Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 18 - The Case (Aku Tidak Bersalah 5)



Setelah mandi, Ella merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk dan luas. Membuka sosial media dan memantau apa yang akan di lakukan Cello dan dia cukup terkejut. Unggahan yang baru 12 menit itu sudah terdapat hampir seribu komentar.


Akun dengan nama "Pembela Keadilan" menuliskan caption aneh :


Mari kita dengar sesuatu yag menarik, 1:30:11 - 1:30:20 #PART1


#Alex #Nadia #2saudara #teman #bukti #penjahat #pelaku #sebenarnya


Percakapan :


(Tolong... aku mohon jangan..)


(Jangan berisik cantik, kita nikmati malam ini)


(Gak mau, Lex Alex bangun tolong aku Lex..)


(aaahhh... lepas!)


(BRAAKKKK!!)


^^^


"Hem.. ya ini bikin orang penasaran dan pasti akan menunggu part 2 nya nih. Ahh akhirnya bisa tidur nyenyak." Ella meletakkan ponselnya di nakas dan dia pun memeluk boneka dengan wajah idolanya dan tidur dengan tenang.


Sebaliknya, malam ini beberapa orang sulit tidur karena panik. Pemilik suara itu sedang gusar karena bukti dari pulpen yang hilang telah ditemukan, entah oleh siapa.


Dia lah Sergio, pemilik pulpen tetapi bukan pemilik suara. Pemilik suara itu adalah Aprilio yang duduk di sebelahnya dengan raut wajah cemas. Diantara mereka ada komisaris polisi yaitu ayah mereka.


"Gimana ini yah?" Tanya Sergio pada ayahnya yang merupakan otak dari semuanya.


"Ayah akan segera mendorong anak buah ayah untuk segera membuka sidang lanjutan, dia harus di penjara sebelum orang-orang itu datang lagi." Jawab Pak Damar Ariyanto.


Mempunyai 2 anak lelaki yang tampan tetapi sombong seperti dirinya, awalnya dia bangga tetapi kali ini dia pusing memikirkan kasus yang melibatkan anak-anaknya. Sedangkan sang istri selalu saja sibuk dengan kelompoknya yang setiap hari kerjanya hanya menonton telenovela dan menghamburkan uang menuju negara drama tersebut.


Persidangan dibuka lagi dan sepertinya kali ini Alex akan di jatuhi hukuman seumur hidup untuk kejahatannya. Semua bukti begitu rapi mengarah padanya dan terlalu rapi hingga mencapai sempurna.


Marcello yang geram pun gerak cepat memposting rekaman suara dengan durasi yang sama namun terdapat sebuah nama di dalamnya.


Postingan heboh dan hingga pendukung Alex mendatangi persidangan untuk menuntut polisi dan jaksa mengusut kembali kasus ini yang terpaksa membuat sidang kembali tertunda.


Di depan ratusan orang di luar gedung pengadilan, seorang tunawisma yang sakit-sakitan membuka sebuah ponsel dengan suara yang keras. Ternyata sebuah video dan ada speaker kecil juga ditangannya.


Marcello menyiapkan itu, kemudian video itu juga terkirim ke ponsel semua orang disana dalam jarak 2 kilometer. Semua dalam jarak tersebut mendapatkan video itu.


Sebuah video pulpen yang mengeluarkan suara rekaman yang lebih panjang lagi, selama 2 menit dan sebuah tangan menekan tombol dan pulpen itu kembali diletakkan sampai video usai.


"Wah kasus ini semakin besar Ella..." Ucap Aster yang masih fokus pada layar ponselnya begitu juga Ella dan gadis itu hanya mengangguk sambil bergumam.


"Kita harus narik Cello jadi anggota kita sepertinya." Lanjut Aster lagi dan Ella masih mengangguk, kemudian menggeleng.


"Gak, gak boleh. Nanti aku gak bebas Aster, Cello sama aja posesif mirip kak J." Jawab Ella dan Aster hanya tersenyum.


"Tapi sekedar minta bantuan dia bisa sepertinya." Ujar Aster.


Cello yang masih berkutat dengan laptopnya dan kali ini dia menggunakan 2 laptop dan 3 ponsel untuk menyebarkan semuanya. Full rekaman tentang kejadian ini dan Cello juga melaporkan pada Fano agar jangan Ella dan Aster lagi yang menyelesaikan kasus ini.


