
Oktavio Jazzy, dia sedang kesal karena tidak diizinkan untuk makan bakso. Ya, hanya bakso dan dia berusaha kabur dari manajer dan asistennya. Dengan pakaian serba hitam, topi hitam dan masker hitam. Tak lupa dia menggunakan lensa kontak berwarna abu-abu untuk mengelabui orang lain.
"Ah.. kenyang juga." Puas rasa hati dan perutnya setelah memakan 2 mangkok bakso kesukaannya sejak kecil, tapi untuk menjaga kesehatan dan suaranya, perusahaan tidak mengizinkan dia untuk makan sembarangan.
"Berapa pak?" Tanya Oktav pada bapak penjual bakso.
"26 ribu nak, 2 mangkok." Jawab di bapak. Oktav memberikan selembar 50 ribuan dan tidak mengambil kembaliannya.
"Makasih nak.. sehat selalu dan murah rezeki." Ujar si bapak dan Oktav hanya mengangguk dan memakai maskernya kembali sebelum ada yang melihatnya.
"Mas, mineral dingin 1." Kata oktav pada penjual minuman di dekat pohon besar agak jauh dari pedagang lainnya.
"Ini bang, 5 ribu." Kata si penjual dan Oktav kebetulan ada uang 5ribu dan memberikannya.
Sedang minum dengan santai, Oktav di ganggu oleh 4 orang pemuda terlihat berandalan, dari penampilan mereka terlihat memang berandal.
"Hei, bagi duit." Ucap salah satu dari mereka. Oktav yang sedikit terkejut hanya bengong karena memang tidak pernah bertemu orang seperti ini.
"Maaf, kalian siapa minta duit?" Tanya Oktav dengan nada biasa saja. Salah satu dari mereka sudah mengeluarkan pisau kecil dari saku.
"Jangan banyak omong, sini duit, tadi kami lihat kau banyak duit." Kata yang lain lagi. Tak mau mempersulit hidupnya Oktav baru mau mengeluarkan dompetnya sudah terdengar suara nyaring perempuan membuat mereka semua menoleh pada gadis berpenampilan culun itu.
Oktav yang masih bengong melihat keberanian seorang gadis tiba-tiba sudah ditarik untuk berlari tapi akhirnya terkejar dan melihat gadis itu melawan 4 orang berbadan lebih besar darinya. Hanya sekejab semua tepar.
"Wow, gadis ini luar biasa dan juga sangat manis." Ucap Oktav dalam hati.
Entah apa yang terjadi, gadis ini malah jatuh untung Oktav sempat membantunya dan dia cukup terkejut saat melihat wajah gadis itu dari dekat.
"Cantik.. sangat cantik." Otak Oktav tak berfungi baik karena melihat gadis cantik yang sangat menarik ini.
"Sial.. " Umpat Oktav dalam hati karena ponselnya terasa bergetar dan dari jauh dia lihat manajernya sedang mencarinya. Oktav tak sempat bertanya nama gadis itu, dia langsung pergi dari sana sebelum si manajer murka melihatnya terkena masalah.
.
.
.
"Kemana saja kau?" Tanya Joshua melihat Oktav jalan sendiri menghampirinya. Hari sudah gelap dan Josh sudah mencarinya selama 1 jam.
"Hanya jalan-jalan." Jawab Oktav dengan nada malas.
"Jangan pergi sembarangan, kita kembali dan kau harus jaga tubuh dan suaramu. Kau itu aset perusahaan dan jangan lupa pemilik dirimu adalah perusahaan." Joshua mengingatkan dan Oktav tau akan hal itu. Dia telah dikontrak selama 12 tahun tanpa kebebasan sama sekali.
"Tahan.. hanya 2 tahun lagi." Ucapnya dalam hati.
Oktav menjalani kontrak budak, semua hasil kerja kerasnya adalah milik perusahaan. Dia menandatangani kontrak saat dia berumur 15 tahun dan masih remaja labil yang tak tau apapun.
Oktav tidak mempunyai siapapun dan dia hanya sendirian saat mendatangi perusahaan tempat dia bernaung saat ini, kontrak 12 tahun dengan hanya mendapatkan 40% penghasilan setelah tahun ke 3. Jadi selama 3 tahun dia tidak dibayar untuk pendidikannya dan seluruh modal yang dikeluarkan perusahaan untuknya, itu termasuk dalam hutang.
Oktav remaja memang sudah menunjukkan bakat luar biasa, dari suara merdunya, piawai dalam bermain musik dan dia juga memiliki bakat membuat lagu tapi semua sia-sia. Seluruh lagunya adalah milik perusahaan. Jadi, royalti yang dia dapatkan akan masuk ke rekening perusahaan.
