Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 53



Di Saros Studio, Ella yang masih kesal dan bingung tidak tau harus berbuat apa. Dia belum pernah, sama sekali belum pernah yang namanya akting, berpose atau apapun itu.


"Pakaikan dress putih itu." Tunjuk Linda pada salah satu dress putih dengan dada rendah bertali spageti.


Ella membola matanya melihat dress yang menurutnya sangat seksi itu, hendak protes tapi dia sudah diseret lagi.


'Mau mengumpat bole gak si? Eh tapi jangan ada Oktav nanti image ku jadi jelek.' Ella membatin, dia tidak bisa berbuat apapun.


'Aku punya ide.' Ucapnya dalam hati.


"Bu Linda, saya kan masih kuliah trus kalau tiba-tiba jadi model begini nanti orang tuaku bagaimana? Mereka pasti tidak izinkan." Tanya Ella dengan memasang wajah memelas.


Bukan hanya Linda tapi Oktav juga menoleh padanya, Oktav gemas melihat gadis itu yang saat ini berakting dengan lembut.


"Trus saya juga tidak bisa akting atau berpose." Lanjut Ella lagi. Oktav hampir menyemburkan tawanya.


'Tidak bisa akting dari mana? itu dia sedang akting.' Batin Oktav menahan tawa.


"Orang tuamu sudah setuju. Nanti kami berikan surat kontraknya." Bukan Linda yang menjawab tapi Danny yang menghampiri Ella, entah dari mana pria itu tiba-tiba ada di sini lagi.


"Dasar om Laron!" Bisik Ella pada Danny yang langsung membola matanya.


"Awas nanti." Ancam Ella lagi yang membuat pria itu menahan senyumnya.


"Hei.. gampang aja kok, kau kan fans nya Oktav jadi cukup dengarkan arahan sutradara dan jalani dengan natural. Oktav yang akan akting." Kata Helma membuat Ella sadar kalau dia akan berakting dengan Oktav, kenapa dia bisa lupa akan keberadaan idolanya yang sejak tadi memperhatikannya. Ella jadi malu dan menunduk terus.


"Ayo pindah syuting di studio 5 saja, sudah diubah konsepnya." Linda memberitahukan ke semuanya setelah mendapat laporan jika studio 5 sudah selesai.


"Jangan gugup, cukup jadi dirimu sendiri." Bisik Oktav yang berjalan di sebelah Ella. Ella yang gugup menjadi semakin gugup apalagi suara Oktav mengalun indah di telinganya sedekat ini.


"Aduh jantungku.." Gumam Ella seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Oktav yang melihat itu pun tersenyum, dia memandang Ella yang begitu cantik saat ini.


Ella memantapkan diri kalau dia akan berusaha untuk mengerjakan sesuatu hal yang baru saat ini.


^^^^^^^^^^^


Aster sudah berada di dalam ruang meeting besar, ternyata meeting ini merupakan meeting penting setiap sebulan sekali untuk meriview pekerjaan.


"Huhf.. kenapa gugup begini sih?" Gumam Aster sendirian karena memang belum ada yang datang.


"Semangat Aster, ini memang hal baru tapi yakin semua bisa selesai dengan baik." Aster menyemangati dirinya sendiri. Tak lama satu persatu peserta meeting berdatangan dan duduk di kursi masing-masing.


Hanya menunggu direktur, tapi Aster yang sesak buang air kecil sungguh sudah tidak tahan, dia memang begitu jika sedang gugup parah.


"Pak Martin.." Panggil Aster pada Martin yang ada di sebelahnya.


"Panggil Kak saja.. aku masih muda." Sahut Martin dan Aster tersenyum saja.


"Kak, izin ke toilet boleh?" Tanya Aster dan Martin mengangguk.


"Tak apa pergilah, 8 menit lagi baru mulai." Jawab Martin dan Aster berjalan cepat keluar ruang meeting itu. Beberapa orang memang sejak tadi memandangi dirinya karena Aster sangat cantik.


"Baru kali ini ada anak magang secantik itu, sekali-kali berikan ke kita Pak Martin." Celetuk salah satu manager disana.


"Bukan ranah saya, semua HRD yang mengatur." Jawab Martin yang sebenarnya malas.


