MARRIED WITH MR PENGUIN

MARRIED WITH MR PENGUIN
Bab 52



Siang itu Revan dan Bagas bersiap untuk menemui Luna di kediamannya. Yang mereka tahu Luna tingga sendiri di apartementnya karena orang tuanya sudah bercerai dan mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka bahkan tidak pernah menghubungi Luna, karena Luna adalah anak yang tidak pernah mau di atur dan selalu bersikap sesuka hatinya. Untuk itu orang tuanya tidak mau mengurusi Luna yang keras kepala, mereka hanya mengirimi uang saja sebagai bentuk tanggung jawab mereka.


Kedua ayah yang sangat mencintai puterinya itu kini sudah sampai di apartement Luna, setelah sebelumnya mereka mendapat kabar jika Luna ada di dalam sana. Bagas Dan Regan membawa anakmya buahnya. Dan Sarah satunya perempuan agar ada orang yang mewakilinya mencubit ginjal Luna jika Bagas nanti merasa gemas pada gadis yang jahat itu.


"kenapa kau terlihat tegang Bagas?" tanya Revan yang melihat Bagas seperti sedang gelisah.


"Aku bukan tegang Pak, tapi aku sedang menahan rasa marahku pada gadis itu, ingin sekali aku melakukan hal yang sama padanya. Melihat puteriku merasa kesakitan dan membayangkan jika kepalanya di jahit berulang kali. Aku benar-benar merasa geram " ucap Bagas


"Aku juga merasakan hal yang sama Bagas, jika saat itu Areta yang terjatuh sudah di pastikan jika Areta akan kehilangan bayinya belum lagi mengingat Areta terkurung di dalam toilet sempit dan pengap hingga tidak sadarkan diri aku benar-benar ingin sekali mencekiknya" geram Revan


Mereka berdua kini turun dari mobilnya, dan naik ke lantai atas untuk menemui Luna. Anak buah Bagas sudah mengikuti dari belakang.


Tak lama mereka pun sampai di depan pintu apartement Luna, Bagas pun langsung memencet bel pintu apartemen Luna. Ia bahkan memencetnya berulang kali karena Bagas sudah merasa sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Luna.


Tangannya terasa gatal sekali ingin mencekik gadis itu karena sudah berani berbuat jahat kepada putrinya dan juga kepada Areta. Luna yang sedang mengambil air minum merasa terganggu mendengar suara belnya yang terus berbunyi.


Ia berpikir jika di depan kamarnya ada orang iseng yang sedang mencet Belnya makanya dia dengan cepat keluar dan membuka pintu karena ingin melihat Siapa orang yang sudah menekan belnya dengan berulang kali sehingga sangat mengganggu dirinya.


Namun saat membuka pintu Luna merasa terkejut karena ia melihat Bagas dan juga Revan, di tambah beberapa orang berjas hitam di belakang mereka.


Luna tahu siapa mereka, mereka bukanlah orang sembarangan mereka adalah Ayah dari Sabrina dan juga Areta gadis yang sangat ia benci, kedatangan mereka membuat Luna terkejut dan juga sangat takut ia merasa takut Karena ia merasa bersalah karena sudah melukai Sabrina putrinya dari Bagaskara asistennya Regan Maheswara, dengan gugup Luna pun bertanya kepada mereka.


" M-maaf ada keperluan apa anda semua kemari?" tanya Luna


" Jangan pura-pura bodoh dan jangan pura-pura tidak tahu di hadapanku .Kau pasti mengerti apa maksud dari kedatangan kami" jawab Bagas sambil masuk ke dalam apartemen Luna dengan menabrakkan bahunya ke tubuh lunak hingga Luna hampir saja terjatuh


Revan pun menatap Luna dengan sangat tajam kedatangan Revan dan Bagas tentu saja membuat Luna sangat ketakutan. Ia berpikir jika ini adalah akhir dari segalanya ini adalah akhir dari hidupnya akhir dari semua ambisinya dan juga akhir dari cintanya.


