
Hari pertama kerja, Ella dan Aster betemu saat malam. Aster yang menjemput Ella di Studio kini sudah ada di ruang makan keluarga Hastanta itu. Mereka akan makan malam bersama.
"Kak J dirutmu ternyata.." Celetuk Ella sambil memakan makanannya sedangkan Jarred hanya melirik adiknya sebentar lalu lanjut makan.
"Iya aku kaget juga, kak J apa gak capek ya?" Tanya Aster lalu menatap Jarred, pria itu pun menatap Aster dan tersenyum.
"Gak kok, kan jadi dosen hanya sementara. Kalau mahasiwanya gak kaya Ella semua ya gak capek." Jawab Jarred yang bisa-bisanya sempat menggoda adiknya.
"Kasian Aster dapat dirut kaya kakak." Seru Ella sedikit kesal.
"Sudah.. lanjut makan." Tegur Imelda kalau tidak akan berlanjut panjang nantinya.
"Oh iya.. papa dan mama kok bisa-bisanya menyetujui Ella jadi model pengganti?" Tanya Ella yang baru teringat, tadi dia sudah syuting pembuatan music video bersama Oktav dan belum selesai.
"Bukan papa mama tapi kakak. Tapi suka kan bisa deket-deket Oktav, di peluk nanti dicium gandengan tangan." Jawab yang lamgsung mendapat pelototan dari Fano.
"Apa cium-cium, gak ada. Hapus adegan itu!" Sergah Fano yang tidak suka karena Ella sangat berharga untuknya.
"I love u papa.. " Ella memberikan bentuk hati kecil melalui jarinya.
"Mampus.." Cibir Ella pada Jarred yang tersenyum kikuk.
"Aman kok pa.. cuma cium pipi. Ella juga pasti seneng kan.." Lanjut Jarred dan wajah Ella tampak memerah.
"Hahahaha.. wajahmu mirip tomat busuk Ella." Tawa Aster membuat Ella sedikit kesal.
"Tomat busuk apanya? Sudah cantik dan imut begini." Gerutu Ella tak terima.
Selesai makan malam Aster pamit pulang, hari pertama mereka magang cukup melelahkan.
^^^^^^^^
Pagi hari ini studio sedikit kacau, ada setting yang rusak jadinya syuting tertunda selama 1 jam. Hanya 1 jam tapi itu sangat berharga karena jadwal Oktav yang sangat padat.
"Kalau begitu syuting malam bisa?" Tanya sutradara pada Rudy manager baru Oktav selama di Arche Model & Star (AMS).
"Bisa tapi model penggantinya bisa tidak?" Rudy balik bertanya karena dia tau model penggantinya adalah karyawan magang di Tim Linda.
"Sepertinya bisa, nanti aku kabari lagi." Jawab Sutradara dan Rudy mengangguk. Jadinya pagi ini syuting batal karena Oktav harus rekaman iklan yang tidak bisa ditunda.
.
.
"Jadi batal ya.." Ella tampak kecewa karena tidak melihat Oktav pagi ini.
"Gak batal tapi di reschedule ke malam nanti jam 9, kau bisa?" Tanya Helma dan Ella mengangguk bisa.
"Bisa bisa.. aku telepon mama dulu." Jawab Ella dengan semangat lalu menelepon Imelda untuk minta izin.
"Pulang kerja jam 5, syuting jam 9 malam 4 jam mau ngapain?" Ella begumam sendiri dan Helma yang menatapnya aneh hanya membiarkan saja.
Ella mengirim pesan pada Aster untuk menyusulnya ke studio jika sudah selesai bekerja. Jarak perusahaan dan studio tidak terlalu jauh dan Aster tentu mau karena dia juga ingin melihat-lihat.
Jam 5 sore, Aster yang sedag bersiap pulang dipanggil oleh Jarred.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Aster dengan penuh profesionalitas.
"Hahahha jangan kaku gitu Aster, sudah jam 5 santai aja." Ucap Jarred yang membuat Aster merasa canggung.
"Iya kak.. ada apa?" Tanya Aster lagi dengan santai.
"Mulai besok jangan pakai pakaian hitam putih seperti ini, karena akan temani aku menemui client." Kata Jarred dan Aster menunduk menilai penampilannya sendiri.
"Jangan cemas, kau tetap cantik Aster hanya saja gak mungkin aku kenalkan sekretaris magang kan ke para client." Lanjut Jarred membuat Aster sedikit tersipu dan segera mengangguk.
"Ok kalau gitu hari ini juga aku ke mall, ajak Ella aja soalnya nanti dia syuting jam 9 malam." Jawab Aster dan diangguki oleh Jarred.
"Ok hati-hati di jalan." Ujar Jarred sebelum Aster meninggalkan ruangannya.
