Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 14 - The Case (Aku Tidak Bersalah 1)



"KAKAK!!" Teriak Ella begitu dia sampai di rumah dan hanya ada Jarred di rumah. Orang tuanya sedang ke pesta, biasalah orang kaya dan banyak bisnis.


"Kau senang?" Tanya Jarred dan tentu Ella senang dan langsung melompat ke pelukan Jarred yang sejak tadi bermain ponsel.


"Puas mainnya?" Tanya Jarred yang tau apa yang dilakukan Ella disana.


"Iya.. puas sekali." Jawabnya.


"Ya sudah, istirahat dan mandi dulu, bau asem." Goda Jarred, mana pernah Ella bau asem, adik cantiknya itu selalu wangi setiap saat.


Ella mencium bajunya dan lengannya, "Sepertinya iya.. bye kak.." Ella turun dari pangkuan Jarred dan segera ke kamarnya untuk mandi. Karena terlalu bersemangat 2 hari ini Ella tertidur begitu saja setelah selesai mandi, bahkan handuknya masih ada di tempat tidur.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Cieeee yang baru ketemu idolanya..." Goda Aster yang sudah ada di depan gerbang rumah Ella untuk menjemputnya seperti biasa.


"Ini masih hari minggu dan kau sudah menggangguku." Sahut Ella yang sudah dibangunkan pagi-pagi hanya untuk ke Magical Flower yang sedang ada pesanan membludak.


"Bantu dong.. kau kan juga punya tangan ajaib, apapun yang kau kerjakan pasti bagus." Puji Aster, sengaja agar Ella tidak ngambek lagi.


"Ada pesanan 1000 buket mini jadi yah.. mau gak mau kita harus bekerja keras dan diambilnya besok." Kata Aster lagi membuat Ella makin pusing.


"Kenapa banyak sekali dan ambilnya besok?" Tanya Ella tak percaya.


"Jadi.. hm, kau ingat kasus adik kelas kita yang masih semester 2 itu?" Tanya Aster dan Ella mengangguk.


"Nah.. 1 angkatan dia tuh gak percaya kalau Alex yang bunuh Nadia. Jadi mereka akan ke pengadilan besok untuk protes dan memberikan bunga untuk mendukung Alex." Jelas Aster sambil memberikan ponselnya.


"Jadi..."


"Ya, kasus kita selanjutnya. Namanya Ratu dan dia teman Nadia dan Alex sejak SMP. Dia ingin MH bantu perjelas karena kasus ini aneh."


Ella mengangguk, dia paham maksud Aster karena Alex dan Nadia merupakan mahasiswa terbaik di angkatannya dan mereka berdua di urutan 1 dan 2.


"Benar juga, Alex dan Nadia sering terlihat sama-sama dan banyak yang ngira mereka pacaran, tapi karena ada Ratu jadinya gosip itu mereda." Ella memperjelas dugaannya.


"Nah disini Ratu bilang, Alex memang mencintai Nadia sejak lama dan gak mungkin Alex lakukan hal itu, sampai membunuh. Kalau memperkosa mungkin saja, tapi Ratu juga tidak percaya karena hasil visum Nadia membuktikan kalau terjadi pemaksaan dan kekerasan seksual. Tidak mungkin Alex pelakunya." Jelas Aster lagi karena dia sudah membaca semua cerita Ratu melalui email.


"Jangan ketemu Ratu ya.. atau kita akan ketahuan." Kata Ella mengingatkan.


"Iya nanti kak Seina yang ketemu Ratu, seperti biasa." Jawab Aster.


.


.


.


Mereka sampai di Magical Flower dan toko itu terpaksa tutup untuk mengerjakan 1000 buket mini untuk besok, semua pelayan cafe juga ikut bantu sampai-sampai Flora sang ibu juga datang membantu.


"Tante Flo.." Sapa Ella begitu melihat Flora duduk dengan tenang tapi tangannya dengan telaten membuat buket bunga.


"Hai anak cantik, ada mama di dalam." Kata Flo dan Ella baru tau kalau mamanya juga ikut padahal ini masih jam 8 pagi, kapan mamanya keluar rumah?


Mereka akhirnya membuat buket mini dengan kecepatan diatas rata-rata, bahkan makan pun Ella dan Aster di suapi oleh Imelda yang bertugas mejadi seksi konsumsi untuk semua orang disana.


Sehabis tengah malam barulah mereka selesai mengerjakan 1000 buket itu, pekerja semuanya diantar oleh supir ke rumah masing-masing, sedangkan Aster dan Ella memilih menginap di toko dan besok Aster bertugas mengantar ke kampus.


Semua orang tau kalau Aster adalah pekerja paruh waktu di Magical Flower jadi tidak akan ada yang curiga.