"Habislah sudah.... " gumam Luna shock, Luna tidak pernah menyangka Jika ia akan ketahuan secepat ini Ia berpikir ia masih bisa bersembunyi dan juga melarikan diri dari pembalasan Revan dan juga Bagas.


Tubuh Luna terasa bergetar dan juga terasa sangat lemas melihat kedatangan mereka berdua Luna melangkahkan kakinya dengan gontai untuk menghampiri Bagas dan juga dengan kepala menunduk ia menghampiri mereka berdua.


"Kemarilah kau gadis jahat....!!! " ucap Bagas tegas hingga Luna terlonjak kaget.


"I-ya Tuan.... "jawab Luna dengan menunduk


" Angkat kepalamu dan lihatlah aku, katakan kepadaku. Kenapa kau melakukan hal yang jahat seperti itu pada putriku " tanya Bagas.


"Katakan.....!!!" terial Bagas


"Aku...... "


"Cepat katakan....!!! " Hardik Revan


Perlahan Luna pun mengangkat kepalanya kemudian ia menatap tajam ke arah Bagas dan juga Revan, air matanya tidak berhenti mengalir seolah kini ia sedang merasakan perasaan yang sangat sakit.Di lihat dari matanya ia terlihat seperti menanggug beban yang sangat berat.


" Kau ingin tahu kenapa aku melakukannya, kau dengarkan ini baik-baik aku sangat membenci putrimu Areta dia sudah merebut pria yang sangat aku cintai Arkana Wijaya. Aku sudah mencintainya karena selama bertahun-tahun tapi malah gadis urakan itu yang mendapatkannya. Aku sangat membencinya. kau dengar itu aku sangat membencinya.....!!!" teriak Luna


"Kau...!!!! "tunjuk Revan dengan sangat berang hampir saja ia melayangkan tangannya untuk memukul Luna.


" Dan untuk putrimu Sabrina dia hanya tertimpa sial saja seharusnya karena seharusnya Aretalah yang terluka. Tapi itu tidak masalah karena aku juga sangat senang melihatnya terluka Aku tidak suka melihat Sabrina maupun Areta bahagia. Hidup mereka terlalu sempurna....!!!" teriak Luna dengan histeris dan juga menjambak rambutnya dengan kencang.


Melihat reaksi Luna yang seperti itu Revan dan juga Bagas berpikir jika mungkin saja Luna terkena tekanan mental hingga ia tidak bisa berpikir dengan baik. Mungkin hidupnya dalam kesepian itu membuatnya tidak bisa berbagi dengan siapapun, dan membuat hidupnya menjadi tertekan.


Bagas dan Revan berniat mengakhiri semua ini, dan mereka hanya ingin memberi peringatan terhadap Luna agar tidak melakukan kesalahan yang sama.


Namun Luna melihat sebuah pisau yang terletak tidak jauh dari dirinya, dan dengan segera ia mengambil pisau itu, dan ia ingin melukai Bagas. Untung saja Bagas bisa sedikit menghindarinya dan ia tidak terluka parah dan hanya terkena goresan saja di tangannya.


"Kau benar-benar sakit jiwa..... " ucap Revan melihat tingkah Luna yang sudah sangat keterlaluan.


"Bawa gadis gila itu....!!! " tegas Bagas, namun Luna malah tertawa saja melihat mereka.Bagas dan Revan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Luna. Hingga mereka memutuskan untuk membawa Luna karena takut berbuat nekad dan melukai dirinya sendiri.


"Bagas kau tidak apa-apa?" Tanya Revan yang khawatir melihat keadaan Bagas yang berdarah.


"Oh astaga....semalam aku mimpi apa sampai bisa di serang oleh orang gila " ucap Bagas


"Ayo kita pergi kau harus segera di obati" ucap Revan.


"Aku ingin di obati Siena, tolong telepon dia dan bilang jika aku berdarah.... " ucal Bagas


"Aku ingin sekali menghajarmu sekarang" ucap Revan, yang merasa gemas dengan tingkah asistent adiknya ini.


Likenya kencengin dong 😚😚😚