Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 61 - Canggung



Fiorella


[MAMA PAPA akan punya menantu!]


Photo Sent


Florian


[Astaga! Apa-apaan ini, JARRED!!]


Fiorella


[Ups.. salah kirim, aaahh maaf kak J]


Imelda


[Ella.. cerobohnyaaa.]


Flora


[Assiikkk kita jadi besan Imel.]


Imelda


[Hahahah.. mau kamu kan begitu..]


Fiorella


[Ya udah sih jadiin aja.]


Fano


[Ya sudah, biarkan saja mereka. Jangan tanya apapun nanti Aster malu, dia kan perasaannya sangat lembut.]


Sementara Jarred dan Aster masih di dalam mobil, saling diam karena canggung.


"Ehem.. Aster..maaf." Hanya itu ucapan Jarred.


"Hmm.. iya." Aster menjawab, singkat juga karena dia masih kaget dan bingung.


"Kita sampai." Ucap Jarred karena Aster masih melamun.


"oh iya.."


"Sampai ketemu besok."


"Besok hari sabtu, libur."


"Ah iya.. "


Aster turun dari mobil, Jarred menunggunya sampai masuk ke dalam rumah barulah pergi dari sana.


Sampai di rumah Jarred langsung masuk ke kamarnya, Ella dan Imelda bersembunyi di balik dinding dapur dan hanya melihat Jarred yang biasa saja.


"Hem.. sepertinya aku harus bertindak." Gumam Ella.


"Jangan aneh-aneh Ella." Imelda memperingatkan karena anak gadisnya itu sedikit jahil memang.


"Hehehe gak kok mamaku sayang.." Ella langsung ngacir kembali ke kamarnya sebelum Imelda mengomel.


"Astaga! ELLA!!" Teriak Jarred memekakkan telinga.


"Mampus.." Ella mengunci pintu kamarnya lalu bersembunyi di dalam selimut.


"Mulai deh.." Lirih Imelda yang baru saja mau tidur.


"Biar aja sayang.. mereka udah dewasa." Fano kembali memeluk Imelda agar kembali tidur.


'Kak J yang tampan, kakakku yang paling baik sedunia. Ella minta maaf tapi... kalian sangat serasi dan Ella mau Aster yang jadi kakak ipar. Titik!'


Jarred membaca pesan masuk dari Ella dan mendengus kasar, sekarang bagaimana dia menjelaskan pada Florian dan Flora?


"Ella!! Brengsek! Kenapa di foto begitu?!" Teriak Aster saat Ella menjawab teleponnya. Setelah bebersih Aster baru mengecek ponsel. Grup chat yang sengaja dibuat untuk 2 keluarga itu selain banyaknya grup lainnya.


"Heheheh jangan marah kakak ipar. Itu cuma langkah awal, nanti kalian akan berterima kasih pada Ella yang cantik ini." Jawab Ella sambil terkekeh.


"Untung ayah dan ibu udah tidur, tapi gimana besok?" Tanya Aster panik sekarang.


"Ya udah deh.." Mereka menutup sambungan ponsel lalu bersiap tidur.


\=,=,=,=,=


Aster kembali bekerja dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa dengan Jarred, dia paham Jarred melakukan itu karena ingin menjauh dari Patricia.


Tapi tidak dengan Jarred yang merasa bersalah dan tentu karna ada hasrat yang sangat menggebu. Jarred ingin sekali mengulangi, mencium Aster lagi tapi tentu tak ada alasan dia melakukan itu.


'Apa perlu alasan untuk menciumnya?' Gumam Jarred sejak tadi. Bibir lembut Aster seakan menjadi candu, Jarred bahkan tak tahan berlama-lama berdua dengan Aster karena canggung.


"No J, kau harus sadar. Aster sudah seperti adikmu.' Jarred masih bertahan dengan pemikirannya sendiri.


Lain Aster dan Jarred lain pula dengan Ella.


Ella melihat proses syuting film dengan aktor utamanya adalah Oktav dan aktris utamanya adalah Shakila. Ella meremas tangannya sendiri saat adegan pelukan bahkan mereka hampir berciuman. Ella cemburu berat.


Oktav juga terlihat dekat dengan Shakila, sehabis adegan mereka akan meriview dan kembali latihan, jika ada break selalu terlihat bersama.


"Heehh..." Ella menghela panjang seperti sedang dalam keadaan sangat berat.


"Hey.." Sapa seseorang, Ella mendongak dan cukup kaget melihat siapa yang menegurnya.


