
"Wah kak J memang tambah cakep." Celetuk Aster melihat Jarred yang baru keluar dari ruang gym yang ada di sebelah kamar Ella.
"Halo Aster, kamu makin cantik ternyata." Sapa Jarred sambil tersenyum melihat adik-adiknya itu.
"Kak, besok jangan kasih tugas Ella ya.. plissss..." Bujuk Ella dengan wajah memelasnya.
"Kenapa? Jangan aneh-aneh." Tanya Jarred curiga.
"Gak aneh kok, cuma besok Ella mau lamar kerja, mau pasang alat penyadap sama kak Seina." Jelas Ella sambil berbisik takut mamanya mendengar, padahal Imelda dan Flora ada di dapur lantai bawah.
"Gak, jangan macam-macam." Tolak Jarred tapi jangan panggil Ella jika tidak berhasil membujuk kakaknya itu yang akhirnya mengangguk pasrah. Sedangkan Aster hanya terkikik geli di samping mereka.
"Terima kasih kakak gantengnya Ella, cup.." Ella melompat dan memberi kecupan di pipi Jarred sambil berlalu masuk ke kamarnya, di ikuti Aster yang mengedipkan 1 matanya di depan Jarred.
"Dasar, gadis-gadis nakal." Gumam Jarred yang selalu luluh di hadapan 2 gadis cantik itu.
\= = = = = =
"Permisi nyonya.. pekerja yang mau melamar sudah ada di bawah." Lapor seorang pelayan pada Lilian yang ada di ruang keluarga lantai 2 rumah megah itu.
"Suruh mereka menunggu." Jawab Lilian.
Tak lama Lilian sudah turun dan melihat ada 3 orang yang menjadi kandidat pelayan dan pengasuh di rumah Indra tersebut. Rumah baru yang di beli Indra setelah Morina dinyatakan meninggal.
"Nama?" Ucap Lilian dengan nada dingin dan wajah sombong.
"Saya Wati Nyonya, umur 35 tahun sudah jadi pelayan selama 14 tahun."
"Saya Leli, 20 tahun dan baru setahun lalu jadi pelayan di restoran."
"Saya Lina, 25 tahun sudah 3 tahun menjadi pelayan khusus merawat bayi."
Setelah ketiganya memperkenalkan diri, Lilian melihat mereka satu persatu. Di mulai dari Wati yang paling tua, terlihat sedikit gemuk dan terus berkeringat membuat Lilian menjadi jijik.
Lanjut ke Leli yang adalah Ella, dia menyamar sebagai Leli dengan dandanan dan makeup jelek namun rapi dan bersih. Lilian melihatnya sejenak saja lalu lanjut ke Lina yang adalah Seina, guru taekwondo Ella yang adalah pengawal wanita terbaik milik Fano.
"Kalian diterima, dia tidak." Ucap Lilian menunjuk wati yang tidak diterima. Ella tersenyum puas dan sedikit menunduk.
"Bekerja mulai hari ini, jam kerja dari jam 7 pagi sampai 6 sore untuk kamu." Lilian menunjuk Ella dan di balas anggukan.
"Kamu, 24 jam disini mengurus anak suami saya." Lilian ganti menunjuk Seina. Tanpa Lilian duga, Seina sangat cantik dengan perawakan tinggi semampai dan mata berwarna cokelat terang.
"Kita berhasil." Bisik Ella dan Seina mengangguk dan tersenyum tipis, mereka mengikuti pelayan senior sampai di bagian kamar pelayan dan disinilah Seina akan tidur, sementara Ella langsung dibawa untuk mengerjakan tugas pertamanya.
"Leli, ingat ya.. tugas kamu pagi hari adalah bawa susu segar masuk dari pintu belakang, lalu segera hangatkan dan taruh di meja makan. Lalu ke taman belakang bersihkan jendela dari luar. Setelah itu ke lantai 2 bersihkan seluruhnya." Jelas pelayan senior bernama Betty.
"Iya mba Betty. Tapi lantai satu dan ruangangannya siapa yang bersihkan?" Tanya Ella edikit penasaran.
