
Pagi ini Arka berangkat ke kantor tanpa Areta, kedatangannya yang sendirian membuat Luna sangat bahagia karena hari ini ia bisa mendekati Arka tanpa pengganggu. Karena jika ada Areta di kantor Luna tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mendekatinya.
"Pagi....." Sapa Luna
"Pagi Luna.... " jawab Arka, seperti orang yang kasmaran Luna sangat bahagia saat melihat Arka dan bisa satu ruangan dan hanya berdua saja.
Tok
Tok
Tok
"Masuk....." jawab Arka
"Selamat pagi Pak... " sapa para Office Boy yang berada di hadapan Arka, ada tiga orang Office Boy yang kini ada di ruangan Arka. Luna merasa heran ada apa mereka bertiga masuk ke ruangan Arka.
"Apa Pak Arka memanggil kami? "tanya salah satu dari mereka.
"Iya... aku minta tolong pada kalian tolong bantu pindahkan meja dan semua peralatan dari sekretarisku. Luna terkejut mendengarnya, memangnya mau dibawa kemana pikir Luna.
"A-Arka mau di bawa kemana tempat kerjaku dan semuanya apa aku di pecat? "tanya Luna
"Tidak.... tapi hanya memindahkan ruangannya saja. Kau bekerja di ruangan depan agar jika ada tamu atau hal lain kau bisa memberitahuku dulu agar mereka tidak sembarangan masuk ke ruanganku" jawab Arka.
"A-apa...." Luna merasa tidak percaya dengan apa. yang Arka ucapkan.
"Ini perintah Dadyku.... "jawab Arka yang sebenarnya itu adalah permintaan Areta. Hanya tidak mungkin Arka mengatakannya pada Luna. Takut jika Luna salah paham padanya.
"Oh.... "jawab Luna dengan lesu.
"Luna.... "panggil Arka
"Iya ada apa? "tanya Luna
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu? "tanya Arka
"Sesuatu, tentang apa? "tanya Luna.
"Saat kau kemarin menyusul Areta ke toilet. Apa benar kau tidak melihat istriku di sana? "tanya Arka.
Deg.....
Perasaan cemas kini meliputi hati Luna, apa Arka sudah tahu jika sebenarnya ia membiarkan Areta dengan sengaja terkurung di sana. Jika benar habislah sudah...
"A-pa, tentu tidak Arka. Jika aku melihatnya aku pasti akan memberitahukan Areta jika kita sedang menunggu" jawab Luna dengan merasa sangat ketakutan.
"Apa kau juga tidak mendengar suara ?"tanya Arka lagi.
"T-tidak memangnya kenapa? "tanya Luna dengan takut namun berusaha menutupinya dengan memasang foto wajah pura-pura tidak tahu.
"Apa.... tapi Arka aku juga benar-benar tidak tahu. Sungguh, saat aku kesana tidak ada siapa pun di toilet.Aku tidak berbohong" ucap Luna, Arka hanya diam saja sambil menatap dalam kepada Luna membuat jantung Luna berdetak lebih kencang dari biasanya. Bukan karena merasa senang di tatap oleh Arka, tapi ia merasa sangat takut saat di tatap tajam seperti itu.
Arka pun kembali duduk di kursi kerjanya, tanpa berbicara apapun. Dan Luna membereskan barang-barangnya yang akan ia pindahkan ke ruangan depan persisnya dekat dengan pintu ruangan Arka ini.
Luna sekarang merasa seperti seorang penjaga saja. Kenapa Arka hanya memindahkan barang-barangnya tapi tidak dengan barang Areta. Membuat Luna semakin cemburu saja, kenapa Arka hanya menyuruh dirinya saja untuk pindah ruangan kenapa tidak dengan Areta.
Seperti membaca apa yang di pikirkan oleh Luna, karena sedari tadi ia menatap meja kerja Areta.
"Areta asistenku.... jadi dia bekerja harus berada dekat denganku karena dia yang akan mengatur semua jadwal dan juga pekerjaanku" ucap Arka.
"Oh iya.... aku mengerti " ucap Luna.
"Ada apa dengannya, apa benar apa yang dikatakan oleh Areta jika Luna itu..... " Arka menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
*
*
"Livia....!!" panggil Davin pada Livia.
"Ada apa...." jawab Livia dengan malas, padahal ia baru sampai di kantor tapi Livia harus melihat wajah Davin yang entah kenapa membuatnya sangat jengah sekarang.
"Apa kau yang melakukannya....?" tanya Davin
"Melakukan apa....?" Livia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh mantan kekasihnya itu.
"Ckk..... jangan berpura-pura dengannku. Aku tahu kau mengerti maksudku.. "ucap Davin.
"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih bertanya Davin. Kau hanya buang-buang waktu "ucap Livia lagi.
"Astaga ternyata kau wanita yang sangat jahat.. "
"Benarkah, tapi kenapa aku merasa kalau aku ini sangat pintar, hingga kau bisa aku bodohi sampai sejauh ini" ucap Livia dengan wajah sinisnya dan meninggalkan Davin sendiri.
"Sial.....!!!"
*
*
*
Minta likenya dong....