Untungnya, Oktav bukan seseorang yang haus akan uang dan ketenaran. Dia hanya ingin terus berkarya dan bernyanyi, menghibur banyak orang dengan bakatnya. Tanpa diketahui siapapun sebenarnya Oktav banyak menjual hasil karyanya ke perusahaan musik lainnya dengan nama samaran dan rekening yang dia buat dengan nama aslinya yang tidak banyak orang tau. Hanya 1 orang sahabatnya yang tau dan membantunya sebisa mungkin.
Nama asli Oktav adalah Oktaviano, tapi semua orang hanya mengenal dia dengan nama Oktavio Jazzy.
.
.
.
"2 menit lagi, bersiap Oktav."
Oktav sudah berada di tepi panggung dan sebentar lagi dia akan naik untuk menyanyikan lagu pertama di konsernya kali ini. Konser berdurasi 2 jam seperti biasa dan seluruh tiket habis kurang dari 3 menit penjualan.
Oktav selesai menyanyikan lagunya, dia sedikit terkejut saat melihat siapa gadis yang berteriak di kursi tengah paling depan. Suara cempreng tapi lucu itu menarik perhatiannya.
"Ah gadis itu... ternyata kau gadis manis." Tanpa sadar Oktav memandanginya sambil tersenyum dan melihat gadis itu masih berteriak sampai menangis memanggil namanya.
"Kita akan bertemu lagi diluar, jika berjodoh." Ucapnya dalam hati.
Oktav benar-benar tertarik pada gadis itu, dia tertarik karena gadis manis yang sangat menggemaskan selalu memperlihatkan ekspresi yang berubah-ubah sesuai mood lagu yang dinyanyikan Oktav.
Dua jam berlalu dan konser telah usai, Oktav sangat ingin mencari tau tentang gadis itu tapi tidak mungkin, dari ribuan manusia di sana bagaimana caranya mencari gadis itu?
"Hai.. kok melamun?" Tanya asistennya.
"Ah.. gak, aku hanya lelah." Jawab Oktav mengalihkan pandangannya.
"Ya sudah, kan dapat waktu libur 3 hari." Oktav mengangguk. Libur 3 hari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lelah yang dia rasakan.
Kerja setiap hari, produksi lagu hampir setiap bulan, rekaman, iklan, model, pemotreatan dan dia mulai ditawari untuk main film dan drama. Selama ini banyak tawaran akting namun ditolak perusahaan sebab lebih cepat mendapatkan uang dari bernyanyi dan iklan.
Dalam setahun bisa di hitung dengan jari jumlah hari liburnya Oktav, setahun pasti ada 2 kali konser dan setiap kali selesai konser hanya dapat libur 3 hari. Atau jika ada proyek dengan bayaran luar biasa maka dia juga akan dapat libur 1 hari.
Sungguh, Oktav ingin menyerah tapi melihat para fans yang setia menunggu karyanya Oktav bertahan hingga saat ini. Hanya 2 tahun lagi dia akan bebas.
.
.
.
My Bro [Oktav, bagaimana konsermu?]
Oktav [Sukses, seperti biasa.]
My Bro [Kau hebat bro..]
Oktav [Ya, aku tau hahahah]
My Bro [Jadi bagaimana tawaranku atau tawaran dari perusahaan lain, 2 tahun itu sangat cepat.]
Oktav [Gak tau, aku lelah dan rasanya ingin istirahat sejenak, mungkin setahun..?]
My Bro [Yakin? Gak takut fans mu pindah ke lain hati?]
Oktav [Hahaha.. gak lah, mereka setia. Aku tetap akan bernyayi tapi mungkin belum akan merilis album, atau.. belum tau.]
My Bro [Ya sudah, pikirkan lagi.]
Oktav [Makasih bro.. kau selalu membantuku.]
My Bro [Jangan begitu, aku pernah bilang kalau adikku adalah fans beratmu jadi aku gak mau dia sedih.]
Oktav [Adikmu yang cantik itu.. aku sangat tersanjung hahahah.. dia bahkan terlihat seperti peri bunga.]
My Bro [Sialan.. jangan membayangkan adikku.]
Oktav [Sabar.. aku juga sudah menemukan gadis manis, dia lucu dan pemberani.]
My Bro [Wah wah.. siapa? Aku jadi penasaran.]
Photo sent
Oktav [Hanya bisa melihatnya dari panggung, dia menolongku kemarin dari preman dan ternyata dia fans ku. Beruntungkah aku? Tapi hanya bisa mengambil fotonya melalui rekaman konser.]
My Bro [......]
Oktav [Ada apa?]
My Bro [Manis dari mananyaaaaa??? Matamu bermasalah.]
Oktav [Dia sangat cantik, manis dan pemberani.]
My Bro [Kau sakit sepertinya, terlalu lelah.. sudah istirahat saja.]
Oktav [Hahah ya sudah bye..]
TBC ~