"Itu tugasku karena Tuan dan Nyonya tidak suka sembarang orang masuk ke kamar dan ruangan pribadi mereka. Terutama ruang kerja Tuan, jangan pernah berani masuk kesana." Tegas Betty sekali lagi.
"Ella mulai dengan membersihkan jendela dari luar di taman belakang, dia sedikit mengintip, apa yang ada di dalam ruangan itu tetapi tidak bisa melihat apa pun karena kaca jendela itu begitu gelap dari luar.
"Ada apa?" Tanya Ella pada Seina yang melambai memanggilnya ke arah dapur kotor tepat di samping ruangan yang sedang dibersihkan Ella.
"Stt.. jangan berisik, anak Morina sangat tenang dan gak sulit buat dijaga. Jadi aku akan sesekali memantau kalau ada celah langsung bertintak saja." Ucap Seina dan Ella mengangguk.
Sudah jam 6 sore dan waktunya Ella pulang, di ujung jalan Aster sudah menunggu di dalam mobil.
Sedangkan Seina bertugas tinggal disana dan mengasuh anak Morina dengan baik sambil sesekali mengambil foto untuk dikirimkan ke Aster agar bisa diteruskan ke Morina.
"Siapa dia?" Tanya Indra pada Lilian saat melihat Seina yang sedang menggendong putranya.
"Oh pengasuh anak mu lah." Jawab Lilian sedikit melirik ke Seina yang sedang memberikan susu untuk Rendy.
"Cantik." Gumam Indra yang masih menatap Seina. Seina yang paham arti tatapan itu, otaknya langsung bekerja. Dia senyum tipis sambil melihat kearah Indra, berharap pria itu tergoda.
Seina berencana menciptakan pertengkaran Indra dan Lilian agar mempermudah aksi mereka untuk mendapatkan bukti. Indra yang memang terkenal suka mencari wanita malam tentu sangat tau mana wanita cantik, meskipun Seina menutupi kecantikannya tapi Indra tau bahwa wanita itu sangat mempesona apalagi tubuhnya yang berbalut pakaian sederhana namun tidak mampu menutupi tubuh sintalnya.
"Ok, berhasil. Dasar pria brenggsek! Kau akan hancur nanti." Umpat Seina lalu segera pamit untuk menidurkan Randy.
"Nyonya, Tuan saya permisi. Tuan muda sudah mengantuk." Izin Seina dan Lilian hanya mengangguk.
Seina sengaja berjalan perlahan dengan anggun dan sedikit menggoda, Indra yang melihat itu pun tersenyum tipis menunggu saat yang tepat untuk menikmati tubuh pengasuh anaknya itu.
"Mas, kirimkan uang lagi. Yang kemarin kurang." Ujar Lilian pada Indra yang masih hanyut dengan pikirannya.
"Mas!" Bentak Lilian membuat lamunan Indra buyar seketika.
"Berapa?" Tanya Indra yang tau permintaan Lilian.
"Kurang untuk bayar EO nya. Sudah aku kirimkan lewat email tadi aku lupa berapa." Jawab Lilian dan Indra langsung membuka email terusan dari EO yang dikirimkan Lilian tadi siang.
"Ya udah aku kirim sekarang." Kata Indra yang langsung ingin mengirim uangnya.
"Lebihkan, aku mau ke salon besok." Kata Lilian lagi dan tentu Indra mengirim lebih untuknya.
"Udah, lebih 50juta cukup?" Tanya Indra dan Lilian langsung tersenyum.
"Cukup, cuma ke salon sisa nota belanja kan sudah dikirim ke kamu mas." Lilian tersenyum senang lalu mengecup bibir Indra.
Begitu semua orang di rumah besar itu terlelap, Seina langsung melancarkan aksinya. Dia segera memasang kamera di sudut ruangan yang tak terlihat lalu perlahan masuk ke ruang kerja yang selalu di wanti-wanti oleh Betty kalau tidak boleh masuk.
Seina melihat ruangan yang cukup gelap, disana seperti ruang kerja pada umumnya hanya saja matanya fokus pada sebuah lukisan yang cukup aneh menurutnya.
Setelah semua kamera terpasang Seina kembali ke kamarnya untuk tidur, besok masih banyak tugas menantinya.
TBC ~