Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 30 - The Case (Pengantin Merah - 10)



"Kita simpan kamera ini, hanya memory card yang kita kirimkan ke polisi." Ucap Jarred dan Ella mengangguk. Dia awalnya ingin mengungkapkan melalui sosmed diurungkan karena Jarred yang berkuasa sekarang.


Jarred memberikan memory card pada salah satu polisi kepercayaan keluarga Hastanta dan menutup informasi mengenai Bima yang ada di TKP. Bima akan dinyatakan tidak bersalah dan ke TKP hanya untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti kejahatan Redy saja. Semua akan di atur agar Redy mendapatkan hukuman setimpal.


"Huh.. ternyata si Mila adalah Redy yang memang punya kelainan." Ucap Aster yang memang sempat suka pada Mila yang cantik dengan polesan makeupnya.


"Hahahahahaha.." Ella masih tertawa ngakak karena Aster yang kecewa. Aster mencebik kesal karena Ella terus tertawa mengejeknya.


"Ada apa sih sayang? Bahagia banget." Tanya Imelda saat Ella masih tertawa. Ella dan Aster masuk ke rumah dan ternyata ada Imelda di rumah Flora.


"Mama.. oh ini Aster mengidolakan cewe cantik karena makeupnya yang bagus eh ternyata bukan cewe tapi cowo hahaha..." Ella masih tertawa dan Aster terlihat sangat kesal. Bukan hanya pada Ella tapi juga Jarred yang tertawa.


"Aku tertipu." Sahut Aster kesal. Imelda dan Flora hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak gadis mereka.


"EH.. itu pembunuhan Pengantin Merah udah ada tersangka utamanya." Celetuk Flora yang sekarang fokus pada televisi menampilkan polisi yang sedang konferensi pers.


"Oh itu kan yang sering di sosmed dan bagi-bagi uang." Sahut Imelda dan akhirnya mereka membahas bersama.


Ella membuka laptopnya karena dia akan melanjutkan tugasnya yang diberikan oleh Jarred. Banyak tugas sebagai ganti waktu menemani Ella ke rumah ibu Bima.


"Dasar kakak perhitungan." Gumam Ella karena dia malas mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan tugasnya itu.


Selagi ibu-ibu sedang menonton berita di TV tentang kasus Redy yang membunuh calon istrinya sendiri, Ella dengan tugasnya, Aster malah terus memikirkan tentang Jarred.


Ya.. kepala Aster berisi tentang kakak dari sahabat baiknya itu. Entah sejak kapan Jarred yang selalu menganggapnya adik memandangnya dengan cara berbeda dan Aster tau itu.


"Astaga! Kejam banget sih..." Flora berdecak kesal saat melihat reka ulang kejadian.


"Mungkin memang gak cinta sama calonnya gak si?" Tanya Imelda dan Flora mengangguk.


"Mungkin juga, katanya mereka dekat cuma karna Yunita itu pinter dan ide dari semua konten dia itu dari Yunita. Biadab emang." Celoteh Flora berapi-api.


"Iss... ada ya cowok begitu. Trus ada saksi kan ya?" Tanya Imelda agi karena memang tidak begitu mengikuti berita ini. Mulutnya masih mengunyah buah yang ada di meja tepat di samping Ella dengan tugasnya.


"Iya, kemarin ada yang ketangkap. Ternyata dia saksinya cuma ga ada bukti dan dia datang kesini cari bukti. Dia tau kalau ada kancing jaket pelaku yang lepas di TKP. Ehh.. taunya malah bukti nyata yang paling fatal ada di kamera dia. Dia gak nyadar kalau kamera itu merekam semua kejadian." Jelas Flora lagi dan bukan Imelda yang menyimak tapi Ella dan Aster.


"Bukannya rencan kita kalau Bima gak ikut campur?" Bisik Ella dan Aster menggeleng juga tidak mengerti.


"Coba tanya Cello." Sahut Aster dan mereka bertanya di grup.


"Ini kemauan Bima, dia merasa juga harus bertanggungjawab dan mengatakan kejujuran. Jadi video yang terekam itu dia gak tau sama sekali karena waktu dia cek kamera hanya melihat sekilas video Redy yang berubah jadi Mila, terus beberapa foto wedding mereka yang baru diambil. Mungkin waktu kamera itu jatuh, tombol perekam tertekan dan merekam semua kejadian. Gitu kata Bima."


"Ohhh begitu.." Respon Ella dan Aster berbarengan.


"Tapi Bima gak kena hukum kan?" Tanya Ella belum juga Aster menjawab dia sudah mendapat jawaban dari berita di tv.


"Syukurlaahh, kasian ibunya di kampung." Lirih Aster dan dia berharap sayuran yang mereka tanam akan tumbuh subur.


"Tapi yah.. klo dipikir-pikir, kenapa bukti kamera itu udah dicari kesemua tempat masih gak ketemu tapi tiba-tiba jatuh dari atas lemari. Sakit tau.." Tanya Ella yang bingung sambil mengelus kepalanya.


"Kata adiknya, memang dia yang pindahin kameranya ke kotak penyimpanan diatas lemari, takut hilang katanya." Jawab Aster yang memang sudah tanya pada Shinta.


"Iyah tapi kenapa bisa jatuh, kan naruhnya bener dan itu berat loh.." Ella masih mengeluh padahal sudah beberapa hari berlalu dan sudah tidak sakit lagi.


"Hahahah mungkin hantunya Yunita kali yang jatuhin." Jawab Aster random dan kali ini Ella langsung merinding.


"Isss jangan nakutin!" Pekik Ella sambil memeluk diri sendiri, merinding.


"Apa sayang? Kedinginan?" Tanya Imelda yang menatap pada Ella dengan khawatir.


"Gak mama, cuma main sama Aster hehehe.." Jawab Ella dengan kekehan pelan.


"Ohh.. mama kira mau mulai sakit. Kan biasanya kedinginan dulu meski cuaca panas." Ucap Imelda dan Ella hanya tersenyum saja terus melirik ke Aster yang terkikik pelan.


"Udah ah.. auty, Ella laper." Kata Ella pada Flora.


"Mau makan atau nyemil?" Tanya Flora.


"Nyemil aja de.. nanti makannya barengan." Ella menjawab dan mengikuti Flora ke dapur, Aster dan Imelda juga mengekor di belakang mereka.


"Ngapain ikut-ikut?" Sungut Ella masih kesal pada Aster.


"laper juga lah..." Aster menjawab dan menggandeng lengan Ella yang mendengus kesal.


Setelah mengambil cemilannya Ella kembali ke ruang tv untuk melanjutkan tuganya tapi sesuatu membuatnya tertegun dan


"AAAAHHHH..."


Ada huruf-huruf yang sedang diketik di laptopnya..


THANK YOU


Akhirnya Ella jatuh pingsan, bertepatan dengan Aster yang juga masuk ke ruang tv tersebut melihat Ella tergeletak dilantai dengan cemilan yang jatuh berhamburan, tatapannya beralih pada layar laptop


"Thank you"


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~