
Seorang pria terlihat panik di ruangan yang tampak seperti kamar dan menggigiti kuku tangannya. Dia mondar mandir sejak 10 menit lalu karena ragu dengan email yang harus dia kirim atau tidak.
"Isshh.. gimana kalau ketauan?" Gumamnya lirih dan kembali membaca tulisan email itu. Akhirnya dia takut dan meninggalkan laptopnya begitu saja tanpa mengirimkan emailnya.
Tapi....
'Klik'
Email itu terkirim
\= = = = =
"Ada email masuk." Kata Ella saat mendapatkan notifikasi email dari ponselnya.
'Dia datang dan dengan senyumnya membuat kami terpesona. Senyum manis dan menawan. Tapi hatinya malah jatuh ke tempat yang salah. Ke tempat yang tidak bisa menghargainya. Usahanya sia-sia sampai dia menjadi pengantin yang cantik namun semuanya berakhir saat nyawa pun tak ada artinya. Kepercayaan kalah dengan uang, cinta kalah dengan kebusukan. 21 Februari 2020.'
"Apa maksudnya sih? Ini orang selalu kasih clue susah amat!" Gerutu Ella kesal karena kepalanya rasanya mau pecah.
"Mungkin maksudnya itu Yunita dan mereka bertemu di tanggal ini." Tebak Aster yang makin membuat Ella bingung.
Ting..
Sebuah notif masuk ke ponsel mereka, Aster yang membuka group dan Marcello mengirimkan 1 kalimat yang membuat mereka langsung terbelalak.
"21 Februari 2020, video pertama yang di posting Redy. Cek utub."
"Kita pulang dulu, lebih enak di rumah." Ella menarik lengan Aster dan mereka bersama pulang ke rumah Ella karena lebih leluasa. Tidak ada Vered yang terkadang suka mengganggu.
.
.
"Siang tante..." Sapa Aster pada Imelda yang sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga.
"Siang anak-anak cantik." Balas Imelda. "Tumben udah pulang?" Tanya Imelda sedikit heran.
"Hehehe mau nonton ma.. nanggung kemaren belum selesai, tapi bikin tugas dulu. Kami makan di kamar aja ma.. tolong kasih tau bibi." Ella menjawab dan mereka langsung naik ke atas menuju kamar Ella. Imelda hanya tersenyum lalu beranjak kedapur.
"Bibi.. tolong antar makan siang dan minuman untuk Ella dan Aster ya.."
"Ya, nyonya.."
Imelda memotong beberapa buah dan mengambil kue untuk cemilan anak-anak gadisnya.
Di kamar,
"Jadi bikin tugas dulu?" Tanya Aster dan Ella mengangguk.
"Eh tapi.. makan dulu, laper." Jawab Ella dan tak lama bibi dan Imelda sudah mengantarkan makanan mereka. Setelah makan Ella mengerjakan tugas dari Carmen dan Aster yang memang sudah tidak ada kerjaan langsung membuka utub Redy dan menontonnya.
Setengah jam berlalu,
"Dapet sesuatu?" Tanya Ella dan Aster menggeleng, matanya tidak beranjak dari monitor di depannya. Namun hanya beberapa detik, "Ada!"
Aster teriak lumayan kencang membuat Ella sedikit terkejut.
"Kepercayaan kalah dengan uang.. apa maksudnya ya?" Gumam Ella sambil berpikir.
"Konten ini tentang apa sih?" Tanya Ella lagi.
"Biasa seperti diawal cuma yah.. uang yang mereka keluarkan gak begitu banyak, mungkin belum dapat cuan dari konten mereka." Jawab Aster dan mengklik play lagi video itu.
@@@@@
"Shitt.. kenapa malah terkirim?" Seorang pemuda tampak semakin panik saat melihat email yang sudah dia ketik malah terkirim padahal dia tidak jadi mengirimnya. Dia segera menghapus riwayat pesan apapun lalu menutup laptopnya.
