MARRIED WITH MR PENGUIN

MARRIED WITH MR PENGUIN
Bab 55



Kecelakaan parah terjadi hari itu, mobil yang di tumpangi Areta rusak parah. Begitu pun dengan keadaan Areta dan Arka yang juga sangat parah.


Revan dan yang lainnya datang terlambat, saat mereka sampai ke sana Areta dan Arka sedang di tolong para warga yang berada di situ. Tubuh mereka berdua sedang coba di keluarkan oleh orang-orang itu.


Tubuh Revan terasa sangat lemas melihat puteri kesayangan nya yang selalu ia jaga dan ia sayang kini bersimbah darah dengan luka dimana-mana. Begitu pun dengan Arka, tubuh menantunya tak kalah mengenaskan. Bahkan keadaannya lebih parah dari Areta.


Semua orang shock melihat keadaan mereka berdua. Bagaimana ini bisa terjadi bukankah mereka baik-baik saja tadi. Bahkan semalam saja mereka masih bercanda bersama.


Air mata Revan mengalir begitu saja, tubuhnya di pegangi oleh Regan dan juga Bagas. Reby pun hanya bisa menatap nanar sepupu kesayangannya yang bersimbah darah dan juga melihat Arka sahabatnya yang tergeletak tak berdaya.


Mereka kini di bawa ke dalam ambulance, untuk segera ditangani. Namun Revan masih belum bisa beranjak dari tempatnya. Antara sadar dan ia sadar ia masih terus menatap ke arah mobil yang hancur itu dengan masih sisa genangan darah anak dan menantunya di sana.


"Ar.... Sayang maaf Papa terlambat, maafkan Papa Nak " Ucap Revan tergugu di sana. Namun Regan dengan segera menggiring Revan masuk ke dalam mobilnya, dan segera menyusul Areta dan Arka ke Rumah Sakit.


Bagas pun dengan segera menghubungi Yura dan juga Anggi. Ia merasa berat memberi kabar ini, namun kabar ini tetap harus Bagas sampaikan dengan berat hati.


*


*


*


Yura yang sedang berada di taman belakang bersama Bira sedari tadi perasaannya merasa tidak nyaman. Ia merasa sangat sedih tapi tidak tahu kenapa. Namun ia tida mengatakannya pada siapa pun dan tidak mau menduga-duga apa yang terjadi karena Yura takut jika itu hanya perasaanya saja.


Saat pikirannya sedang berkelana entah kemana, ia di kejutkan oleh suara ponselnya yang ia lihat ada panggilan dari Asistent pelit, yaitu Bagas.


Tanpa curiga apa pun Yura mengangkat panggilan itu, karena Yura pikir mungkin Bagas di minta Revan untuk menghubunginya seperti biasanya.


"Ya mas Bagas ada apa? "Tanya Yura


"------------------"


"A-apa....? "Yura terdiam sejenak mencerna semua ucapan Bagas. Yura berharap jika ia salah dengar tentang kabar yang ia dengar. Bira yang melihat wajah Yura yang tiba-tiba pucat pun langsung menghampirinya.


"Yura kamu kenapa? "Tanya Bira


"Ini gak mungkin, Ar itu ke Rumah Sakit buat periksa. Ar mau cek kandungan bukan karena kecelakaan. Mas Bagas jangan bohongin aku...!!!" Ucap Yura sambil menangis.


Bira langsung menutup mulutnya saat mendengar Areta kecelakaan. Yura sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya terduduk lemas dan juga menangis. Bira juga ikut menangis ia merasa sangat sedih mendengar keponakannya kecelakaan. Apalagi Areta kini sedang hamil, bagaimana nasib kandungannya. Semakin deras saja air mata mereka membayangkan keadaan Areta.


Anggi pun langsung pingsan mendengar putera nya kecelakaan. Angggi merasa sangat terpukul dengan kabar ini. Rama pun merasakan hal yang sama ia sangat shock mendengar putera satu-satunya itu mengalami kecelakaan hebat di jalan.


Dengan cepat Rama membawa Anggi pergi ke Rumah Sakit untuk sekalian di periksa karena kini Anggi tengah pingsan. Rama juga merasa tubuhnya sangat lemas namun ia harus kuat demi anak dan istrinya.


