
Seminggu berlalu dan Sarah tidak keluar rumah sama sekali karena 3 hari lalu ada teror untuknya. Sebuah kardus ukuran sedang dikirimkan seseorang melalui jasa ojek online dan ketika Sarah membukanya ada boneka bayi yang tertancap pisau lipat.
Sarah syok dan hampir saja terjatuh, untungnya Melisa gerak cepat dan membantunya.
"Mau lapor polisi saja?" Tanya Melisa tapi Sarah menggeleng.
"Sudah pernah dan hasilnya sama saja." Ujar Sarah yang pasrah pada saat awal-awal teror. Malah membuat mertua dan suaminya panik tapi tidak ada hasil sama sekali dan polisi menetapkan teror itu hanya dari orang iseng.
Melisa sudah cek semua bahan makanan dan semuanya aman, bahkan Melisa sendiri yang membeli semua keperluan dapur dan tetap Noni atau Sarah yang mengolahnya, tidak ada masalah.
"Dokter bilang aku harus bedrest dan kandunganku makin lemah." Kata Sarah sambil mengusap perut buncitnya yang sudah masuk usia 6 bulan.
"Vitamin sudah diminum mba?" Tanya Melisa dan Sarah mengangguk, bahkan suntikan penguat janin juga sudah dia lakukan sesuai prosedur dari dokter kandungannya.
"Kita pindah dokter?" Tanya Melisa karena ragu dengan dokter langganan Sarah.
"Ke dokter lain maksudnya?" Melisa mengangguk.
"Entalah, kami sudah ke dokter Hermanto sejak kehamilan pertamaku dan.. EH... boleh juga. Aku ada teman dokter dan aku akan tanya."
Sarah akhirnya semangat, dia mengambil ponselnya dan mencari nama temannya semasa SMA dan sesekali mereka masih berhubungan.
"Ratna, sibuk ga?" Tanya Sarah.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Baiklah.. ok, makasih ya.."
Sarah menutup panggilannya dan mulai mencari nama Ratna di aplikasi chating berwarna hijau, dia mulai mengetik dan menceritakan kondisi kandungannya. Hampir setengah jam mereka chating dan akhirnya Sarah mendapatkan nomor dari teman sarah sesama dokter namun temannya adalah dokter kandungan.
"Dokter Budi Sudono, wah ini kan dokter terkenal. Hebat si Ratna.." Gumam Sarah dan mulai menghubungi dokter Budi.
Melisa yang baru kembali dari rutinitasnya menjadi ART terlihat lelah karena dia disuruh Noni untuk menguras bak mandi sambil mendengar ocehan mertua Sarah itu.
"Gimana mba?" Tanya Melisa setelah dia sampai ke kamar Sarah lagi.
"Sudah, ini sedang buat janji dengan dokter Budi temannya Ratna." Jawab Sarah dan dia akhirnya tersenyum saat mendapat jawaban dari asisten dokter Budi.
"Ini jadwalnya besok jam 11 siang, di klinik pribadinya." Kata Sarah dan Melisa tampak senang, entalah feelingnya berkata kalau dokter langganan Sarah tidak beres. Karena sekali Melisa menemani Sarah kesana karena Toby sangat sibuk dan Noni juga sibuk arisan dengan temannya. Kasihan Sarah sendirian menghadapai ini.
"Besok temani lagi ya.. sekalian mau masak terus antar ke toko mas Toby." Lanjut Sarah lalu merebahkan lagi tubuhnya karena dia mulai lelah lagi. Sering juga sesak nafas dan sangat mengantuk.
"Iya mba, istirahat dulu." Jawab Melisa yang terus menemani Sarah sampai terlelap.
"Non, bisa awasi Toby ga?" Tanya Melisa melalui panggilan telepon pada Ella.
"Kenapa?" Tanya Ella disana.
"Aneh, gelagatnya seperti orang selingkuh. Senyum-senyum sambil melihat ponsel, dandanannya seperti ABG dan masih banyak lagi." Cerita Melisa melihat gelagat Toby akhir-akhir ini. Melisa sering mengintip dari balik tembok dapur yang ada jendela langsung ke arah taman belakang yang memang tidak besar.