"Lama banget sih!! Kita udah telat tau.. lo tuh lelet, waktu adalah uang." Terlihat Redy sedang marah-marah pada pemuda itu.
"Bima! Malah bengong.. cepat!" Hardiknya kesal melihat asistennya masih terbengong, sekilas Bima melihat sosok Yunita tapi mungkin hanya perasaannya saja.
"Kita kemana sekarang?" Tanya Redy dan Bima membuka ponselnya dan melihat jadwal apa saja siang ini.
"Ke daerah xxx disana banyak pemulung dan konten kali ini lu bikin games dan siapa nama terpanjang lo kasih duit sesuai jumlah huruf nama mereka." Jelas Bima secara singkat dan Redy hanya mengangguk.
Mereka memang hanya berdua saja, Bima sebagai kameramen dan asisten. Dulu ada seseorang tapi Redy tidak suka jika terlalu banyak orang yang tau tabiat aslinya.
"Udah sampe Red, lo buruan cari incaran lo." Lapor Bima saat melihat Redy sedang memejamkan mata.
"Hem.. kalo bukan duitnya gede malas deket-deket orang spek kaya mereka. Miskin, bodoh, bau lagi." Gerutu Redy lalu turun dari mobilnya dengan peralatan yang sudah di pasang oleh Bima.
Hanya 20 menit sebanyak 7 orang sudah dia bantu dan diberi uang. Redy dan Bima kembali ke mobil, dari wajah yang senyum ramah, wajah Redy kembali terlihat kesal dan tak bersahabat.
Redy yang gerah langsung membuka kemejanya dan hanya tinggal kaos putih di tubuhnya, menyemprotkan parfum hingga mencuci tangan dengan handsanitizer. Bima hanya menggeleng pelan, melihat ada orang yang sama sekali tidak tulus.
"Red, gimana kalo polisi temukan bukti tentang Yunita?" Tanya Bima saat keduanya hening.
"Gak bakal, aku udah beli lagi kancing itu." Jawab Redy dengan yakin.
"Tapi toko itu hanya menjahit 10 jaket yang sama." Lanjut Bima membuat Redy begitu dongkol.
Plakk
"Jangan ngomong aneh-aneh, lo tuh bego atau apa? Toko itu terpercaya. Lagian bilang aja kalo kancing itu hilang saat kita ke laut waktu itu."
Bima hanya menghela, dia sungguh lelah bekerja dengan Redy. Malangnya nasib Yunita yang begitu baik. Tapi Bima juga takut, ingin lari dari Redy juga tidak bisa. Dia sungguh tidak punya apapun jika pergi dari Redy.
Dengan hanya tamatan SMP dia bisa kerja apa? Redy dan Yunita yang mengajari pemuda 19 tahun itu tentang semua yang dia bisa saat ini. Tabungan juga masih sedikit karena semua habis untuk sekolah adiknya di kampung.
Sesampainya di kost, Bima membuka kembali laptopnya dan lanjut mengedit video untuk di satukan dengan rekaman dari beberapa hari lalu untuk di posting. Beginilah sehari-hari Bima yang saat ini berusaha menolong Yunita namun masih ragu.
Bima melihat buku tabungannya yang hanya kurang dari 20juta, mau apa dengan uang segini di ibu kota?
Gaji bekerja dengan Redy juga tidak banyak, dari pendapatan Redy yang ratusan juga dalam sehari Bima hanya di gaji 8 juta. Memang kost dan makan semua ditanggung tapi tentu tidak cukup untuknya dan keluarga di kampung.
"Aku harus cari cara agar Yunita dapat keadilan tanpa ada yang tau kalau aku membantunya." Ucap Bima dengan yakin, dia sangat merasa bersalah pada Yunita karena wanita itu lah yang mengajarkan semua yang dia bisa saat ini.
TBC ~