Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 56 - Wajah Tomat Busuk



Jarred masih membujuk Ella untuk sarapan tapi sejak tadi adiknya itu menolak.


"Ini pakai." Jarred menyerahkan sebuah kotak kecil dan Ella mengambilnya.


"Dari mana kakak dapat ini?" Tanya Ella bingung karena dia sebenarnya iri dengan Jarred yang tidak pernah bermasalah dengan kulitnya.


"Dari Oktav, katanya dia pakai itu kalau wajahnya berjerawat makanya kelihatan mulus terus." Jelas Jarred dan Ella tersenyum seketika. Dia membuka kotak kecil itu dan menempelkan pimple patch ke 3 buah jerawatnya dan..


"Taraaa... ga gitu kelihatan lagi kan." Ella tersenyum senang dan kini akan ikut sarapan bersama.


.


.


"Jadi Oktav akan kembali tour dengan album baru?" Tanya Fano saat sarapan mereka selesai. Mereka masih duduk dan mengobrol sementara maid sedang merapikan beberapa piring kotor di meja makan.


"Ya om, mungkin 1 minggu saja habis itu libur dulu." Jawab ktav sambil menyeruput teh nya.


Ella terus saja melirik ke Oktav dengan malu-malu, biasanya dia banyak bicara sekarang menjadi kalem dan anggun.


"Om lihat juga lagunya genre nya berbeda, apa sedang jatuh cinta?" Tanya Fano lagi dengan senyum merekah.


"Iya om.. yah aku sudah umur segini ya pasti punya seseorang yang aku kagumi meskipun dalam diam." Jawab Oktav jujur.


"Hahahah bagus bagus.. jadi dalam diam aja nih?" Jarred ikut bertanya sambil melirik pada Ella yang menunduk terus meremas tangannya, dia tampak cemas dan tidak suka dengan pembicaraan ini.


"A aku.. balik kamar dulu." Kata Ella sambil berdiri dari duduknya dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan itu.


"Nah.. ada yang cemburu." Celetuk Imelda sambil tertawa kecil, begitu juga ketiga pria disana.


"Jadi. kamu suka sama Ella?" Tanya Fano yang kini serius.


"Pa.. ke ruang kerja aja." Sergah Jarred dan mereka setuju. Kecuali Imelda mereka meninggalkan meja makan dan lainnya menuju ruang kerja Fano.


"Jadi?" Tanya Fano lagi.


"Benar om, kalau di hitung-hitung kami bertemu mendadak dan aku sudah terpesona dengannya." Jawab Oktav dengan yakin. Tadi pagi-pagi sekali sebenarnya Oktav sudah bangun dan bersama Jarred mereka olahraga di ruang gym. Oktav yang mengutarakan perasaannya terhadap Ella pada Jarred didengar juga oleh Fano yang baru tau kalau Oktav menginap di rumah mereka.


"Kau tau, putriku itu memang sangat menyukaimu sejak dia remaja, dia itu manja, belum dewasa sepenuhnya dan sedikit barbar tidak bisa diatur, kadang kasar meskipun dia cantik dan terlihat imut. Tapi dia tetap putriku yang berharga, dia juga baik dan perasa." Fano menjelaskan sifat Ella dan membuat Oktav hanya tersenyum simpul.


"Tak masalah om, kami pertama bertemu juga karena dia menolongku dari preman di taman, dia menghajar beberapa pria bertubuh besar, lalu dia pernah memukulku juga karena aku tak sengaja menginjak  bunga pemberian Oktav dipanggung untuknya."


Fano terbelalak, sungguh anak gadisnya sangat bar-bar dan kasar.


"Kenapa dia jauh beda dengan Imel.." Lirih Fano yang juga didengar oleh Jarred dan Oktav.


"Yah.. karena aunty Flo lah paa.. kan Ella lebih sering dirumah Aster dari pada disini waktu kecil. Lihat saja sifatnya sangat mirip aunty dari pada mama." Jawab Jarred yang disetujui oleh Fano.


"Bener itu.."


"Jadi gimana om? Boleh kan Ella berhubungan denganku?" Tanya Oktav dengan serius.


"Hem.. kalau Ella mau yah boleh aja sih, tapi kayanya dia cemburu tadi." Jawab Fano.


"Gak sekarang juga om, aku masih sangat sibuk. Mungkin beberapa bulan lagi baru aku ungkapkan." Sahut Oktav dan Fano hanya mengangguk saja.


