
Yogi masih setia menunggu Bima untuk bangun, sudah 2 hari berganti sejak dia tau Morina belum meninggal tapi dia juga belum yakin karena anak buahnya belum memberi kabar.
"Bos!!" Teriak Jojo anak buah kepercayaan Yogi itu.
"Apa Jo? Ada kabar?" Tanya Yogi yang sedikit kesal dengan Jojo.
"Iya, nyonya Morina memang masih hidup." Pekik Jojo membuat Yogi sangat senang tapi tidak dengan Bima yang tiba-tiba menunjukkan gerakan. Bahkan tubuhnya terlonjak dan bergetar hebat.
Yogi yang panik langsung menekan tombol darurat, beberapa dokter berlari masuk ke ruangan Bima dan memeriksa keadaannya.
"Gimana Sam?" Tanya Yogi yang masih cemas dengan keadaan Bima saat ini.
"Sudah stabil, serangan jantung mendadak, sesuatu sepertinya membuatnya syok." Jawab Sam yang sudah merapikan kembali alat-alatnya.
"Ya, tadi kami membicarakan Morina yang masih hidup." Jawab Yogi dan Sam mengangguk.
"Sepertinya dia mendengar itu dan memicu serangan jantung, pelan-pelan bicara terus padanya. Apa yang membuat semangat hidupnya kembali." Jelas Sam dan Yogi tentu akan melakukan itu.
Yogi mendekat pada Bima, bos sekaligus sahabatnya itu tampak sangat menyedihkan. Entah apa dosanya hingga melewati hal seperti ini, padahal Bima adalah orang yang baik dan penyabar.
\~\~\~\~\~\~\~
\~\~\~\~\~\~\~\~
"Mereka sudah masuk ke ruang kerja Indra, seperti sedang membahas sesuatu." Lapor Jarwo yang sejak tadi memantau layar yang terhubung ke kamera tersembunyi.
"Ella, kirimkan foto itu." Kata Aster dan Ella segera melakukannya dan ting!
Tampak Lilian melihat ponselnya lalu membanting ponsel itu dan memaki dengan kata kasar pada Indra yang sedang fokus ke laptopnya.
"Ada apa sih?" Bentak Indra yang juga kesal karena Lilian tiba-tiba bertingkah aneh.
"Kau brengsek! Lihat, bisa-bisanya kau selingkuh dengan pelayan murahan. Apa gak cukup aku selama ini untukmu?" Teriak Lilian murka.
Setelah meluapkan emosinya, tercium wangi bunga yang sangat memabukkan. Indra dan Lilian langsung merasakan emosi yang tidak terbendung lagi.
"Murahan? Lalu kau apa? Kau wanita ******, pelacur yang aku angkat derajatnya dan sekarang kau sudah jadi nyonya maka sesuka hatimu mengakatan murahan?" Indra balik teriak dengan emosi meluapkan semua isi hatinya dengan jujur.
"Kau yang mau mengangkatku, kau bilang akan menerimaku apa adanya, apapun masa laluku dan sekarang kau mengungkitnya!" Balas Lilian tak kalah kerasnya.
"Jadi apa maumu? aku sudah mau menikahimu. Apa lagi?"
"Kau brengsek, aku sudah berkorban banyak untukmu sampai membuat Bima celaka dan ini balasanmu?
"Kau! Jangan mengungkitnya! Kau juga sama, istriku juga kau yang bunuh untuk dapat hartanya kan? Tapi apa? Tidak ada saham untukmu, semua milik Randy."
"Jangan kau kira aku tidak tau, kecelakaan Bima bukan murni kecelakaan. Kau yang memukul kakinya hingga remuk. Kau juga yang membubuhkan racun agar jantungnya tidak bisa sembuh. Aku tau semuanya!!"
Lilian membeberkan semua yang dia tau, Lilian lalu menatap lukisan yang ada di belakang Indra dengan sangat lama.
Keributan mereka teramkan dengan jelas dan Ella juga Aster bersorak bahagia saat mendapatkan pengakuan itu.
"Ada yang aneh dengan tatapan Lilian, dia sepertinya melihat ke arah kamera. Tapi tidak mungkin dia tau ada kamera disana kan?"
Ella mulai curiga dengan lukisan yang pernah diceritakan oleh Seina padanya, di ruang kerja Indra ada sebuah lukisan aneh, tidak ada bentuk yang bagus dari lukisan itu hanya coretan tak berarti.
Seina hanya memasang kamera di atas lukisan dan tidak menyentuh lukisan itu sama sekali jadi tidak tau apa dibaliknya.
"Besok aku akan kesana, alasan ada barang yang tertinggal saja." Kata Ella dan Aster mengangguk.
"Tetap kami antar, kalau terjadi apa-apa teriak saja." Kata Aster dan Ella mengangguk.
.
.
.
Siang hari Ella sudah ada di pintu belakang rumah Indra, dengan alasan barang yang tertinggal tentu security membiarkannya masuk.
"Barang apa?" Tanya Betty curiga.