"Ck.. bisa-bisa nan.."


"Stop, jangan bahas yang tidak penting." Martin langsung memotong ucapan pria itu lagi. Semua sudah diam karena Martin sama galaknya dengan direktur, hanya saja dia tidak menyadarinya.


BUGGH..


Aster menabrak seseorang dan untungnya dia tidak terjatuh karena pinggangnya dililit lengan pria yang dia tabrak.


"Kak J!" Pekik Aster dan Jarred juga cukup terkejut melihat Aster ada disana.


"Aster.." Ucap Jarred sembari membantu Aster berdiri dengan benar.


"Kak J ngapain disini?" Tanya Aster dengan bingung sambil merapikan kemejanya.


"Mau meeting, kamu?"


"Sama."


"Jangan bilang kak J direktur di perusahaan ini?"


Aster cukup terkejut dan Jarred hanya mengangguk dan melihat pakaian Aster dia paham Aster merupakan anak magang disini.


"Ah.. kamu anak magang, tapi kenapa ikut meeting?" Tanya Jarred yang memang tidak tau.


"Aku sekretaris kak selama kak Liana cuti nanti dan akan dibantu kak Martin juga." Jawab Aster menjelaskan. Jarred mengerutkan keningnya.


"Kak Martin? Kalian sudah sedekat itu?" Tanya Jarred.


"Eh.. gak kok, dia gak mau dipanggil pak." Jawab Aster dengan jujur.


"Huh.. dasar, ya sudah ayo masuk." Ajak Jarred dan Aster mengekor dibelakang Jarred untuk kembali ke ruang meeting yang memang tidak jauh.


"Nah kan, waktunya pas." Bisik salah satu manager melihat Jarred masuk diikuti oleh Aster. Jarred memang sangat tepat waktu meskipun waktu masuk aula meeting pas jam 3 sore tidak kurang tidak lebih.


Meeting berjalan semestinya, Jarred sangat tegas dan tidak mentolerir kesalahan apapun. Aster sangat kagum padanya dan terus menatap penuh kekaguman tapi dia juga berusaha bersikap profesional karena tetap mencatat point penting dan sesekali bertanya pada Martin.


Hampir 1 jam meeting akhirnya selesai dan semuanya bisa kembali ke tempat masing-masing.


"Gudang retail di kota Y sudah aman?" Tanya Jarred sembari mereka berjalan ke ruangannya.


"Belum, sepertinya sulit karena mereka terus berdemo. Audit juga sudah mengetahui kecurangan disana tapi para pekerja merasa dirugikan selama 3 bulan ini." Jawab Martin. Aster hanya mendengar saja tanpa mengerti permasalahannya.


"Kau kesana saja Martin, selesaikan dengan baik. Berikan hak mereka dan ajak bicara baik-baik lalu cari yang bisa menjadi saksi. Pengkhianat itu akan kita adili segera." Perintah Jarred dan Martin mengangguk.


"Pak Jarred.. lapor pak, Liana sudah akan melahirkan. Barusan suaminya menelepon." Salah satu wanita yang adalah staff HRD melaporkan dengan panik saat Jarred keluar dari lift.


"Secepat ini?" Tanya Jarred karena prediksi melahirkan Liana adalah akhir bulan ini.


"Iya begitu pak informasinya." Jawab wanita itu.


"Ya sudah.. ehm.. segera cari pengganti sementara karena karyawan magang belum bisa handle semuanya. Paling lambat besok." Kata Jarred dan mereka mengiyakan.


Martin kembali ke ruangannya sendiri untuk mengerjakan pekerjaannya sebelum ke kota Y besok. Aster duduk kembali di tempatnya menunggu pekerjaan selanjutnya karena masih kurang lebih 1 jam untuk pulang.


Sambil menunggu waktu pulang Aster kembali membaca tugas-tugasnya setiap hari dan jadwal direktur datang setiap harinya dan dia baru sadar jika memang Jarred hanya mengajar 3 kali seminggu. Dua hari di pagi hari dan 1 hari di siang hari. Sesuai dengan jadwal di kantor.


"Kak J tampan juga waktu serius tadi dengan kacamata jadi makin dewasa." Gumam Aster membayangkan Jarred.


TBC~