"Terserah pada kalian, yang penting jaga dirimu baik-baik, tau sendiri dunia hiburan seperti apa." Pesan Fano pada Oktav yang memang sangat dielu-elukan semua orang. Tampan, mapan dan berbakat, siapa yang tidak mau? Seorang Fiorella saja tergila-gila pada Oktav.


"Tentu om, percayalah. Aku sangat setia pada cinta, belajar dari orang tuaku yang hancur karena perselingkuhan jadi aku juga tidak mau seperti mereka." Oktav menjawab dan masih ada kesedihan dan kekecewaan dari sorot matanya jika membahas tentang orang tuanya.


"Hem.. bagus lah, tapi ingat bagaimana pun mereka tetap orang tua mu Oktav. Apa kamu sudah ke makam mereka?"


"Nanti pergilah, jika butuh apa-apa beritamu kami."


"Terima kasih om."


Jarred melihat jam tangannya dan sudah pukul 11 siang, "Pa, J pergi dulu ada urusan. Mungkin baliknya sore." Pamit Jarred lalu pergi meninggalkan Oktav dan Fano.


"Kita juga keluar, istirahat sebelum kembali syuting."


"Iya, om. Syuting juga di tunda sampai jam 3 sore ini jadi nanti saja berangkatnya."


"Ya sudah.. ayo keluar."


Di ruang tamu kini ada Imelda yang bersama dengan Ella, mereka menunggu Fano keluar setelah Jarred keluar lebih dulu tadi.


"Ada apa ma?" Tanya Fano melihat Imelda sudah rapi.


"Lupa ya.. mau ke rumah ibu." Jawab Imelda dan Fano yang memang lupa menepuk keningnya.


"Ella ikut?" Tanya Fano tapi Ella menggeleng saja.


"Ella mau keluar sama Aster nanti sore pa." Jawab Ella.


"Ya sudah, temani Oktav dulu sampai sore ya.." Ella mengangguk, dia senang tapi juga malu.


Setelah Fano ganti baju, mereka pun berangkat meninggalkan Ella dan Oktav dirumah bersama para pelayan.


"Jadi kita cuma berdua?" Tanya Oktav memastikan.


"Iya.. kak.. eh, panggil apa ya" Tanya Ella bingung.


"Kak boleh, Oktav bole, sayang juga bole." Jawab Oktav sambil tersenyum. Senyum yang membuat Ella meleleh seketika.


"Hei.. Fio.." Oktav memanggil Ella yang terus memandangnya tak berkedip, terpesona. Oktav tersenyum geli melihat gelagat Ella yang sangat imut menurutnya.


"Ayo temani aku ngobrol, di belakang sana boleh?" Tanya Oktav pada Ella yang saat ini hanya menatapnya malu-malu.


"Boleh.." Jawab Ella sembari menuju tempat yang ditunjuk Oktav, yaitu taman belakang. Disana ada kolam renang dan taman dengan berbagai bunga, tapi hanya ada 1 bunga mawar disana.


"Kenapa hanya 1 bunga mawarnya?" Tanya Oktav karena bunga awar itu sangat mencolok dengan warna merah menyala diantara bunga putih dan pink.


"Itu pemberianmu waktu itu.. untung bisa selamat setelah terinjak orang gak jelas." Ella menjawab sambil sedikit menggerutu. Dia mulai nyaman mengobrol dengan idolanya.


"Hoo... pria bermasker itu?" Oktav bertanya lagi. Lalu mendekatkan tubuhnya ke Ella yang sibuk melihat keadaan bunga mawarnya.


"Loh kok tau?" Ella bingung dan berbalik, hingga tubuhnya begitu dekat dengan Oktav nyaris menempel.


"Tau karna itu aku." Oktav menunduk kemudian berbisik di telinga Ella. Wajah Ella sudah seperti tomat busuk kalau kata Aster.


"Ha?"


"Ya itu aku. Pukulanmu sungguh luar biasa."


Ella menunduk malu, sangat malu dan wajah tomat busuknya membuat Oktav gemas. Jika tak mengingat mereka ada di rumah Ella sudah Oktav cium seluruh wajah Ella yang sangat cantik itu.


Setelah itu mereka mengobrol selama 2 jam lebih sedikit karena Oktav sudah dijemput oleh manager dan asistennya untuk syuting sore ini.


TBC~