, pria itu begitu khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Safira.
"Iya aku senang, makasih ya El uda ajak aku"
Entah sudah berapa kali Safira berterima kasih pada pria itu karena ia diberi kesempatan untuk ikut menikmati liburan.
"Nggak usah bilang makasih Safira, aku bahagia kalau kamu menikmati liburan ini" Safira tersenyum dan mengangguk. Keduanya berpisah memasuki ruang ganti masing-masing.
Liburan selama 2 hari bersama Elbram semakin menumbuh suburkan perasaan Safira pada pria itu.
Safira semakin banyak menangkap sisi sempurna Elbram. Sikap lembut dan kepedulian pria itu begitu tercurah padanya selama kebersamaan mereka. Elbram benar-benar memperlakukan Safira dengan baik dan begitu menjaganya.
Liburan mereka memang singkat namun begitu penuh makna, meninggalkan kesan dan kenangan mendalam di hati Safira. Karena di sanalah ciuman pertamanya dengan Elbram terjadi.
🍁🍁🍁
Safira mematung dengan tatapan tidak percaya, seluruh tubuhnya terasa ngilu dan lemas. Air matanya berhamburan tak mampu ia cegah. Pemandangan di depannya sungguh sangat mematahkan hatinya, tak ada alasan apapun yang dapat menyelamatkan perasaannya.
Di depan nya tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini sebuah pemandangan menyakitkan tersaji. Elbram pria yang ia cintai dan telah ia tunggu sekian lama tengah memeluk pinggang seorang gadis yang juga sangat Safira kenali, keduanya tampak begitu menikmati ciuman mereka dengan mata yang saling terpejam. Sepasang muda mudi itu sepertinya tengah dimabuk asmara hingga tak kunjung menyadari keberadaan Safira yang menyaksikan aktivitas mereka dengan luka hati yang parah.
Dua bulan berlalu sejak liburan berdua dengan Elbram, karena tak ada perubahan apapun meski mereka masih dekat akhirnya seperti yang Safira tekad kan sebelumnya ia akan menunggu Elbram hingga hari kelulusan nya tiba. Jika pria itu tak kunjung memberikan kepastian maka ia akan memberanikan diri mempertanyakan nya pada Elbram. Ia sendiri yang akan mengakhiri segala ketidakpastian yang Elbram bangun.
2 Hari yang lalu adalah hari kelulusannya Safira. Elbram datang dengan membawa sebuket bunga dan hadiah sebuah kalung, sangat cantik dan terlihat mahal. Namun bukan bermaksud tak berterima kasih tapi Safira tak mengharapkan Elbram memberinya kalung atau benda-benda mahal lain nya, ia hanya berharap pria itu memberikan kejelasan padanya setelah menggantung perasaannya cukup lama. Safira yakin El mengetahui betapa dalam perasaannya pada pria itu.
Hari ini adalah saat nya, Safira mengumpulkan segenap keberaniannya untuk meminta kepastian pada Elbram. Ia akan mengesampingkan sejenak harga dirinya sebagai wanita. Ia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Karena ponsel Elbram tak bisa dihubungi Safira memutuskan untuk langsung datang ke rumah Elbram, Dini bilang pria itu ada di rumah dan sudah pulang dari kantor.
Dan inilah jawaban yang ia dapatkan, Elbram pria pujaan nya tengah berciuman mesra dengan Maya sahabatnya. Adakah yang lebih menyakitkan dari ini?
"Bisa hentikan sebentar?" Safira tak kuat lagi, namun ia tak ingin menjadi pengecut dengan langsung pergi tanpa mengusaikan semua ketidak jelasan yang Elbram ciptakan selama satu setengah tahun ini.
"Sa-Safira" Maya dan Elbram saling melepaskan diri, keduanya menatap pada sosok Safira dan terlihat begitu terkejut.
"Kalian pacaran? ah maaf betapa bodohnya pertanyaan ku!"
"Safira aku bisa jelasin" ucap Maya lirih.
"Jelasin apa? mau menjelaskan bahwa pria yang sering menjadi bahan curhatan ku padamu dan Dini ternyata lebih memilih kamu? harusnya kamu bilang sejak awal May, kamu tau kan gimana aku terus berharap sama Elbram yang tak kunjung memberiku kepastian?" Jika memang demikian faktanya Safira bisa apa? marah? bukankah perasaan tak bisa dipaksakan?
"Aku nggak mau nyakitin kamu Fir" ucap Maya lemah.
"Yah aku pasti akan kecewa dan sakit hati mengetahui fakta yang sebenarnya May, tapi kecewa dan sakit hati yang aku rasakan kini bertambah sepuluh kali lipat karena kamu lebih memilih menyembunyikan semua ini. Meski sakit aku pasti akan mundur sejak awal kalau tau yang sebenarnya Maya, aku juga nggak akan menentang hubungan kalian karena aku nggak berhak mengatur perasaan orang lain. Kamu bahagia memperlakukan aku seperti orang bodoh May? terus menyemangati ku untuk menunggu Elbram padahal diam-diam hati kamu menertawai ku karena tau Elbram memilih kamu?" Luka Safira tak dapat disembunyikan.
Gadis itu beralih menatap pada Elbram.
"Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan selama ini ke aku El, aku tau kamu bukan pria bodoh yang tak tau bahwa aku menyukaimu dan aku mencintaimu. Aku menyayangkan sikap kamu yang memberiku harapan El. Atau mungkin aku saja yang salah menanggapi sikap kamu selama ini?"
"Nggak gitu Safira, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud menyakiti perasaan kamu" Elbram tak berani menatap pada Safira.
"Boleh aku tau sebenarnya apa arti kedekatan kita selama ini El?" Entahlah apakah berguna menanyakan hal ini.
Setelah hening cukup lama El mengangkat wajahnya menatap pada Safira.
"Maaf Safira, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak nyangka kalau semua akan jadi seperti ini. Kamu gadis yang cantik dan istimewa Safira, hanya saja kamu terlalu manja untukku hingga akhirnya aku nggak bisa menatap kamu seperti aku menatap Maya. Aku hanya bisa menatapmu seperti aku menatap Dini, Maaf Fira"
"Jadi aku ini hanya seperti seorang adik di mata mu? apakah ada seorang kakak yang mencium bibir adiknya?" Mendengar jawaban El tak hanya semakin menyakiti hatinya namun membuat darah Safira seolah mendidih. Safira merasa betapa menyebalkan pria di hadapannya ini. Semua kekagumannya pada sosok Elbram menguap seketika, pria itu tak lebih hanya seorang pengecut dan pemain wanita. Bisa-bisanya setelah melambungkan dirinya setinggi langit pria itu kini melemparkannya ke jurang yang dalam.
"Tak perlu di jawab El, aku sudah mendapatkan jawaban nya. Silahkan lanjutkan hubungan kalian El, May. Tak perlu menyembunyikan apapun lagi dariku. Aku cukup tau diri untuk tidak masuk dalam hubungan orang" Ucap Safira saat El akan membuka mulutnya. Safira pergi, ia sama sekali tak mendengarkan panggilan dari Elbram maupun Maya.
🍁🍁🍁