Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 42 - The Case (Deadly Bullying 4)



"Hemm... Vina dan Riska... Vina Riska.. Vin.. Risss... Riska... "


Ella bergumam terus menerus membuat Aster bingung melihat sahabatnya itu. Ella sejak tadi merebahkan dirinya di hamparan rumput hijau di belakang sekolah. Mereka sedang santai menunggu jemputan yang baru akan datang 1 jam lagi.


"Vi..kaa... Vi na Ris ka Vi ka Vi.. ka Vi ss kaa  Vis...kaaa.."


"AAAHHH.. iya itu dia."


"Apa sih Ella... kaget tau!"


Ella berteriak karna dia baru sadar antara kedua nama itu, membuat Aster terkejut dan kesal setengah mati.


"Ini loh... Vina dan Riska jadinya Viska." Ulang Ella dan akhirnya Aster juga sadar akan kedua nama itu.


"Kita harus cari yang namanya Riska, dia pasti teman Vina yang mengirim email ke kita." Ella semakin semangat dan beranjak dari rebahannya.


"Besok aja, kita harus pulang sebentar lagi. Gerbang juga tutupnya 1 jam dari sekarang." Tolak Aster karena sudah jam 3 sore. Untuk hari senin dan selasa sekolah akan tutup cepat, Rabu sampai Jumat sekolah tutup jam 5 sore.


"Oh iya.. yaudah besok aja."


.


.


Keesokan harinya, ruang kelas tampak aneh karena wajah semua teman sekelas Ella dan Aster tampak tegang. Biasanya beberapa teman akan menyapa Ella dengan ramah malah sekarang hanya diam tanpa menatapnya sama sekali.


Ella menuju meja tempatnya di bagian tengah barisan kanan dan Aster bagian belakang sebelah kiri. Saat Ella melewati Vani, dia terjatuh.


"Eh.. maaf, gak sengaja." Seru Vani dengan panik, Ella pun berdiri sendiri dan dengan senyum ramahnya dia menggeleng, "Gak apa-apa." Lalu lanjut ke arah tempatnya.


Ella meringis dan mengelus lutut kanannya yang terbentur keramik. Tidak luka hanya sedikit memar saja. Sedangkan Aster terus melihat ke Ella dengan khawatir.


Kesulitan mereka untuk mencari informasi di disini adalah, pertama, mereka dilarang menggunakan ponsel saat belajar. Ponsel hanya boleh di bawa sewaktu selesai pelajaran terakhir selebihnya akan disimpan dalam loker.


Kedua, seluruh gedung hanya sampai koridor yang ada cctv, kelas dan ruang guru hanya ada di pintu.


Ketiga, keamanan di HIS sangat ketat. Marcello sampai saat ini masih mencoba meretas cctv disana.


Proses belajar berlangsung sangat baik, bahkan Ella bisa dengan mudah menjawab seluruh soal matematika yang baru saja kelas itu pelajari.


Ella sengaja mencolok dalam hal belajar karena menurut video yang mereka terima tadi malam, Vina mendapat perundungan dari beberapa siswi karena mendapat nilai A dalam matematika dan pelajaran bahasa asing.


"Kau harus jadi yang terpintar." Ella ingat ucapan Aster padanya tadi pagi dan Ella memulai misinya.


Sementara Riska, duduk lesu di kelasnya. Dia sejak beberapa hari lalu menjadi samsaknya Vina yang sedang kesal dengan anak baru bernama Viona dan Riska lah yang jadi pelampiasan kemarahannya. Riska adalah target baru Vani dkk.


Bel istirahat berbunyi dan Riska masih ada di kelasnya, dia malas keluar meskipun perutnya lapar. Takut bertemu Vina dkk.


Sementara itu, Ella dan Aster mencari seseorang bernama Riska pada setiap orang yang mereka temui disekolah itu. Mereka kesal dengan Javier karena tidak mau bertanya lagi pada siswa yang memberitahunya tentang Riska. Katanya siswi itu tidak cantik jadi dia tidak mau bicara duluan dengannya.


"Hai.. apa kau kenal Riska?" Tanya Aster pada salah satu siswa yang melewatinya.


"Riska? Banyak yang bernama Riska di sini." Jawab siswa tersebut.


"Hem.. Riska, aahh dia ikut ekskul akting atau drama gitu?" Lanjut Aster.


"Ohh Riska yang itu, dia di kelasnya. Kelas B3 di lantai 2 paling ujung." Jawab siswa itu membuat Aster tersenyum. Siswa itu langsung terpaku melihat senyum cantik Aster.