"Hari terakhir kerja aku terjatuh di taman belakang, mungkin kunci lemariku jatuh disana. Sudah 2 hari ini aku gak bisa buka lemari mba." Jelas Ella dengan wajah memelas.
"Pergilah, jangan lama." Ketus Betty dan Ella segera ke taman. Di sebuah jendela yang ternyata adalah jendela ruang kerja Indra, Ella berusaha membukanya dengan keahlian yang dia pelajari dari Seina tentunya.
"Yes berhasil!" Pekik Ella tanpa suara, gadis itu langsung melompat masuk dan memeriksa lukisan besar di belakang meja kerja Indra. Dengan seksama dia melihat dan tidak ada yang menarik hanya aneh saja. Ella perlahan melepaskan semua kamera yang ada di ruangan itu lalu tidak sengaja sesuatu jatuh dari balik lukisan.
"Apa ini?" Ella bergumam melihat sebuah kotak kecil yang didalamnya ternyata memory card ponsel, Ella mennyimpannya di saku lalu segera keluar lagi melalui jendela.
"Huh.. untung sudah keluar dari sana." Lirik Ella begitu dia melihat Betty sudah jalan ke arahnya.
"Ketemu?" Tanya Betty dan Ella menggeleng.
"Boleh aku cari ke dalam mba?" Tanya Ella dan tentu tidak boleh.
"Pergi dari sini sebelum nyonya pulang." Usir Betty dengan ketus. Ella mau tak mau akhirnya pergi dari rumah itu.
"Gimana dapat?" Tanya Aster begitu Ella kembali ke mobil.
"Dapat dong... tapi cuma bisa lepas kamera ruang kerja, sisanya gak bisa." Jawab Ella dan Aster menepuk bahunya.
"Good job, besok aku yang kesana." Kata Aster sambil tersenyum.
"Aku juga dapat ini.." Ella mengeluarkan kotak tadi, "Tapi.. lihat dirumah aja ya, perasaanku gak enak."
"Ok.."
Aster dan Ella pulang ke rumah Ella karena lebih leluasa mengerjakan apapun. Ella segera membuka file yang ada di dalam memory card itu dan betapa terkejutnya mereka dengan video yang mereka tonton.
File 3 November
Terlihat seorang pria yang sudah cukup tua sedang duduk seperti menunggu seseorang. Tak lama masuk lah seorang wanita di ruang kerja itu.
Lilian lah yang datang untuk bertemu dengan ayah dari Indra, Tuan Bagas.
"Ada apa Tuan memanggil saya malam-malam begini?" Tanya Lilian dengan wajah sombongnya.
"Tinggalkan Indra, kau tidak pantas di sampingnya, dia sudah menikah dan akan mempunyai anak." Kata Bagas dengan tegas tanpa basa-basi.
"Hahaha.. anda lucu sekali Tuan, anak anda yang tergila-gila pada saya." Sahut Lilian.
"Berapa yang kau mau, sebutkan."
"Aku? Ehm... bagaimana kalau seluruh harta keluaga ini dan nama besar keluarga anda?"
Bagas begitu geram melihat kesombongan wanita panggilan ini yang berusaha masuk ke keluarga nya.
"Jangan anggap remeh keluarga kami, aku bisa menghancurkan mu saat ini juga." Bagas tidak punya pilihan selain mengancam Lilian.
"Coba saja kalau anda bisa, putra anda tinggal 1 kan? Atau nasibnya akan sama denganku nantinya." Lilian tak gentar, membuat emosi Bagas makin tersulut.
"Jangan macam-macam wanita murahan!" Hardik Bagas dan Lilian masih tersenyum sinis melihat Bagas.
"Anda yang jangan mengancam saya, oh... saya beritahu 1 rahasia. Putra tertua anda yang selalu anda banggakan, sudah tidak berguna. Anda tau siapa pelakunya?" Lilian terlihat memancing amarah Bagas dengan perkataannya.
"Apa maksudmu? Jangan mengada-ada, Bima kecelakaan." Bentak Bagas lagi.
"Tidak Tuan besar, Indra yang telah membuat kakaknya cacat. Aku punya buktinya." Kata Lilian lagi, karena emosi yang tidak terkontrol Bagas akhirnya menampar Lilian.
"Kau, tua bangka! Sebaiknya mati saja!" Lilian mendorong Bagas, namun kekuatannya tidak bisa merobohkan Bagas begitu saja.
"Baiklah, lihat ini baik-baik." Lilian memutas sebuah video dari ponselnya, seketika Bagas juga terhuyung sambil memegang dadanya. Dia syok dan serangan jantung membuatnya tumbang. Tapi naasnya saat dia terjatuh, kepala bagian belakangnya malah terbentur sudut meja.
Lilian panik dan segera berlari keluar dari rumah itu yang terlihat sepi. Sekitar setengah jam, Lilian kembali dengan seorang pria. Mereka terlihat memebersihkan area itu dari hal apapun yang menyangkut Lilian sampai pria itu yang adalah Aditya menyentuh kamera cctv dan video selesai.
\~\~\~