
Sesuai rencana, Ella yang tau Betty adalah mata dan telinga Lilian pun mulai sandiwaranya. Dia terlihat malas-malasan dan bermain ponsel sejak siang menjelang sore agar di marahi oleh Betty.
"Leli! Kenapa sapu dan alat pel masih berantakan begini?" Bentak Betty kesal karena tugas Ella yang sangat berantakan dan malah bermain ponsel.
"Eh.. maaf mba, Leli tadi hanya sedikit lelah jadi istirahat sebentar." Jelas Ella lalu dengan sengaja menaruh ponselnya di meja dapur lalu pergi keluar membereskan pekerjaannya.
Betty yang tak sengaja melihat foto Indra dan Seina pun terbelalak kaget, dia tidak menyangka kalau Tuannya bermain dengan pengasuh baru itu.
Sore telah datang, Lilian pulang begitu juga Indra menyusul pulang tak lama setelah Lilian sampai.
"Betty!" Teriak Lilian geram karena melihat Seina yang sedang di ruang tamu dengan Randy yang sedang disuapi susu.
"Kenapa seragamnya begitu?" Tanya Lilian dengan nada meninggi.
"Maaf nyonya, memang seragam seperti biasa yang saya gunakan." Jawab Betty membuat Lilian tambah marah.
"CK.. apa gak ada baju lain? Yang lebih longgar atau panjang." Tanya Lilian semakin geram saat melihat Indra yang pulang dan malah memandangi Seina, bukan dirinya.
"Maaf nyonya, akan saya pesan lagi ke penjahitnya." Jawab Betty sesekali melirik Seina yang sudah selesai dengan Randy.
Seina mulai tersenyum saat mengintip Lilian yang sedang marah pada Indra di dalam kamar mereka, Lilian sudah mengamuk sampai Indra gerah dan keluar kamar dan masuk ke ruang kerjanya.
"Brengsek kau Indra, aku yang membantumu selama ini untuk dapatkan semuanya, awas saja kalau kau selingkuh dariku." Teriak Lilian seraya membanting apa pun yang dia dapatkan.
"Yes, sudah kena 1 kali." Gumam Seina, dia juga sudah memasang kamera di kamar pribadi Indra dan Lilian. Kini tinggal menunggu kalimat lainnya terucap.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Sudah hari ketiga kau gak masuk kuliah Ella." Tegur Jarred saat melihat Ella baru pulang dari pekerjaannya sebagai pelayan dadakan.
"Iya kakak.. 1 hari lagi, ok?" Ella mencoba membujuk Jarred lagi dan kakak tampannya itu hanya mendengus kesal. Dia hanya tidak ingin Ella terluka.
"Baik, hanya 1 hari atau kakak lapor ke mama." Ancam Jarred membuat Ella mau tak mau mengangguk pasrah.
"Ada apa?" Bisik Aster yang baru sampai ke depan kamar Ella dan Jarred, Aster sejak tadi membereskan barangnya di mobil sebab malam ini dia akan menginap.
"Kak J hanya kasih waktu 1 hari, aku sudah gak kuliah 3 hari." Jawab Ella sedikit kesal. Habis ini dia tidak akan bisa bebas lagi menangani kasus lainnya.
"Tenang saja, aku ada ide untuk minta bantuan Iris nanti. Kalau ibu setuju tapi yaaa... tau kan ibu tidak suka Iris terlalu ikut campur urusan manusia." Ella menghela nafas lemah, dia tidak ingin mengganggu Iris tapi apa boleh buat.
Aster akan memanggil Iris, dia tidak menunggu lama lagi untuk minta izin. Dengan tangan ajaibnya Aster menumbuhkan bunga putih yang bercahaya, dari bunga itulah dia dan Iris berhubungan seperti biasa.
Iris kecil muncul dan berdiri di tengah bunga, "Ada apa kak?" Tanya Iris kecil dengan sayapnya mulai mengepak cantik.
"Minta tolong, tumbuhkan Lilem. Kalau aku yang tumbukan tidak ada ajaibnya itu bunga." Pinta Aster pada Iris adiknya si peri hutan. (Kisah kelahiran Aster dan Iris ada di novel dengan judul : Magical Flower, di episode akhir)
"Mau buat apa?" Tanya Iris curiga, kakaknya ini pasti akan berbuat macam-macam yang berbahaya bagi dirinya.
"Mau bantu seorang istri dan ibu yang dibunuh 2 kali oleh suaminya." Jelas Aster singkat.