"Terima kasih ya.." Kata Aster dengan ramah dan siswa itu hanya mengangguk beberapa kali.


"Hei.. malah ngerayu.." Ella menepuk pundak Aster dan lagi siswa itu terbengong melihat Ella yang cantik dan imut.


"Permisi ya.." Kata Ella dan menarik lengan Aster menjauh dari sana.


"Halo.. kamu Riska?" Tanya Aster setelah melihat name tag di dada siswi itu. Riska mengangguk.


"Kamu teman Vina?" Tanya Ella tanpa berbasa basi.


"Kalian siapa dan aku bukan teman Vina." Sangkalnya dengan perasaan takut namun ditahan oleh Riska.


"Kamu Viska yang kirim email pada kami?" Lanjut Aster membuat Riska kaget bukan main.


"Kalian..."


"Ya itu kami dan tolong rahasiakan agar kami bisa membantu Vina." Bisik Aster sangat pelan. Riska masih tak percaya karena yang akan membantu mereka adalah gadis remaja seperti dirinya.


"Tapi kalian juga anak SMA bagaimana bisa?" Tanya Riska meragu.


"Hihihi tenang aja.. aman kok, yuk ketempat lain agar bisa biacara." Ella menarik lengan Riska agar segera keluar dari kelas itu.


"Sssttt aduh.." Riska meringis dan mengaduh kesakitan. Ella terkejut dan berbalik melihat Riska yang sudah menarik tangannya dan terlihat lengan seragam putih itu sudah memerah.


"Kamu terluka?" Tanya Aster sedikit panik. Riska menyimpan lengannya kebelakang tubuhnya tapi Ella dengan cepat kebelakang dan menarik lagi tangannya dan membuka lengan seragam itu.


"Astaga, ada apa ini!!" Pekik Ella dan Aster juga melihat wajah Riska yang tiba-tiba memucat. Aster mengira pasti ada luka lain di tubuh Riska.


Aster membawa Riska dengan sedikit memaksa sampai akhirnya mereka bisa sampai ke ruang UKS yang untungnya tidak ada orang disana. Ella segera mengunci pintu dan sekali lagi memaksa Riska membuka pakaiannya.


Riska memberontak tapi akhirnya Aster dan Ella tercengang melihat luka pada tubuh Riska. Seperti bekas cambukan.


"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Ella, tidak ada wajah imut dan manisnya lagi malah yang terlihat adalah tatapan tajam dan raut wajah marah. Begitu juga Aster.


Riska menarik kembali seragamnya dan mengancingkannya sementara Ella dan Aster menunggu dia menjawab.


"Aku ragu kalian bisa atasi ini, bahkan polisi juga menutupinya dan gak mau lakukan penyelidikan." Jawab Riska dengan takut-takut.


"Kami sudah masuk ke sekolah ini dan kau meragukan kami?" Sinis Aster membuat Riska kembali menunduk.


"Ok kalau kau takut, sebutkan saja nama orang yang membuatmu begini. Lupakan sejenak tentang Vina." Ucap Ella kali ini dengan lembut, dia sadar kondisi Riska tidak baik, fisik dan mentalnya sedang lemah.


"Ya, kami akan selidiki dengan diam-diam dulu setelah tau barulah kami akan memikirkan bagaimana selanjutnya untuk selesaikan masalah ini." Lanjut Aster membuat Riska sedikit percaya.


"Vani." Hanya 1 nama yang diucapkan oleh Riska dengan pelan, bahkan sangat pelan.


"Dan dia benci padamu." Riska mendongak dan melihat ke arah Ella.


"AKU?" Ella terperanjat sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Mungkin, tadi dia sengaja membuatmu jatuh kan di kelas?" Aster merepon dan Ella mengangguk.


"Dia suka anak baru itu.. yang katanya tampan tapi aku lupa siapa namanya." Lanjut Riska membuat Aster dan Ella saling pandang.


"JAVIER." Saru mereka bersamaan.


"Javier?" Riska mengerutkan dahinya.


"Eh Javien.. Sorry typo nih bibir." Ella menepuk bibirnya pelan.


"Iya Javien." Sahut Aster memastikan.


"Setidaknya sudah tau siapa dalangnya dan apa hebatnya dia sampai sekolah pun melindunginya?" Tanya Aster pada Riska, akhirnya mereka duduk bertiga di salah satu brankar disana.


Vani pasti cemburu melihat kedekatan Ella dan Javier hingga melampiaskan amarahnya pada Riska.


TBC~