Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 35 - The Case (Lindungi Bayiku 5)



Beberapa bulan berlalu, Melisa sangat menjaga Sarah. Mereka membuat sebuah drama sampai Sarah harus dan wajib hanya memakan makanan yang dia sediakan karena usulan dokter demi calon bayinya.


Noni dan Toby tentu setuju karena demi keturunan mereka. Meskipun Toby terlihat cuek tapi ternyata dia sangat mencintai Sarah. Melisa mengetahu ini karena dia berhasil mengintip lagi saat Naomi menggoda Toby di rumah.


2 hari lalu,


"Mas Toby.. kapan kita jalan-jalan lagi?" Tanya Naomi dengan suara embut yang mendayu.


"Ohh.. nanti kapan-kapan deh, aku lagi sibuk Nao." Jawab Toby masih terus memperhatikan ponselnya.


Hari sudah malam, Noni sedang tidak dirumah karena menghadiri pesta keluarganya di luar kota, sedangkan Sarah sudah tidur.


"Iih mas, kok gitu sih. Naomi sudah nunggu lama dan mas Toby sibuk terus." Gerutu Naomi dengan kesal.


"Lah.. kamu bisa jalan-jalan sendiri sama teman atau pacarmu kan? Jangan ke mas terus lah. Sarah aja jarang mas ajak jalan karena mas sibuk." Toby menjawab dengan kesal.


"Dan lain kali tolong pakai baju yang bener, kamu sering ke toko dengan pakaian kurang bahan, ini juga ngapain pakai baju tidur minim gitu? Meskipun kita saudara tapi aku tetap laki-laki." Lanjut Toby menasehati tapi Naomi tidak terima.


"Mas.. kita sepupu jauh." Bentak Naomi lalu makin mendekat ke arah Toby yang masih duduk di sofa ruang tamu itu.


"Kamu mau apa Naomi!" Sentak Toby karena Naomi langsung duduk dipangkuannya dan mengalungkan lengannya ke leher Toby.


"Aku cinta kamu mas." Ungkap Naomi tapi Toby terus berusaha melepaskan diri dari Naomi.


"Lepas Naomi!" Akhirnya Toby emosi dan melepaskan diri dengan kasar. Naomi terjerembab dan semakin marah karena Toby menolaknya.


"Mas.. aku sudah menunggumu begitu lama, aku gak akan kalah dengan Sarah, aku pasti mendapatkanmu." Ucap Naomi kekeh pada pendiriannya.


"Jangan ngaco kamu! Aku mencintai Sarah dan hanya Sarah, sepertinya kamu harus kembali ke rumahmu sendiri. Besok keluar dari rumah ini." Bentak Toby lagi dan meninggalkan Naomi.


Dari balik tembok dapur lagi-lagi Melisa mengintip, kali ini dia tersenyum puas. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Toby tidak terpengaruh oleh Naomi. Hanya saja Toby memang terlalu sibuk membesarkan usahanya dan Sarah dia biarkan berada di tangan Noni.


Tidur Sarah sedikit terganggu karena Toby memeluknya, Sarah senang karena kesibukan Toby sedikit berkurang dan Sarah mendapatkan perhatian lebih yang membuatnya sangat senang.


"Tidur lagi.." Bisik Toby.


"Mas kepengen?" Tanya Sarah yang sudah bisa melayani Toby 2 bulan terakhir ini karena kandungannya sudah sangat baik.


"Gak kok.. cuma pengen meluk sambil tidur." Jawab Toby dan Sarah mengangguk. Toby memeluknya dari belakang sambil mengelus perut bulat Sarah. Bulan depan anak meraka akan lahir.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pagi ini Naomi mengepak barang-barangnya dan akan pindah ke kontrakannya. Beruntung dia memang sudah lulus dan bekerja di salah satu perusahaan ternama. Gajinya cukup untuk mengontrak rumah kecil untuk dirinya sendiri.


Noni juga tampak heran karena keponakan kesayangannya minta izin untuk pindah dan pagi ini Naomi terlihat sudah mengepak barang-barangnya.


Sorenya Naomi pun pergi dan Toby membiarkannya meskipun Noni berulang kali mencegah, begitu pun Sarah yang tidak mengetahui keburukan Naomi selama ini. Melisa memang belum menceritakan karena tidak adanya bukti yang memberatkan Naomi selama ini. Apalagi kesehatan Sarah makin baik, Melisa juga mencari keberadaan botol di lemari namun sudah tidak ada. Bukti hilang sejak beberapa bulan lalu.


Apakah Naomi menyerah?


Tentu tidak, Naomi terus menggerutu di dalam mobil. Memaki Sarah dan akan tetap berusaha mengambil hati Toby. Nanti dia akan beraksi lagi.


.