Rama yang tidak sanggup membawa mobil untung saja Stevan berada di sana. Karena kebetulan tadi Rama memang belum pergi ka kantornya karena merasa kurang sehat beberapa hari ini. Dan beruntung Stevan yang sedang berada di rumah Rama karena mengantarkan berkas yang harus di tandatangani itu bisa membawa Rama dan Anggi dengan cepat pergi ke Rumah Sakit.


*


*


*


Di Rumah sakit semua terlihat cemas, mereka semua sedang menunggu kabar dari Areta dan juga Arka yang masih di periksa dan sedang dalam keadaan kritis.


Rama yang baru sampai di Rumah Sakit pun, langsung di beri tahu keadaan Arka yang membutuhkan banyak darah.


"Ambil darahku sebanyak mungkin dokter dan selamatkan puteraku" Ucap Rama dengan nada bergetar.


Dokter pun langsung mengiyakan dan membawa Rama serta Anggi yang tadi sudah sadar saat di mobil. Sayangnya darah Rama tidak cocok dan golongan darah Anggilah yang cocok dengan Arka. Namun keadaan Anggi yang tidak baik-baik saja menunjukan tensi darahnya sangat lemah hingga tidak bisa mendonorkan darahnya hingga Anggi mengamuk di Rumah Sakit. Dan menimbulkan keributan dan memancing banyak orang datang.


"Kenapa kalian tidak mau mengambil darahku, puteraku sedang dalam bahaya dan kalian hanya diam saja....!!! " Teriak Anggi, Rama pun membanting bangku yang ada di sana hingga semua orang terkejut.


Bruuukkkk.......


"Tapi Nyonya keadaan anda sedang tidak baik-baik saja dan itu berbahaya untuk anda" jelas dokter itu menunduk takut melihat kemarahan anak kambing dan anak unta itu.


"Aku tidak peduli, selamatkan putraku, kau harus menyelamatkannya....!!!" Ucap Anggi histeris dan menangis tersedu hingga semua orang bisa mengerti bagaimana perasaan Anggi yang kini sangat terluka.


"Kita harus cepat menolong Tuan Muda Arka waktu kita tidak banyak " Ucap dokter itu dengan perasaan sangat takut namun ia tetap harus menyampaikannya bagaimana pun juga. Karena ia tidak mau Arka mendapatkan penanganan yang lama hingga ia terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Umumkan ke seluruh karyawan perusahaan, siapa dari mereka memiliki golongan darah itu. Maka aku akan memberikan apa saja yang mereka mau....!!!" Ucap Rama tegas pada Stevan


"Baik Pak.... " Jawab Stevan dan langsung bekerja dengan cepat.


"Bagas, umumkan juga di perusahaan kita.... " Ucap Regan


"Baik Pak... " Jawab Bagas


"Waktu kita hanya dua jam Tuan.... " Ucap dokter itu, hingga membuat semua orang hampir putus asa.


*


*


*


Sudah hampir satu jam berlalu namun belum terdengar kabar baik tentang pencarian darah itu.


"Kak Rama..... " Anggi semakin mengeratkan pelukannya pada Rama. Rama juga merengkuh tubuh kecil itu dan mendekapnya dengan erat seolah saling merasakan sakit karena terlukanya putera mereka.


Stevan memberi kabar jika si perusahaan tidak ada yang mempunyai golongan darah itu. Semakin lemas saja tubuh Rama dan Anggi tangisnya semakin kencang.


Bagas pun memberikan kabar ya ng sama jika dari semua data karyawannya tidak ada yang memiliki golongan darah itu. Rama dan Anggi putus asa ia hanya bisa berharap jika ada keajaiban Tuhan datang pada mereka.


"Tuan Tampaaann.....!!! " teriak seorang gadis kecil yang berlari ke arah mereka dengan nafas berderu ia menghampiri mereka semua.


"Kau..... " Ucap Reby terkejut


"Tuan.... Tuan....ambil saja darahku, darahku sama dengan tuan Arka kalian bisa mengeceknya sendiri "


"Benarkah? "


*****


Hayoooo siapa tuuuhh 😧