Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 15 - The Case (Aku Tidak Bersalah 2)



Seperti yang diperintahkan, Seina mendatangi Alex di penjara sementara dan berbincang dengan pria muda itu cukup lama. Siena tentu menyamar sebagai aktifis yang ingin membantu menegakkan keadilan untuk Alex dan Alex percaya saja karena hal lebih buruk apa lagi yang akan dia terima selain ini?


Selesai dengan Alex, Seina Keluar dan mengirimkan rekaman suara Alex yang menceritakan semuanya ke Ella.


"Aster.. semua yang dikatakan Alex cocok dengan waktu dan kejadian di cctv, nah kita harus cari bukti cctv lain." Kata Ella yang selesai dengan tugasnya. Aster juga sedang sibuk mencari tau rute mana saja yang dilalui Alex dan Nadia di sekitar club.


"Mereka jalan kaki dari parkiran ke luar, lalu naik taxi mengantarkan Nadia pulang dulu tapi mereka malah berakhir di sebuah gudang kosong dengan Nadia yang sudah terbujur kaku dan penyebab kematian adalah tenggelam, sedangkan Alex tidak sadarkan diri dalam keadaan tidak berpakaian tak jauh dari sana." Aster membaca kembali apa yang dia tulis di catatannya.


"Kita harus cari taxi itu." Seru Ella dan Aster setuju.


"Miris sekali, kasian Nadia.. dia ditenggelamkan paksa di dalam bak air di gudang itu sampai mati." Gumam Aster yang masih tidak tega setelah membaca berkas tentang Nadia tadi.


"Semua sidik jari hilang, bahkan milik Alex juga. Hanya saja di jaket kulit Nadia ada sidik jari Nadia dan Alex, jaket itu ada di dekat Alex." Lanjut Ella yang juga baru membaca berkas itu.


"Jadi?" Tanya Aster.


"Huh.. kita harus periksa orang-orang yang ikut ke club terutama si pemilik acara." Jawab Ella dan Aster mengangguk. Sekarang mereka akan berbagi tugas lagi.


Ella dengan tangan ajaib nya akan menyelidiki orang-orang dengan kemapuan meretasnya dan Aster akan mencari bukti dan keberadaan taxi yang membawa Alex dan Nadia.



Aster berjalan santai dengan ditemani salah satu pengawal dari ayahnya, dengan pakaian santai mereka berjalan layaknya turis dan guide di sepanjang jalan dekat club. Beruntung wajah Aster memang bule tulen hingga dia dianggap turis disini.


Aster melihat-lihat dan bertanya segala macam hal dan menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Lihat, mereka seperti mencari sesuatu juga." Bisik Aster pelan.


"Iya nona, sepertinya mereka juga pengawal seperti kami." Jawab pengawal itu.


"Cari tau siapa mereka dan kita coba ikutin saja sambil pura-pura."


Aster berjalan pelan dengan pandangannya menoleh kanan dan kiri, dengan menggunakan bahasa rusia dia berkomunikasi dengan guide gadungannya. Hingga mendekati beberapa pria berperawakan seram dia mengobrol sambil mendengarkan sedikit pembicaraan mereka.


"Bos akan marah jadi secepatnya kita harus cari barang itu." Kata salah satu dari mereka.


"Huh.. kenapa bos bisa ceroboh barang sepenting itu, kalau di temukan orang lain kan gawat! Dasar, kita yang kena getahnya." Gerutu yang lainnya sambil melirik ke arah Aster yang masih dengan obrolan yang tidak diketahui beberapa pria itu.


"Disini sudah gak ada, cari saja di gudang." Ajak pria yang berbadan paling besar pada yang lainnya. Hingga mereka menjauh barulah Aster dan pengawalnya kembali ke mode normal.


"Mereka cari apa ya?" Tanya Aster bingung karena tidak menemukan sesuatu yang penting dari pembicaraan pria-pria itu.


"Tadi saya lihat salah satu dari mereka melihat foto di ponsel, seperti sebuah pulpen." Jawab pengawal Aster yang memang sempat melirik dan melihat sebuah pulpen.


