Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 16 - The Case (Aku Tidak Bersalah 3)



Di sebuah ruangan kecil dan pengap, Alex masih menangis dan merutuki apa yang terjadi padanya. Ketidakadilan dan kehilangan yang luar biasa.


Alex dan Nadia adalah teman baik, tapi rasa lebih di hati Alex pada Nadia membuatnya selalu meratukan Nadia. Mereka sangat dekat sampai tidak ada yang berani mendekati Nadia ataupun Alex.


"Kenapa ini terjadi Nad? Aku rindu padamu.. biarlah aku ikut mati saja, aku ga bisa kehilanganmu." Ucap Alex masih terus menangis setiap malam. Kematian Nadia lah yang menjadi pukulan terberat untuknya.


"Alex, ada tamu." Kata petugas polisi yang berjaga sambil membuka pintu penjara. Alex dibawa ke ruangan lainnya yang tertutup dan dijaga oleh 1 petugas di sudut ruangan dekat pintu.


"Siapa ya?" Tanya Alex yang tidak mengenali tamunya.


"Nama saya Aster dan ini Ella." Jawan Aster dan Ella hanya tersenyum tipis. Alex hanya memandangi mereka berdua.


"Kami ingin bantu kamu Alex, tapi sedikit ulit karna kamu juga ga tau kejadian sebenarnya." Kata Aster lalu Ella yang menyambung.


"Apa ada hal yang kamu curigai? Teman-teman yang juga ada di club itu." Ella memberikan nama-nama yang telah dia tuliskan di secarik kertas.


Alex tampak berpikir, "Aprilio pernah menyatakan cinta ke Nadia tapi ditolak." Ujar Alex lalu dia menunjuk 1 nama lagi.


"Dia sangat benci Nadia karena Aprilio suka Nadia."


Ella dan Aster melihat nama yang ditunjuk Alex, "Malinka. Dia hilang." Ujar Ella.


"APA?!" Pekik Alex terlihat tak percaya.


"Tidak mungkin, 2 hari lalu dia datang kesini tapi aku tolak karena kesal dengannya. Karena Malinka yang mengajak kami, kami sudah menolak tapi dia memaksa bahkan membujuk dan bersikap baik pada Nadia. Malinka ga pernah seperti itu." Ucap Aex panjang lebar.


"Aku lupa..." Ella menepuk jidatnya. "Belum selidiki Malinka karena fokus pada Aprilio dan Sergio karena mereka sedikit mencurigakan." Lanjut Ella lagi dan Aster hanya menggeleng karena tau kalau Ella memang sedikit ceroboh.


"Tapi siapa kalian?" Tanya Alex lagi karena dari penampilan Aster dan Ella tidak seperti pengacara ataupun dari lembaga apapun.


"Jangan khawatir, kami hanya ingin membantu. Banyak mahasiswa di kampus kita yang medukungmu jadi tenangkan dirimu dulu disini." Jawab Ella.


Mereka berbicara lumayan lama dan dari kesaksian Alex bisa di tarik kesimpulan kalau ada orang lain yang terlibat.


Ella masih berpikir keras, menyatukan semua potongan informasi yang mereka dapatkan dan dia harus segera menemukan pulpen yang di cari oleh orang-orang tadi sesuai informasi Aster tentang pulpen yang juga Ella temukan di sosmed Sergio.


.


.


.


Ella dengan nekat pergi ke TKP sendirian di sore hari karena dia snagat penasaran setelah mencari tau tentang pulpen itu. Dari sosmed Sergio, Ella akhirnya tau kegunaan pulpen itu dan pasti menjadi kunci kasus ini.


Ella mendapati Sergio sedang merekam pembicaraan dan memutar kembali pembicaran itu dengan pulpen emasnya.


Ella masih berkeliling di TKP dengan berbekal senter dari ponsel dia mengelilingi sekalah demi selangkah. Ella juga akhirnya menemukan sudut dengan letak kursi kayu yang sedikit aneh.


