Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 23 - The Case (Pengantin Merah - 3)



"Mama.. Ella nginap di tempat Aster ya.." Izin Ella melalui telepon ke Imelda.


"Untuk apa sayang?" Tanya Imelda yang heran karena sudah lama Ella tidak pernah nginap disana.


"Malas pulang, Aster ajak nonton drakor jadi mungkin sampai malam." Jawab Ella beralasan.


"Baiklah.. tetap harus tidur dan jangan begadang, makan malam jangan lupa." Pesan Imelda dan Ella bersorak girang.


"Ayo.. kita makan dulu sebelum Cello datang." Ajak Aster dan mereka turun untuk makan malam bersama.


"Kalian jangan begadang ya sayang.." Pesan Flora setelah mereka selesai makan.


"Ya bu, tenang saja. Yang penting jangan ganggu, malu kalau nangis nanti." Jawab Aster dan Flora hanya tertawa sambil menyerahkan keranjang berisi snack.


"Sipp.."


.


.


.


"Dimana sih Cello?" Tanya Ella pada Aster yang juga kesal menunggu. Masalahnya sejak tadi mereka sudah seperti onyet yang garuk-garuk sambil menepuk nyamuk.


"Ihhh ini nyamuk.." Aster gemas dan akhirnya dengan jarinya menumbuhkan banyak lavender disana. Lumayan mengusir nyamuk.


"Nah gini dari tadi kan enak.." Ucap Ella dan Aster hanya mendengus, karena dia malas mengurus bunga ini nanti.


Setengah jam mereka menunggu dan akhirnya Marcello datang, tentu mereka akan setia menunggu karena ternyata seram kalau malam hari. Ella yang tadinya berani juga menciut jadinya.


"LAMA!" Kesal Ella melihat Marcello yang malah terkekeh melihat 2 gadis cantik ini cemberut. Marcello yang memang mirip ayahnya, Morgan yang jahil sengaja membuat mareka menunggu.


"Ayok masuk." Ucap Marcello dan Ella masih meliriknya dengan kesal.


"Masuk dari mana?" Tanya Marcello lagi lalu Aster menumbuhkan kembali akar dan kini sampai masuk kedalam melalui sisi lain dinding agar tidak merusak TKP.


"Wow baru kali ini lihat langsung, menakjubkan." Kata Marcello dengan wajah penuh kagum.


"Gak rugi kan bareng kami? Selalu melihat hal luar bisa seperti ini." Sahut Ella dengan bangga, sementara Aster sudah selesai dengan akarnya dan mereka naik satu per satu dan turun lagi dengan sangat hati-hati.


Marcello terlebih dulu turun dan membantu 2 gadis cantik itu, kemudian dia mengelilingi kolam renang yang masih penuh air berwarna merah beserta lumut hijau yang mengambang.


"Jangan sentuh apapun ya dan hati-hati dengan ini." Kata Marcello dan menunjuk police line. Kedua gadis itu hanya mengangguk.


Aster juga berkeliling, melihat kearah dalam rumah dari jendela yang tidak tertutup gorden. Ella memakai sarung tangan dan coba membuka pintu tapi ternyata dikunci.


"TKP hanya di area kolam dan dekat pagar, gak sampe ke dalam rumah." Kata Marcello dan Ella pun mengangguk sambil melihat-lihat lagi.


Aster melihat ada beberapa cctv terpasang namun semuanya mati, karena rumah ini memang sudah 3 tahun kosong dan tidak mungkin ada cctv yang aktif.


"Kalau dilihat-lihat darah ini dari sisi samping pintu gerbang sampai area kolam, berarti mereka ada di sekitar gerbang ini. AKu bisa retas cctv rumah depan atau mobil disana." Kata Morgan setelah melihat keseluruhan tempat.


"Iya.. tapi bisa cepat gak? Kok tambah dingin ya disini, kalian ngerasa?" Tanya Ella yang mulai tidak nyaman dengan suasana yang semakin horror. Aster melirik jam tangannya dan sekrang sudah jam 12 lewat 20 menit.


"Iya.... aku juga sedikit dingin." Jawab Aster tapi Marcello terlihat biasa saja karena dia menggunakan jaket kulit tebal.


Prangg!!


"Huaaaa...!!" Teriak Ella dan Aster bersamaan saat sebatang besi di sebelah pintu gerbang terjatuh. Ella memeluk Aster yang juga ketakutan. Marcello melihat ke arah jatuhnya besi itu.


"Kok bisa jatuh?" Gumam Marcello lalu mendekat kesana.


"Ehm... ini.." Marcello melihat barang kecil itu, sebuah kancing berwarna emas dengan pola infinity. Ella dengan menggunakan sarung tangan mengambil kancing itu lalu menyimpannya di dalam plastik kecil.


"Uda ah, yuk balik, makin gelap nih.." Rengek Ella yang semakin takut. Marcello mematikan senter ponselnya dan semakin gelaplah disana yang membuat Ella lagi-lai merinding takut.


"Sudah ayo, ini foto dan aku yang simpan." Marcello mengambil kancing dari tangan Ella lalu memasukkan ke saku jaketnya.


Mereka bertiga pun keluar dari sana dan akar yang diciptakan Aster kembali mengecil seperti semula setelah mereka semua keluar.