Ditempat lain, rumah mewah keturunan keluarga Hastanta.


Ella masih berkutat mencari informasi dari temen-teman Alex yang bersama di club itu. Sudah sejak sore setelah pulang kuliah Ella berada di kamarnya.


"Aprilio semester 6 bisnis dan Sergio semester 2 hukum, saudara kandung dari keluarga kaya sih sepertinya." Gumam Ella yang sudah berselancar di sosial media kedua pria itu. Ella melihat mobil mewah, jam tangan mewah dan segala hal mewah yang diupload oleh 2 bersaudara itu.


Jari-jari mungil nan cantik Ella terus bergerak dan mencari semua informasi tentang Aprilio dan Sergio, entah kenapa dia selalu terfokus pada 2 orang tersebut.


"Ella.." Panggil Imelda sang ibu yang masuk ke kamarnya.


"Ya ma.." Jawab Ella yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Kok belum tidur?" Tanya Imelda yang sudah mendekat dan mengelus kepala Ella dengan lembut.


"Bentar lagi, masih jam segini." Jawab Ella lagi.


"Sudah jam 11 sayang." Kata Imelda dan Ella sedikit terkejut.


"HA? Sejak kapan sudah jam 11?" Tanyanya pada Imelda yang hanya bisa menggeleng,


"Tidur ya, besok ada kelas?" Tanya Imelda pada Ella yang sedang mematikan laptopnya.


"Iya ada kelas pagi dan dosen killer Jarred." Jawab Ella sedikit merengut karena dia sebal kalau sudah ada mata kuliah Jarred, dia pasti akan sibuk.


"Hahahah makanya tidur sekarang ya.."


"Ok mama."


Imelda mengecup puncak kepala Ella dan keluar kamar, dan Ella, dia akan tidur sekarang juga karena tidak mau kesiangan besok pagi.


Seperti biasa, Ella berangkat ke kampus bersama Aster yang sudah menunggu sejak 10 menit lalu di depan gerbang. Ella terburu-buru dan hanya mengecup pipi orang tuanya dan juga Jarred lalu berlari keluar dengan sepotong roti di mulutnya.


"Hati-hati Ella, jangan buru-buru."  Teriak Imelda tapi Ella hanya melambaikan tangannya.


"Morning Aster!" Teriak Ella begitu membuka pintu mobil.


"Kau ini.. kita sudah telat 15 menit." Ucap Aster dan Ella hanya nyengir karena dia lah yang telat bangun meskipun hanya telat 10 menit.


"Langsung kampus aja, kak J juga udah jalan tuu..." Tunjuk Ella pada mobil Jarred yang juga mulai bergerak.


"Ya sudah, ga sempat ketemu temannya Alex deh." Pasrah Aster karena dia juga ada kelas di pagi ini.


"Jadi gimana pencarianmu?" Tanya Ella yang belum sempat diskusi lagi dengan Aster.


"Ada beberapa orang yang mencari pulpen, ga tau deh pulpen apa tapi sepertinya belum ketemu." Jawab Aster, Ella masih menyunyah rotinya dan mulai membuka laptop. Meskipun ada di mobil mereka tetap nyaman bekerja.


"Pulpen ini?" Tanya Ella, Aster menoleh dan melihat foto pulpen yang mirip dengan yang dicari oleh orang-orang itu.


"Mungkin, terlihat mirip." Aster berpikir sebentar dan memang kata pengawalnya yang sempat melihat foto pulpen itu, pulpen berwarna emas dengan ukiran nama tetapi dia tidak bisa melihat nama yang terukir.


"Ini punya Sergio, adiknya Aprilio." Kata Ella lalu menutup kembali laptopnya karena sudah sampai kampus. Mereka berpisah sebab Aster akan ke gedung sebelah untuk mulai mata kuliahnya. Sedangkan Ella masuk ke kelas yang sebentar lagi akan ada Jarred yang mengajar.


TBC~