"Biar cepat saja urusannya, soalnya Ella sudah tidak bisa lagi menunggu lama untuk pura-pura jadi pelayan disana. Pliss... demi Ella. Kasian Ella harus jadi pelayan, sudah 3 hari. Lihat tangannya sudah kasar begini."
Iris mencebik, dia tau akal-akalan kakaknya ini kalau mau minta bantuan, ada saja alasannya. Dan bisa-bisanya si Ella malah ikut-ikut dengan pekerjaan tidak pentingnya Aster. Tapi Iris tidak tega juga melihat Ella juga ikut memelas.
Setelah itu Iris pergi ke alamnya lagi dan Aster cepat-cepat membungkus bunga itu agar tidak terkena aroma yang memabukkan dari si Lili Lembah.
"Nah ini letakkan pada ruang kerja si Indra, jika mereka mengamuk nanti pasti akan membicarakan semuanya." Kata Aster dan Ella mengangguk.
Ella hari ini bernagkat lebih siang, dia akan masuk 1 mata kuliah dulu sebelum kakaknya marah. Tepat jam 10 Ella sudah ada di pintu belakang rumah Indra, tentu sepi hanya ada security dan tukang kebun, Betty? Tak terlihat.
"Ada apa ini?" Tanya Ella pada Seina yang duduk di luar dekat pintu samping.
"Aku di usir sama Liliana, tepatnya di pecat!"
Seina yang pagi tadi tampak begitu cantik dan mempesona membuat Indra tak berkedip, itu membuat Liliana murka dan setelah Indra pergi dia langsung memecat Seina.
"Tidak apa-apa, aku ada ini. Pokoknya pantau terus kamera kita dan setelah ini semua berakhir." Kata Ella lalu bergegas masuk ke rumah, dia mencari Betty dan ternyata tidak ada di manapun.
Segera Ella membagi menjadi 3 pot kecil, sudah cukup beberapa tangkai bunga di setiap ruangan. Di ruang tamu, dapur dan ruang kerja Indra.
"Selesai, hanya menunggu hasil." Senyum Ella terbit dan dia pun menghampiri Seina lagi untuk pulang bersama. Nanti malam dia akan mengirimkan foto Indra dan Seina berpelukan agar Liliana murka lagi hingga bertengkar.
\= = = = = =
Di belahan dunia lainnya,
Di kota Berlin, seorang pria masih tak sadarkan diri setelah operasi kaki dan jantungnya. Sudah beberapa bulan dia koma.
"Yogi, sebaiknya suruh keluarga Bima kemari. Kami takut waktunya tidak lama lagi. Tidak ada pergerakan sama sekali." Kata seorang dokter yang merupakan teman Bima.
"Dia sudah tidak ada keluarga, hanya adik yang tidak berguna dan keponakan yang masih bayi. Bahkan adik iparnya, yang seharusnya menjadi istrinya juga sudah meninggal. Mungkin ini yang membuatnya tidak ingin hidup."
Yogi merasa bersalah ketika lalai dalam tugasnya untuk menjaga Morina. Bima yang sejak kecil memang punya kelainan jantung sebenarnya berangsur sembuh tapi kecelakaan yang menimpanya membuatnya drop lagi. Apalagi wanita yang dia cintai akhirnya menikah dengan adiknya sendiri dan kini sudah meninggal.
Yogi dan dokter Sam masih memandang Bima yang koma, tubuh yang dulunya kekar kini kurus dan lemah tak berdaya.
"Bos.. ada kabar terbaru." Lapor seorang pengawal pada Yogi yang merupakan tangan kanan Bima selama ini.
"Ada apa?" Tanya Yogi melihat raut wajah gelisah dari anak buahnya.
"Ini bos.."
Yogi melihat foto yang diberikan anak buahnya dan dia sangat terkejut melihat Morina sedang bersama 2 orang gadis seperti di taman.
"Dari mana kalian dapat ini?" Tanya Yogi pada anak buahnya.
"Sebenarnya ini foto dari istri teman saya, saya lihat di sosial medianya ini." Yogi melihat foto selfie sepasang suami istri dan di belakang mereka ada Morina dan 2 gadis.
"Berarti.."
"Ya bos, nyonya Morina kemungkinan masih hidup."
"Kerahkan anak buahmu dan cari sampai dapat dimulai dari taman itu, setidaknya cari bukti kalau memang Morina yang ada di foto."
perintah Yogi langsung dikerjakan, mereka mengutus semua anak buah yang mereka punya untuk melacak Morina.
TBC~