"Oktav!" Pekiknya.


"Ssstt.. jangan berisik, aku sedang melarikan diri." Oktav lalu duduk di sebelah Ella. Mereka berada di salah satu taman gedung di lantai atas. Taman itu berada di lantai 17, hanya ada pohon palem dan beberapa kursi marmer yang memang dibuat untuk melepas penat jika stress bekerja.


Angin kencang berhembus, sebagian rambut Ella menutupi wajahnya. Oktav yang gemas membenarkan rambut-rambut itu karena mengganggu pemandangannya pada wajah Ella.


"Eh.." Ella terkejut dan sedikit menghindar.


"Maaf.. tanganku refleks." Ucap Oktav dan Ella merasa malu.


"Gak sama Shakila? Kalian terlihat akrab." Tanya Ella meskipun bertanya dengan lembut tapi ada sedikit nada sindiran disana. Oktav sebenarnya tau karena Jarred sudah menceritakan kegalauan Ella padanya.


"Gak kok.. kami hanya membangun chemistry agar aktingku bagus dan filmnya laris." Bantah Oktav dengan jujur dan memang itulah yang sebenarnya. Tidak tau dengan pihak Shakila.


"Tapi..." Ella melihat ponselnya karena seseorang mengirim sesuatu, group fans Oktav yang Ella ikuti sudah ramai.


"ini.." Ella memperlihatkan screenshot yang dibagikan di group itu, tampak Shakila dan Oktav sedang saling memandang dan Oktav mengelus pipi Shakila.


"Hah? Kapan itu?" Oktav merebut ponsel itu dan melihatnya dengan seksama. Ella hanya menghela lagi-lagi dia kecolongan.


"Gak, ini salah paham." Oktav mengembalikan ponsel Ella lalu melihat sendiri dari akunnya. Ella melirik dan dia tersenyum tipis saat Oktav mencari akun Shakila dan ternyata Oktav tidak mengikuti akun artis itu.


"Ck.. semua jadi salah paham. Biar ajalah. Tapi Ella.. jangan percaya ya, kami hanya hubungan profesional. Sungguh!" Ujar Oktav serius, Ella melihat mata Oktav yang sangat tulus itu lalu mengangguk dan tersenyum.


"Aku percaya tapi.. benar kamu suka wanita yang berani? Maksudnya penampilan berani gitu, mirip Shakila." Tanya Ella yang sangat penasaran.


Wajah penasaran Ella membuat Oktav gemas namun dia tidak bisa apa-apa karena di kontraknya tertulis tidak boleh mempunyai hubungan kekasih sementara. Tidak tertulis berapa lama atau apakah sampai kontrak berakhir. Masih ambigu dan Oktav akan mempertanyakan nanti.


"Huh.. gak gitu juga. Nanti kalau ada waktu aku cerita deh, sudah waktunya aku kembali. Bye.." Oktav beranjak dari duduknya dan menepuk 2 kali kepala Ella sebelum benar-benar pergi.


Ella tersenyum senang sambil mengelus kepalanya juga, dia senang hanya dengan tepukan itu.


"Ahhh.. manisnya Oktav." Ella tersenyum sendiri membayangkan seandainya dia dan Oktav pacaran mungkin dia akan meleleh tiap hari.


Tapi senyumnya berakhir setelah group chat semakin ramai membicarakan Oktav dan Shakila bahkan sudah ada beberapa akun yang mengedit foto mereka menjadi couple.


"Apa-apaan sih, nyebelin banget mereka-mereka ini! Awas aja, kalau jodohin Oktav dengan Shakila." Gerutu Ella sambil berjalan kembali ke kantornya.


"Ya ampun Fiorella!! Bukannya kerja malah asik keluyuran!" Bentak salah satu seniornya disana bernama Sherry.


Sherry adalah salah satu editor majalah online yang beberapa tugasnya dilimpahkan ke Ella.


"Abis makan siang kak Sherry." Seru Ella sembari duduk di kursinya.


"Makan siang aja lama!" Sahut Sherry dengan ketus pada Ella yang juga heran dengan seniornya itu. Padahal kan Ella sudah banyak membantunya selama ini.


"Ck.. ini kerjakan, kata mba Linda akan dia cek sore ini karena ini bahan meeting juga contoh untuk dewan direksi." Sherry melemparkan map berisi referensi.


"Setelah itu kasih ke aku dulu." Lanjutnya lagi dan Ella hanya mengangguk.


TBC~