Marcello yang masih ada di mobilnya berusaha meretas cctv rumah bagian depan dan beberapa mobil yang terparkir disana. Mudah-mudahan masih ada yang tertinggal setelah diambil oleh polisi.


Aster dan Ella mengendap-endap masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Hanya ada security di gerbang depan dan beberapa pengawal yang berjaga. Dengan sangat pelan mereka akhirnya masuk melalui dapur dan segera naik ke lantai 2 dimana kamar Aster berada.


"Huh.. selamat." Ucap Aster lega setelah mereka bisa kembali ke kamar. Ella langsung membuka seluruh bajunya dan masuk ke kamar mandi, dia gerah dan tidak enak.


"Aku duluan." Kata Ella sebelum menutup pintu, Aster hanya bisa mengangguk dan menyiapkan baju tidur mereka.


#######


"Aster Ella bangun!"


Sudah setengah jam Flora membangunkan 2 gadis itu karena setaunya hari ini mereka libur tapi ini sudah jam 10 dan hampir siang. Sampai dering ponsel Ella lah yang membuatnya bangun.


"Astaga, akhirnya bangun juga anak gadis.." Flora menarik selimut Aster, lalu mematikan pendingin ruangan membuka jendela. Ella masih berbicara dengan ponselnya dan dengan wajah bantalnya dia kembali memeluk bantal.


"Kata kak J dia sudah di jalan mau ****** Ella." Ucap Ella dengan lemah karena masih ngantuk.


"Ya sudah, segera mandi dan sarapan Ella sayangnya onty.." Jawab Flora dan di balas anggukan oleh Ella dengan mata yang memejam sempurna.


10 menit kemudian mereka bangun, Flora juga sudah keluar kamar meninggal kan 2 gadis cantik itu. Mereka memang libur kuliah tapi masih ada tugas dan harus dikerjakan segera sebelum Jarred marah nantinya.


"Aku mandi disini, kau di kamar Vered saja." Ucap Aster dan Ella keluar kamar Aster dan masuk ke kamar Vered di sebelah.


Dibawah, Jarred sudah sampai dan sedang di ruang tamu bertemu Flora.


"Aunty ga tau mereka sudah bangun atau belum, coba lihat saja keatas. Ella sepertinya mandi dan Aster masih tidur." Ucap Flora pada Jarred.


"Ok auty, J keatas dulu." Pamit Jarred. Sudah lama Jarred tidak mendatangi rumah ini. Mungkin terakhir kalinya dia masuk ke kamar Aster adalah 6 tahun lalu saat Ella tidak mau pulang dan Jarred menggendongnya.


Tok tok tok


Jarred mengetuk pintu tapi tidak ada yang menyahut dari dalam.


"Masuk aja J, mereka mungkin tidur lagi." Teriak Flora dari bawah, Jarred langsung membuka pintu kamar Aster dan tidak ada siapapun di dalam.


Bersamaan dengan Jarred yang berbalik Aster juga keluar dari kamar mandi. Jarred melihat Aster yang masih tidak sadar dengan keberadaannya.


"Shiitt.. " Umpat Jarred lalu segera berbalik badan, Aster yang baru sadar langsung terpaku, Aster baru saja membuka handuknya dan menyeka sisa buliran air ditubuhnya.


"Kak J.. kenapa ada disini??" Pekik Aster terlihat malu sambil memakai kembali handuknya.


"Sorry Aster, aku cari Ella dan aunty bilang masuk saja karena kalian mungkin masih tidur." Jawab Jarred sedikit gugup.


"Aku keluar." Jarred segera keluar dan jantungnya ternyata tidak baik-baik saja, begitu juga dengan Aster.


"Dia sudah dewasa.." Lirih Jarred yang sempat melihat tubuh indah Aster yang telah dewasa. Tidak seperti waktu mereka kecil dulu.


"Astaga.. otakku.. please jangan berpikir macam-macam J." Gerutu Jarred pada diri sendiri.


Aster yang masih di dalam kamar juga sangat malu, kenapa dia bisa ketinggalan pakaiannya dan keluar begitu saja. Lupa kunci pintu karena masih mengantuk tadi.


"Malu..." Lirihnya lalu menuju lemari pakaian dan mengambil pakaiannya disana dan memakainya.


Aster tampak cantik dengan rambutnya yang indah terurai, dia juga baru saja mengeringkan rambut yang sebenarnya masih setengah basah.


"Sudah?" Tanya Ella yang juga baru kembali dari kamar Vered.


"Dah. yuk, aku lapar." Ajak Aster.


"Kakak sudah sampai rupanya." Gumam Ella yang langsung berlari dan memeluk Jarred yang masih terpaku memandangi Aster yang memang terlihat cantik dan dewasa. Aster pun hanya menunduk malu karena kejadian di kamar tadi.


"Cepat sarapan.. " Titah Flora yang telah menyiapkan makanan untuk kedua gadis itu.


"OK onty." Jawab Ella semangat karena dia juga sangat lapar.


"Ck.. gak konsisten, kadang tante kadang onty." Gerutu Aster pada Ella karena panggilannya pada Flora.


Ella hanya menjulurkan lidahnya menanggapi Aster. Sedangkan Flora hanya tertawa melihat kedua gadis itu.


TBC ~