"Kita makan dulu trus cari baju kerja." Kata Aster pada Ella.
"Ok, tapi gak jadi lihat-lihat studio gapapa?" Tanya Ella pada Aster yang sibuk mencari style yang cocok untuk dirinya.
"Gak masalah, besok aku mau temenin kak J ketemu client jadi gak boleh bikin malu. Kalau baju hitam putih gini kaya pelayan yang lagi training." Jawab Aster dengan semangat.
"Hoo ok baiklah, serahkan pada Ella. Bu Linda sudah memberikan pencerahan padaku dan aku tau style yang cocok untukmu." Sahut Ella dengan senang bisa membantu Aster.
Kedua gadis cantik itu sampai di salah satu mall besar di kota ini, tentu mall milik Hastanta Group juga tapi tak ada yang mengenali Ella yang memang tidak tertarik dengan bisnis keluarga.
"Yuk makan dulu." Ajak Aster dan mereka masuk di salah satu restoran ternama disana.
"Hei.. 2 cewek culun." Sapa seorang gadis pada mereka berdua. Ella sangat malas bertemu dengannya.
"Mau makan juga? Bisa bayar?" Tanyanya dan Ella malas menyahutnya.
"Siapa sih Ay?" Tanya teman dari gadis itu yang adalah Ayana.
"Cewek culun miskin, kalau yang satu lagi lumayan lah tapi yang itu selalu terlihat jadi benalu." Jawab Ayana menganggap remeh Ella.
"Tapi dari pakaiannya gak mungkin miskin sih, malah lebih mahal kelihatannya dari temannya itu." Ujar teman Ayana dan Ayana yang baru sadar langsung menoleh pada Ella dan Aster yang duduk di meja sebelah meja mereka.
"Iya ya.. tas itu kan lumayan harganya." Gumam Ayana dan diangguki oleh temannya.
"Bukan lumayan tapi memang mahal." Sahut temannya itu.
"Mungkin KW kali." Timpal Ayana lagi.
Sementara di meja Ella, dia sedang mencibir Ayana, "Aku miskin? Dia yang miskin. Dasar cewek bodoh."
"Sabar... biar ajalah. Kita makan dulu jangan perdulikan dia." Aster yang memang lebih sabar terlihat santai saja.
Ayana yang sebenarnya sudah selesai makan sengaja menunggu Ella, mau lihat siapa yang bayar makanan ini. Restoran kalangan menengah keatas ini cukup mahal untuk kantong orang biasa.
Tak menyangka, Ella lah yang mengeluarkan dompet dan kartu debit untuk membayar.
"Apa?" Tantang Ella melotot pada Ayana yang masih bingung dengan Ella dan mulai penasaran. Mereka tak memperdulikan Ayana dan langsung kelaur dari restoran.
Aster masuk ke salah satu butik ternama di mall itu dan Ella tentu mengekorinya.
"Nah ini bagus.." Ella mengambil 1 blouse warna cream, lalu berpindah lagi dan menarik lagi 1 kemeja warna coklat, seterusnya dia mengambil sampai 5 baju lagi dengan model dan warna berbeda.
"Tunggu.. celana dan roknya belum." Ella mencari dan menemukan 2 celana warna abu-abu dan cream. Kalau celana hitam dan warna netral lainnya Aster sudah punya banyak.
"Roknya..." Ella mengambil 4 rok span selutut dan 1 diatas lutut. Lalu berpindah ke rok panjang sebetis dengan berbagai warna dari gelap hingga warna pastel.
"Gak kebanyakan nih?" Tanya Aster yang keranjang belanjanya sudah penuh, salah satu pegawai membantu mereka.
"Sudah.. tes dulu sana." Usir Ella dan menunggu di kursi dengan tenang.
Aster mencoba baju dan salah satu rok yang menurutnya cocok, dia keluar dan Ella menaikkan jempolnya, terus sampai semuanya selesai.
"Body kaya model emang enak ya, pakai baju apapun cocok." Kata Ella memuji Aster.
"Jangan ambil semua deh.. kebanyakan. Belum tentu tiap hari meeting diluar." Kata Aster dan Ella setuju.
"Bener, pilih aja yang kau suka." Sahut Ella dan Aster hanya memilih 1 celana dan 2 rok. Lalu memilih 3 blouse karena kemejanya sudah banyak dirumah.
"Apa yang kurang ya..." Gumam Aster melihat belanjaannya.
"Blazer, pasti butuh nanti." Ella menyahut dan Aster baru ingat.
"Yuk cari lagi." Ajak Aster dan mereka masuk ke butik lain, 2 blazer berwarna hitam dan putih di pilih Aster. Ella juga membawakan 3 dress formal untuk berjaga-jaga jika butuh nantinya.
TBC~