
Mereka sampai di salah satu restoran ternama yang menjadi kesukaan Ella. Mereka duduk di salah satu meja di tengah-tengah karena ramai dan hanya tempat itu yang tersisa. Jam makan malam membuat restoran itu full.
"Kerapu steam hongkong, ayam goreng bawang putih." Ucap Ella memesan makanan kesukaannya.
"Bebek panggang, salad udang dan Soup kepiting." Lanjut Jarred.
"Brokoli cah sapi sama Grilled lobster garlic. Minumnya Chinese Tea." Aster menutup pesanan dan pelayan mencatat dan mengulang pesanan mereka.
"Loh.. kok kalian disini gak di dalam?" Tanya Morgan yang menghampiri meja keponakannya.
"Penuh om.." Jawab Ella karena memang tadi penuh.
"Gabung aja sama om mau? Kami cuma 2 orang." Morgan bertanya dan Ella menggeleng.
"Gak ah.. malas masa gabung sama om-om." Tolak Ella yang masih badmood. Morgan menatap bingung pada Jarred yang hanya tersenyum tipis.
"Lagi galau jangan ganggu, masih galak." Bisik Jarred pada Morgan tapi Ella juga mendengarnya dan Morgan hanya mengangguk lalu mengelus puncak kepala Ella, sang keponakan nakalnya itu.
"Ya udah.. nanti gak usah bayar ya." Ujar Morgan sebelum meninggalkan mereka.
OK, makasih om." Sahut Jarred. Restoran ini memang punya Morgan. Dia membuka restoran sebelum Lusia, ibunya meninggal dan resep dari beberapa makanan disini dari Lusia.
Tak lama satu persatu pesanan mereka datang, Ella segera memakannya dengan lahap begitu hidangan sudah lengkap. Bahkan dia menambah nasi lagi, ayam goreng bawang putih juga dia menghabiskannya sendiri karena Aster dan Jarred lebih memilik bebek panggang.
"Ahh kenyang..." Ella mengelus perutnya, dia begah dan tidak bisa makan lagi.
"Ya apa gak kenyang Ella, ayam 1 ekor trus ikan setengah ekor, nasi 2 dan.."
"Stop kak.. jangan brisik."
"Hahahah udah.. mau pulang atau tunggu sebentar lagi?" Tanya Aster sekaligus menengahi.
"Ke toilet dulu, nih..." Ella mengangkat tangannya dan jari-jari imutnya sangat berminyak.
Aster menemani Ella ke toilet tapi setelah dia selesai mencuci tangan malah bertemu dengan Shakila yang juga sedang makan disana dengan pakaian kurang bahannya. Dadanya menyembul setengah dan rok mini nya hanya mampu menutupi bongkahan bokongnya.
Ella melirik dengan sinis sedangkan Aster hanya menggeleng pelan kepalanya karena heran dengan wanita itu.
"Dadanya besar, lebih besar dari punyamu." Bisik Ella sambil berjalan kembali ke mejanya.
"Eh itu Oktav kan?" Aster menunjuk salah satu meja di pojok ruangan dan benar saja ada Oktav disana sedang memainkan ponselnya duduk sendiri. Tak lama Shakila menghampiri dan duduk di sebelah Oktav dan tampaknya mereka sudah selesai makan. Terlihat pelayan sedang mengangkat piring kotor.
Mata Ella berkaca-kaca dan langsung berbalik keluar dari restoran itu. Aster yang bingung pun mengikutinya sambil mengirim pesan pada Jarred kalau mereka langsung menuju mobil.
Jarred yang membaca pesan langsung membawa 2 tas milik Ella dan Aster.
"Gak mau cerita?" Tanya Aster yang melihat Ella yang semakin murung.
"Cantik dan berani? Maksudnya?" Tanya Aster, mereka masih menunggu di sebelah mobilnya Jarred sementara Jarred sudah disana namun diam saja mendengarkan curhatan Ella. Jarred tersenyum simpul karena Ella yang salah paham.
"Iya Shakila kan cantik dan berani, lihat saja pakaian kurang bahannya." Ucap Ella lagi membuat Aster melongo.
"Berani maksudnya itu?"
Ella mengangguk dan Aster juga tidak bisa berucap banyak.
"Ehem.." Jarred berdehem lalu membuka pintu mobil dan melemparkan 2 tas didalam. Ella dan Aster pun masuk dan mereka pulang setelah mengantarkan Aster.
Ella yang masih galau masuk ke kamarnya, mencuci muka dan mandi. Rasanya malas besok kembali bekerja tapi nilainya juga bergantung pada hasil magang ini. Perilisan album Oktav dengan Ella yang jadi modelnya juga diundur.
"Ella kenapa J?" Tanya Imelda yang melihat anak gadisnya tidak baik-baik saja.
"Lagi galau ma, dia pikir Oktav suka sama Shakila artis itu." Jawab Jarred lalu mendekat ke arah Imelda dan duduk di sebelah ibunya itu.
"Dia salah paham karna Oktav bilang suka sama cewek cantik dan berani. Hahahaha berani maksudnya memang pemberani bukan berani tampil seksi." Jarred tertawa mengingat betapa lucunya Ella yang galau.
"Jangan gitu nanti dia sakit hati loh.. coba cek dulu Oktav dan Shakila itu ada hubungan apa." Ucap Imelda.
"Jangan cemas ma.. mereka ada project film makanya tadi makan bersama di resto. J sudah chat Oktav tadi. Mereka gak berdua kok, ada 2 orang lagi tapi sedang ke toilet." Jelas Jarred lalu merangkul Imelda dan mengecup pipinya.
Tuk
Sebuah tangan menjitak kepala Jarred dan pelakunya adalah Fano, Jarred memicing tak suka karena dia tau Fano pasti tak suka karena Jarred mencium pipi Imelda.
"Dasar papa cemburuan." Cibir Jarred dan kembali mengecup pipi Imelda lalu kabur ke kamarnya. Imelda hanya bisa tertawa.
Setelah mandi Jarred membuka ponselnya karena ada pesan masuk.
"Cia sudah kembali, dia mencarimu setelah tau siapa kamu."
Jarred melempar asal ponselnya ke tempat tidur, dia mendengus kasar. Hatinya tidak baik-baik saja karena rasa itu masih ada tapi karena hinaan dari Patricia mantan pacarnya membuatnya juga sakit hati disaat yang bersamaan.
Ting
Pesan masuk lagi dan Jarred membukanya, sebuah undangan dari nomor yang sangat dia kenal.
"Datang yah.. ulang tahun perusahaan keluarga kami. Dan.. aku merindukanmu J..."
Jarred membacanya tapi tidak membalas. Kembali kalimat hinaan itu terngiang ditelinganya tapi dia juga masih mencintai wanita cantik itu yang sudah membuat hatinya porak poranda. Rindu, sesal dan sakit menyatu dan Jarred tidak tau apa yang akan dia lakukan nanti.
TBC~