"Satu lagi.. kalau Noni gak mungkin. Meskipun cerewet tapi dia gak ada waktu buat hal aneh-aneh." Gumam Melisa lalu mengambil sapu, pengki dan kain lap. Melisa masuk ke kamar
tok tok tok
Melisa mengetuk beberapa kali sampai Naomi membuka pintu kamarnya. "Ada apa? Tanya Naomi yang memang sore itu baru pulang dari kampusnya. Semester terakhir dan dia sudah tidak ada kelas, urusan skripsi juga sudah selesai dan tinggal tunggu meja hijau.
"Maaf mba, mau beresin kamar. Tadi pagi gak sempat karena Bu Noni suruh kerjakan hal lain." Melisa menjawab dengan sopan.
"Ck.. cepatlah, aku mau tidur." Naomi berdecak kesal dan terpaksa membawa ponselnya dan keluar menunggu di ruang tamu.
Melisa masuk dan mulai membersihkan dengan cepat demi bisa melihat-lihat kamar itu lebih dalam lagi.
Selesai dengan sapu dan pel, dia membuka lemari Melisa dan merapikan baju yang berserakan di dalam. Manatau dapat hal mencurigakan.
Hampir setengah jam dan akhirnya Melisa menemukan sesuatu di kamar Naomi, "Mencurigakan, ini apaan sampai harus disimpan dalam lemari terdalam." Melisa tidak mengambil botol itu tapi menuangkan sedikit di tissue kering. Bubuk putih itu tidak berbau tapi Melisa tidak berani juga icip-icip takut terjadi sesuatu.
"Non, sudah selesai." Lapor Melisa pada Naomi yang duduk selonjoran di sofa panjang ruang tamu.
Tanpa menjawab Naomi kembali ke kamarnya, Melisa hanya menggeleng melihat kelakuan Naomi yang sangat sombong meskipun pendiam.
.
.
.
Sarah bersiap menunggu taxi online yang dia pesan karena supir Toby tidak bisa mengantarnya, sebab sedang ada banyak pesanan di toko.
Melisa juga siap sedia menjaga Sarah yang sudah dia anggap kakaknya, beberapa waktu ini membuat mereka akrab.
Hanya 20 menit, menembus sedikit kemacetan mereka sampai di klinik khusus ibu dan anak milik salah satu dokter kandungan terhebat.
"Dengan Sarah yang sudah buat janji jam 11." Kata Sarah pada petugas di meja depan.
"Oh bisa langsung saja bu, nomor 9 ya. Tinggal 2 antrian lagi." Jelas petugas itu dan Sarah mengangguk. Mereka sampai 15 menit lebih cepat dari waktu janjian.
Sarah dan Melisa menunggu dengan tenang, tidak ada antrian lagi setelah mereka karena memang hanya sampai jam 11.30 saja jadwal dokter Budi. Setelahnya baru jam 1 ada jadwal lagi dengan dokter lainnya. Dokter budi juga jam 2 baru ada jadwal di RS besar di kota itu.
Menunggu setengah jam baru nama Sarah di panggil, Sarah dan Melisa masuk dan cukup terkejut dengan dokter Budi yang ternyata masih muda itu. Sarah hanya mendengar namanya saja selama ini.
"Siang Nyonya Sarah. Silakan duduk." Sapa dokter itu sambil tersenyum dan Sarah duduk dengan tenang di depan dokter. Mereka berbincang cukup lama dan memberikan hasil pemeriksaan dengan dokternya.
Dokter Budi mengernyit bingung dan membaca hasil pemeriksaan itu. Dia berpikir sejenak dan langsung menyuruh Sarah berbaring untuk diperiksa.
Melisa melihat semua pemeriksaan Sarah dengan dokter Budi lalu dokter itu menyarankan untuk tes darah dan lainnya.
"Untuk tes darah bisa datang ke RS tempat saya bekerja. Disana lebih lengkap dan kalau bisa segera. Nanti jam 2 saya akan ada disana." Kata dokter Budi dan Sarah mengiyakan.
Selesai, Sarah ke toilet dan Melisa menunggunya dengan sabar. Lalu mengirim pesan ke Ella untuk bertemu di RS jam 2 nanti.
TBC~