"Ella.. bangun, dasar pemalas!" Gerutu Aster karena sudah hampir setengah jam dia membangunkan Ella tapi tidak bangun juga.


"Gak bangun aku tinggal nih.." Ancam Aster barulah Ella bangun, matanya masih sangat berat. Dengan mata yang masih tertutup dia berjalan ke kamar mandi, 10 menit di dalam dia akhirnya keluar juga dengan wajah yang sudah segar.


Aster dan Ella memutuskan menjadi pendukung Alex agar lebih muda mencari informasi dari kalangan junior mereka. Tentu para junior sangat berterima kasih karena Ella terkenal pintar dan teladan di kampus. Mereka senang bercerita dan membarikan informasi apapun tentang Alex dan Nadia.


"Ini sangat rumit, hubungan mereka sempat bermasalah karena tugas dan Nadia yang mulai dekat dengan cowok lain." Ucap salah satu teman sekelas mereka.


"Nadia pernah menolak beberapa cowok dan salah satu cowok itu adalah anak komisaris polisi saat ini."


"Alex itu sangat lembut dan perhatian pada Nadia, gak mungkin dia melakukan hal keji itu."


"Minggu lalu, kami berencana ke club tapi aku gak ikut karena tiba-tiba ada acara keluarga. Nah kalau aku pikir-pikir, mungkin ada yang dendam pada mereka berdua. Acara di Club diadakan oleh Aprilio dan Sergio."


"Malinka juga menghilang, kami berpisah saat di pintu keluar club. Disana Alex dan Nadia masih bersama."


"Malinka adalah temen Sergio dan Aprilio, mereka sangat dekat tapi sejak kejadian itu Malinka menghilang."


"Sergio dan Aprilio sempat menjadikan Nadia taruhan, mereka penasaran dengan cewek pintar, Nadia itu jenius dan cantik."


"Aneh sekali, kalau memang Alex pelakunya kenapa gak ada bukti ****** disana? Masa habis di perkosa di mandiin dulu?"


"Semua rasanya aneh, terlalu rapi, bukti dan semuanya mengarah dengan tersusun rapi ke Alex hingga gak ada celah atau alibi yang bisa membela Alex."


Komentar terakhir dari mahasiswa fakultas hukum sangat mengena di otak Ella, memang benar semua bukti seakan memang tersusun rapi untuk Alex. Bahkan pengacara sudah kewalahan untuk membelanya, bukti dan saksi kuat membuat Alex bersalah dalam kasus ini.


.


.


.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Aster pada salah satu mahasiwa yang membela Alex. Rasa penasaran Aster benar-benar membuatnya tidak bisa menunggu lagi.


"Persidangan di tunda lagi, pihak keluarga minta penyelidikan ulang karena percaya Alex gak bersalah." Jawab pemuda itu membuat Aster dan Ella mengelus dada lega.


"Syukurlah, kita harus bantu Alex, kasihan dia dan Nadia." Ucap Ella dengan wajah sendu.


Ella menghubungi Seina, meminta wanita itu menemui Alex di penjara untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Besok guru akan kesana, hari ini dia ada tugas penting." Lapor Ella pada Aster.


"OK deh, yang penting Alex sementara ini belum dijatuhi hukuman. Kita harus gerak cepat." Aster menarik Ella untuk bergegas, tindakan pertama mereka akan ke club yang didatangi Alex dan Nadia bersama teman-teman mereka.


"Telepon Om Morgan cepat, kita butuh akses kesana."


"Siap boss!!"


Ella menelepon pamannya, Morgan pemilik bar dan club yang didatangi junior mereka. Untunglah Morgan memberi akses dan mereka hanya akan menemui asisten Morgan disana.


"Om Evan." Panggil Ella pada Evan asisten Morgan yang bertanggung jawab di club ini.


"Oh kalian sudah datang, ayo masuk." Ajak Evan, karena masih siang club belum buka hanya bar di lantai 1 yang beroperasi.


"Kalian mau lihat apa?" Tanya Evan setelah sampai di kantornya.


"Cctv tanggal 16 Maret om, sekitar jam 9 sampai 11." Jawab Ella dan Evan segera mencarinya. Hanya 2 jam mereka di club itu karena dari pengakuan beberapa yang ikut, Nadia merasa risih dan ingin pulang.


"Ini dia.. mereka ada di meja ini, ada 2 meja yang mereka sewa total ada 7 orang." Tunjuk Aster dan Ella melihat dengan seksama namun sangat sulit arena gelap.


"Om minta salinannya aja deh." Minta Ella pada akhirnya dan Evan pun memberikan apa yang 2 gadis ini inginkan.


TBC~