MARRIED WITH MR PENGUIN

MARRIED WITH MR PENGUIN
Bab 14



Lumayan lama mereka tertidur dengan posisi itu, hangat dan nyaman mungkin itu yang mereka rasakan kini. Karena udara pegunungan memang sangat dingin di sana.


Arka mulai membuka mata, rasa lapar mulai mengganggu tidurnya saat ini. Arka melihat Aretha yang masih betah memeluknya, Arka pun kemudian melepaskan pelukan Aretha dengan perlahan. Bahaya jika ia sampai terbangun dan menelepon abon genit itu untuk memeluknya.


Sifat abon junior itu memang banyak menurun dari Sasako. Sudah bicaranya menyebalkan, mata keranjang pula. Selalu membuka matanya lebar-lebar jika melihat wanita cantik. Apalagi Aretha gadis yang sangat cantik dan menggemaskan. Dia pasti rela jauh-jaih datang menemui Aretha demi memeluk tubuh mungil ini.


Awas saja jika itu sampai terjadi, Arka tidak akan segan-segan mengajaknya bergulat. Dia tidak rela istri yang belum di cintainya itu di peluk oleh orang lain.


Dengan perlahan Arka terbangun, ia ingin mandi dulu sebelum makan. Karena tubuhnya terasa tidak nyaman jika belum mandi.


*


*


Arka pun sudah selesai mandi dan melihat Aretha sudah bangun dan sedang duduk selonjoran di ranjang. Arka lupa tidak membawa pakaian dan hanya memakai handuk saja, Aretha menatap Arka dengan tatapan jahil.


Arka merasa heran dengan teman kecilnya ini kenapa tidak pernah merasa malu sama sekali melihatnya dalam keadaan seperti ini. Biasanya seorang perempuan akan merasa malu jika melihat pria dengan penampilan hanya memakai handuk saja. Tapi Aretha, lihatlah bagaimana ia memandang Arka. Tatapannya sama sekali tidak ada malu-malunya sama sekali padanya.


"Ya ampuuun mas penguin seksih banget sihhh... " ucap Aretha


"Balikan tubuhmu dan jangan mengintipku, aku mau mengambil baju dulu" titah Arka dengan tatapan waspada karena ia takut dengan sifat jahil Aretha. Takut-takut jika nanti Aretha menarik handuknya hingga burung perkututnya kelihatan menjuntai nanti, namun Aretha tidak peduli dengan Arka dan masih memandang dengan senyum anehnya.


"Gak mau... aku mau liat " jawab Aretha masih dengan senyum jahil nya.


"Dasar tukang ngintip menyebalkan.... " Arka mengambil baju dari lemari dengan cepat karena Aretha tidak mau repot-repot menutup matanya, ia malah dengan sengaja membuka matanya lebar-lebar untuk melihat Arka.


"Nengok kesini dong, aku mau liat " ucap Aretha sambil tertawa menyebalkan.


" Tidak mau.... " Arka pun langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


*


*


*


Setelah semuanya selesai Arka mengambil laptopnya dan memeriksa emailnya, dan melihat banyak sekali email yang masuk. Salah satunya adalah email dari pelamar yang melamar kerja menjadi sekretarisnya.


Ada salah satu email yang menarik perhatianya, yaitu dari salah satu pelamar yang ternyata dia adalah Luna. Teman kuliahnya dulu.


Arka pun langsung membalas emailnya dan meminta Luna untuk datang beberapa hari lagi untuk interview. Setelah acara bukan madunya selesai dengan Aretha. Karena Arka pikir jika sekretarisnya adalah temannya mama ia tidak akan ragu untuk meminta tolong padanya nanti.


Lagi pula Luna bukan gadis genit seperti Livia, maka dari itu Arka merasa aman-aman saja.


*


*


*


Seorang gadis cantik merasa senang emailnya di balas oleh Arka, dia terus mengeluarkan senyum manisnya. Dia adalah Luna teman kuliah Arka yang melamar menjadi sekretarisnya.


Setelah sekian lama Luna ingin sekali bertemu dengan Arkana. Namun ia tidak pernah mempunyai kesempatan karena Arka bukan pria yang mudah diajak bertemu. Dan Luna tahu pasti jika Arka mengetahui dia menyukainya maka Arka akan semakin menjauh. Karena dari dulu Arka sangat merasa tidak nyaman jika ada seorang gadis yang menyukainya. Untuk itu Luna bersikap senormal mungkin agar Arka tidak menjauhinya dan menganggapnya pengganggu.


" Arka... aku sangat merindukanmu " gumam Luna tersenyum bahagia