Gudang tak terpakai tapi ada beberapa kursi kayu yang sepertinya baru dipindahkan, karena debu dari kursi kayu yang satu dengan yang lain tidak sama. Ada yang bersih di sekitar tempat duduknya, ada yang sangat berdebu bahkan ada yang terdapat pola abstrak. Sepertinya beberapa kuri ini telah digunakan dan dipindahkan dan ditumpuk kembali.


Setelah mengamati kursi-kursi itu mata Ella menangkap ada sofa panjang di bawah tumpukan kursi dan dengan mata elangnya dia menangkap sesuai di sofa itu. Benda kecil berwarna emas terselip di lipatan sofa.


"Ini dia..." Gumam Ella lalu perlahan masuk ke dalam celah, karena sulit dia memakai sarung tangan dan memindahkan beberapa kursi lalu masuk kembali.


"Akhirnya dapat!" Pekiknya senang lalu menyimpan pulpen ke saku bagian dalam jaketnya.


"Hei gadis kecil, ngapain kesini?" Tanya salah satu pria brewokan menghampiri Ella.


"Gak ngapa-ngapain om, cuma tersesat aja." Jawab Ella asal.


"Emangnya mau kemana manis?" Tanya yang lain lagi.


"Lagi nunggu temen om, tapi kayaknya gak datang teman saya." Jawab Ella lagi yang sudah memasang kuda-kuda bersiap jika pria-pria itu macam-macam.


"Temenin kita aja cantik, kamu masih SMA ya? Cantik banget." Salah satu pria yang sudah mendekat menoel dagu Ella sedikit dan membuat Ella kesal.


"Jangan pegang-pegang!" Bentak Ella garang tapi beberapa pria itu malah tertawa.


Karena kesal Ella menonjok perut pria yang menoelnya tadi tapi yang lain malah jadi marah dan mengeroyok Ella.


Ella kalah kali ini karena memang badan mereka jauh lebih besar dan ada 4 orang dengan kekuatan yang tidak biasa. Ella kalah jumlah dan kekuatan akhirnya tangannya di pegang oleh 2 orang pria lalu 2 lainnya tertawa dan membelai pipi mulus Ella.


Beruntung mobil jemputannya tiba, 2 orang bodyguard turun dan akhirnya perkelahian terjadi. Dengan salah satu pria tertembak karena memang bodyguard keluarga Hastanta dibekali senjata.


Tiga pria lainnya membantu temannya dan kabur, Ella tentu sudha masuk ke mobil sejak tadi. Lalu mereka pulang, Ella sudah yakin akan dimarahin habis-habisan oleh papa dan J.


.


.


Jam 8 malam Ella sampai dirumah dan berlari kecil masuk ke rumah dan di ruang depan sudah duduk Fano dan J menunggu sang putri keluarga itu.


"Fiorella Aelisius Hastanta!"


"Mampus..."


Suara menggelegar J terdengar seperti auman singa yang siap mengamuk.


"I ii yaa.. kak J." Jawan Ella terbata dan sekilas melirik ke J taku-takut lalu matanya berpindah ke Fano yang juga terlihat dingin.


"Sudah puas mainnya?" Tanya J dengan nada sedingin mungkin, Ella sadar dia salah.


"Maaf.." Hanya itu yang keluar dari mulut Ella dan menunduk dalam.


"Apa yang kau dapat dari melakukan hal begini?" Tanya J lagi dan Ella tetap diam.


"Hentikan semua dan kuliah normal layaknya gadis seusiamu Ella." Ucap Fano pada akhirnya.


"Tapi pa.. Ella udah dapat bukti, ini bisa jadi kunci semua hal yang terjadi." Jawab Ella melihat pada Fano yang menghela panjang.


"Masuk ke ruang kerja. Jangan sampai mama tau." Ujar J lalu melangkah menuju ruang kerja diikuti Ella yang lebih dulu merangkul Fano.


"Papa... bantu Ella, ini demi keadilan dan Ella udah dapat ini." Bisik Ella pada Fano dan dia tau papanya pasti akan membelanya.


"Kesana dulu, J sedang kesal. kau hampir celaka sayang." Ucap Fano dan Ella mengangguk, dia masih merangkul lengan Fano dengan manja.


TBC ~