Setelah Cello teliti, ada orang ketiga yang terlibat yaitu anak salah seorang mentri yang cukup terkenal yang sebanarnya hanya kebetulan mengetahui kalau Aprillio berencana melakukan sesuatu pada Nadia dan dia bergabung.


Naas, pria yang tidak di sebutkan namanya itu malah yang memaksa Nadia sampai gadis itu kehilangan nyawanya. Bukan Aprilio dan Sergio tapi pria itu yang lebih berkuasa dari pada komisaris polisi.


Hanya saja, polisi lah yang disuruh untuk membereskan dan mengkambinghitamkan Alex yang juga ada disana sehingga sangat sempurna.


"Uncle punya jaksa terpercaya dan akan membantu Alex, dari pada Ella danĀ  Aster terlibat lagi.


"Uncle minta tolong kau bisa kan sortir kasus-kasus yang masuk ke mereka Cello?" Tanya Fano dan Marcello mengangguk.


"Itu gampang uncle, email yang masuk atau comment di web mereka hanya kasus mudah saja." Jawab Marcello yakin.


"Uncle gak mau mereka dapat kasus sulit seperti ini, biarlah kasus sederhana seperti perselingkuhan atau sejenisnya seperti biasa saja." Ucap Fano dengan khawatir. Bagaimanapun Ella dan Aster adalah perempuan dengan tenaga terbatas, meskipun Ella jago beladiri dan Aster dengan keajaibannya.


** _ **


Seminggu berlalu dan Cello mengambil alih kasus Alex hingga Ella dan Aster tidak boleh ikut campur. Itu juga ditegaskan oleh Fano pada mereka berdua dengan sedikit mengancam akan menutup situs mereka. Akhirnya 2 gadis cantik itu pun menyerah dan hanya mengikuti saja kasus Alex yang memang ternyata bukan kapasitas mereka.


Bagaimana dengan Alex?


Alex sudah dikeluarkan dari penjara dan menunggu sidang selanjutnya setelah 4 orang pelaku sudah ditangkap.


Pelaku utama yang memperkosa dan menghilangkan nyawa, bernama Arya Purnomo. Otak dari kejahatan Malinka yang ternyata berhubungan dengan Arya, lalu Aprilio yang merencanakan serta Sergio yang membantu menyembunyikan kejahatan. Tentu hukuman mereka akan berbeda nantinya.


Alex dan keluarga Nadia hari ini melakukan pemakaman dengan banyaknya pelayat. Ella dan Aster juga turut hadir ditemani oleh Marcello. Mereka lega karena pelaku sebenarnya sudah diketahui dan menunggu putusan pengadilan saja.


Marcello membuat nama besar dari keluarga pelaku tidak mampu untuk membantu mereka, dengan kekuatan dan ketajaman mata dan ketikan netizen, semua tak bisa berkutik. Hukum rimba sebenarnya adalah dengan hukuman sosial.


.


.


.


"Sudah ngambeknya? udah seminggu loh dan masih saja marah sama kakak?" Tanya Jarred yang tidak bisa juga bertahan dengan ngambeknya Ella.


"Ya sudah kalau ngambek terus, gak usah ikut ke wisuda kakak dan sekedar info ya... ada after party nanti dan yang diundang adalah Oktav.


"OKTAV!!" Pekik Ella senang dan segera memeluk kakaknya dengan erat.


"Ella ikuuutttt..." Rengeknya kembali manja, Jarred hanya terkekeh geli. Mudah sebenarnya untuk meluluhkan adiknya yang cinta mati dengan idolanya.


Sudah beberapa kali Ella ngambek dan Oktav lah yang jadi senjata pamungkas Jarred untuk mengembalikan mood Ella yang suka berantakan.


"Ya uda.. packing sana, bawa pakaian yang nyaman saja karena gak terlalu dingin di Inggris sekarang." Kata Jarred dan Ella mengangguk, packing adalah hal yang dia sukai.


"Jangan dandan culun, awas saja." Ancam Jarred karena dia tidak mau foto wisuda dengan keluarganya hasilnya aneh.


TBC~