
Tepat jam 7 malam, Jarred dan Ella tiba di aula universitas. Semua orang tampak memukau dengan dandanan all out mereka.
Pesta ini merupakan pesta perpisahan yang rutin dibuat oleh pihak universitas dan panitianya adalah para mahasiswa sendiri.
Ella masih setia menggandeng lengan Jarred karena takut akan hilang di aula yang sangat besar dan ramai ini. Jarred juga terlihat asik mengobrol dengan teman-temannya yang selalu memuji Ella sangat imut. Ya imut, bukan cantik. Seharusnya Aster yang cocok berada disini untuk adu kecantikan dengan para gadis disini.
Aster lebih tinggi, rambut kemerahan dan dengan tipe wajah barat, sedangkan Ella pure asia dan mungil.
"Huh.. jadi rindu Aster." Gumam Ella yang sudah mulai bosan. Dia sudah berjanji pada Jarred untuk bersikap manis dan jauhkan sikap bar-bar dan manjanya sejenak. Tentu Ella menyanggupi demi Oktav yang entah kapan akan muncul disini.
Tak lama, musik yang dikenal oleh Ella terdengar. Ella langsung melepaskan tangan Jarred lalu berlari ke arah panggung di sisi Barat aula besar ini. Dengan sedikit mengangkat rok gaunnya dia sampai dengan cepat dan berdiri pas di depan panggung.
Ella berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat penampilan Oktav yang luar biasa, beberapa lagu dia nyanyikan dan tentu Ella juga ikut bernyanyi dan berteriak sampai akhir lagu Oktav membungkuk untuk pamit dan memberikan setangkai mawar merah untuk gadis imut yang menarik perhatiannya.
Ella sangat senang dan terus mencium wangi bunga mawar itu.
"Bahagianya yang dapat bunga dari idola." Ucap Jarred menggoda adik kesayangannya itu. Ella tak menyahut, hanya tersenyum sambil berjalan ke arah parkiran menuju mobil mereka.
"Aaahhhkkk... bungaku!" Teriak Ella terdengar panik, Jarred sedang berbicara pada salah satu temannya di sisi lain tempat parkir tak jauh dari tempat Ella menunggu.
"Kau... " Pekik Ella dengan kesal dan sangat marah.
Bught bugh
Pukulan bertubi-tubi dilayanglan Ella pada seorang pria dengan pakaian serba hitam dan bermasker. Pria itu berusaha menghalau pukulan Ella yang marah sambil menangis.
"Bunga dari Oktav, kau tau betapa berharganya itu!" Teriak Ella lagi sambil menendang kaki si pria.
Jarred segera lari mendekat lalu memeluk Ella dari belakang agar tidak semakin menjadi. Ella terus berontak dan ingin menghajar pria itu lagi.
"Stop Ella.." Ujar Jarred dan Ella akhirnya berhenti memberontak.
"Huaaaa bungaku kak..." Ella menangis lagi lalu mengambil bunga yang tak sengaja jatuh dan terinjak oleh pria tadi.
Sedangkan pria itu sudah diamankan oleh beberapa pria yang terlihat seperti bodyguard.
Jarred juga menghampiri pria itu dan meminta maaf dan semua selesai tanpa adanya cek cok lagi, namun Ella masih sesegukan meratapi bunganya yang sudah hancur.
Jarred hanya bisa menghela sepanjang jalan, menyetir sambil sesekali melirik ke Ella yang duduk di sampingnya, masih terisak melihat nasib bunga mawar merah di pangkuannya.
"Sudah.. jangan nangis lagi. Hanya bunga.."
"Apa? Hanya bunga? Kakak tau kan ini pemberian siapa?"
Potong Ella semakin kesal dan makin menangis, Jarred tidak bisa berbuat apapun. Bunga itu sudah hancur.
"Aster bisa perbaiki ga?" Tanya Jarred dan Ella menggelengkan kepalanya.
Sedih..
Jarred melirik sejenak ke ponselnya yang diletakkan di dashboard mobil, notifikasi yang dia baca membuatnya tersenyum.
"Pukulan adikmu terasa sampai ke tulang."
.
.
.
Di Magical Flower,
Kita tinggalkan Ella yang sedang meratapi bunganya, Aster sedang melamun dan mengetuk pulpennya berulang kali. Otaknya berpikir keras tapi tetap saja dia butuh bantuan Ella. Kasus yang masuk sangat luar biasa.
Dalam 2 hari, dia menyelesaikan kasus seorang diri dengan bantuan Marcello tentunya. Hanya kasus perselingkuhan biasa. Tapi tiba-tiba pagi ini dia mendapatkan email MH, dengan subject Pengantin Merah. Sungguh Aster merinding hanya membaca judulnya saja sedangkan Marcello juga bingung karena isi dari email itu hanya nama dan sebuah akun sosial media yang menampakkan kehidupan sosialita yang hedon.
"Apa maksudnya?" Gumam Aster lalu membuka sosial media itu, melihat-lihat dan sampai 1 foto. Aster memicingkan matanya dan memperbesar foto itu.
"Dapat!" Pekik Aster membuat beberapa pekerjanya disana ikut terkejut.
"Cello, lihat foto tanggal 11 Mei, itu hampir 2 bulan lalu." Ucap Aster sambil berjalana masuk kedalam toko lalu naik ke lantai 2 kamarnya.
"Iss aku butuh Ella nih.." Gerutu Aster saat membuka laptop milik Ella. Aster tidak begitu suka berselancar ke dunia maya.
"Itu sebuah gaun pengantin tapi putih." Ucap Aster karena Marcello masih disana mendengarkannya.
"Kita tunggu dulu saja, manatau akan ada email lagi nanti." Kata Marcello dan Aster setuju. Meskipun begitu, dia masih saja penasaran.
Aster terus mengamati foto-foto itu sambil tiduran, gadis cantik itu bahkan lupa pada makan malamnya hingga Flora yang harus datang dan menjemputnya pulang untuk makan malam yang sangat terlambat.
"Ibu.. " Panggil Aster sambil nyengir, melihat wajah Flora yang begitu gemas melihatnya. Aster melirik jam dan terkejut kalau sudah jam 8 malam.
"Bagus.. bermalas-malasan ya sampai lupa pulang untuk makan malam. Ibu sudah puluhan kali meneleponmu dan kau malah asik nonton di laptop sampai di pangku begitu." Flora mengomel panjang melihat Aster yang tiduran dengan laptop terbuka, dia menopang laptop itu dengan dadanya dan satu tangannya.
Aster segera menutup laptopnya dan melihat ponsel yang sejak tadi dia silent.
"Sorry bu, Aster lupa idupin ponselnya." Ucapnya lalu memeluk Flora dengan kencang.
"Ayo pulang, ayah sudah menunggu." Ajak Flora dan mereka pulang bersama.
TBC