.


.


"Iya non.. tugas kita selesai sampai mba Sarah melahirkan kan?" Tanya Melisa dan Aster mengangguk.


"Jaga mba Sarah sampai akhir ya kak Mel." Pesan Ella dan tentu Melisa akan menjaga Sarah yang sudah dia anggap kakak sendiri. Mereka tambah dekat saja.


"Untunglah.. aku kira suaminya itu selingkuh ternyata memang bisnisnya makin melebar dan bagus." Ucap Ella karena memang anggotanya sudah memata-matai Toby, hasilnya pria itu memang sibuk dengan pekerjaan. Mungkin memang demi masa depan keluarganya yang akan segera bertambah.


\= = = = =


Masuk bulan ke sembilan, Sarah sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton dan nyemil. Noni menemaninya sejak tadi karena tidak ada kerjaan siang itu. Komplek rumah juga sepi, tidak ada tukang jajanan yang terdengar. Sepi.. sangat sepi.


"Bosen gak ma?" Tanya Sarah pada Noni yang menonton sinetron sambil menyunyah keripik milik Sarah.


"Iya.. masih jam 2 siang, kenapa lama banget sih jamnya?" Keluh Noni juga yang merasa bosan.


"Pengen yang seger-seger deh ma, mau gak? Sarah mau beli sop buah pake goput aja." Tanya Sarah yang merasa gerah dan haus.


"Boleh juga, Mama mau ke sebelah dulu tempat Bu Sonya. Ambil ubi goreng, dia suruh kesana nih." Jawab Noni sambil memperlihatkan ponselnya, kumpulan ibu-ibu komplek. Bu Sonya memang senang masak dan berbagi.


"Ya udah, Sarah uda pesan nih.."


Noni pergi ke tetangga kompleknya hanya komplek depan beda beberapa rumah. Sarah yang tidak pegang usah cash kembali ke kamarnya di lantai 2 dengan hati-hati dia naik. Perut besarnya membuatnya sudah berjalan tapi dia tetap akan bergerak, hitung-hitung olahraga.


Melisa? Dia sedang libur karena ada masalah di kelompok pengawal dan dia bertugas menggantikan 2 hari ini. Sarah pun mengizinkan, memang Melisa bukan bekerja untuknya meskipun Sarah tetap memberikan gaji setiap bulan padanya.


"Loh Naomi?" Seru Sarah yang melihat Naomi baru masuk ke ruang tamu. Pintu rumah memang tidak dikunci dan terbuka lebar. Biasanya memang aman-aman saja di dalam komplek ini.


"Sudah besar ternyata perutmu." Ucap Naomi dengan sinis. Sarah merasa aneh, Naomi tidak pernah sinis padanya selama ini. Sarah masih di tengah tangga, tutun dengan hati-hati dan perlahan.


Sampai pada anak tangga terakhir Naomi menariknya kuat dan hampir terjatuh.


"Naomi, hati-hati. Duh.." Bentak Sarah yang hampir terjatuh.


"Dasar manja! Gara-garu kau mas Toby menolakku. Kau tau aku selama ini memantaskan diri untuk bisa bersama mas Toby tapi karna dirimu dia menolakku." Kata Naomi berapi-api pada Sarah yang makin bingung. Naomi adalah anak dari buruh pabrik biasa di kampung yang diajak oleh Noni agar bisa merubah nasib di kota.


"Kali ini aku akan membunuhmu juga bersama bayimu, aku berharap bayimu mati dan mas Toby menceraikanmu tapi apa? Kau malah hamil lagi." Naomi membentaknya dan mendorong Sarah hingga benar-benar terjatuh.


"Aduh.. Naomi, jangan begini. Tolong.. perutku sakit." Lirih Sarah mulai kesakitan.


Naomi tanpa perasaan bersalah menusuk perut Sarah dan membelahnya, bersamaan dengan abang ojol datang dan mengetuk pintu. Beruntung pintu memang tidak ditutup itu terbuka lebar.


"Astaga!! Ada apa ini?" Tanya Abang ojol yang terkejut dan panik. Naomi juga panik dan berlari keluar mendorong abang ojol hingga dia bisa kabur.


"Tolong tolong... ada yang berdarah tolong!!" Teriak abang ojol di komplek sepi itu, ada beberapa orang keluar dan menghampiri.


"Tolong, ibu itu ditusuk." Teriak abang ojol lagi, tetangga yang memang mengenal Sarah ingin menolong tapi melihat kondisi Sarah yang mengenaskan mereka segera memanggil ambulance.


Butuh 15 menit ambulance datang, bersamaan dengan Noni yang baru kembali. Dia kaget bukan main melihat Sarah yang bersimbah darah, polisi juga datang karena ini kasus kriminal.


TBC~