
Sesuai janji, Setelah makan siang di cafe dekat RS Sarah dan Melisa langsung ke RS dan melakukan serangkaian pemeriksaan.
Sedangkan Melisa bertemu dengan Ella dan Aster, "Ini non, aku temukan di lemari Naomi di pojok terdalam. Gak tau ini apaan." Melisa menyerahkan bubuk putih itu pada Ella dan Aster.
"Ini... bukan narkoba kan?" Bisik Ella curiga melihat bubuk putih dalam tissue itu.
"Sepertinya bukan, makanya harus di periksa." Jawab Melisa dan Ella mengangguk.
"Ok, nanti aku cek di RS nya om Archer aja." Ucap Ella dan diangguki oleh Melisa. Mereka berpisah, Ella dan Aster ke RS Archer milik sepupu dari Fano, sedangkan Melisa kembali ke Sarah.
"Dari mana Mel?" Tanya Sarah yang sejak tadi menunggu Melisa di ruang tunggu RS itu.
"Ketemu non Ella mba, biasalah laporan, kan masih kerja sama nona Ella heheh.." Jawab Melisa sambil nyengir.
"Ah iya.. kadang aku lupa loh. Jadi apa yang kamu temukan Mel, mba penasaran." Tanya Sarah yang memang sangat penasaran karena Melisa terlihat nyaman dengan pekerjaannya.
"Ada, tapi harus dipastikan dulu. Pokoknya mba jangan minum dan makan apapun dari orang lain di rumah sebelum semuanya jelas." Jawab Melisa penuh peringatan dan Sarah sontak berdebar karena takut.
"Iya Mel.. tenang saja, aku akan nurut demi calon bayiku ini." Sarah mengelus perutnya dan terus merapalkan doa agar semuanya berjalan baik.
"Kapan hasil tesnya keluar?" Tanya Melisa lalu duduk di sebelah Sarah.
"2 jam lagi." Jawan Sarah sembari melirik ke jam tangannya.
"Dokter bilang kalau kandunganku sudah kembali normal dan tinggal tunggu hasil lab saja untuk memastikan sesuatu." Sarah menjawab dengan lirih berharap tidak ada yang serius.
"Mba capek ga? duduk disini." Tanya Melisa yang sedikit cemas dengan keadaan Sarah.
"Gak kok Mel, aman kalau duduk santai begini. Jangan khawatir." Sarah menjawab dengan senyuman. Dia akan disini terus sampai hasil lab keluar agar rasa penasarannya terjawab.
Sedangkan di RS lain, Ella sedang membujuk salah satu dokter kepercayaan keluarganya untuk memeriksa bubuk yang dia bawa.
"Saya harus melapor dulu nona Ella, harus sesuai prosedur." Jawab dokter paruh baya itu.
"Plisss om.. ini demi menolong orang. Tapi jangan beritau papa atau om Archer." Ella terus membujuk.
"Tapi..."
"Pliss..."
Ella yang memang imut dan cantik mengeluarkan seuruh sisi imutnya hingga dokter itu pasrah.
"Baiklah.. kali ini aja." Kata dokter itu membuat senyum Ella mengembang dengan manis.
"Terima kasih om.. tapi yang cepat ya, soalnya kasian mba itu." Lanjut Ella lagi.
"Tunggu lah minimal 2 - 3 jam baru hasilnya keluar."
"Siap om! Ella tunggu di sekitar RS saja, nanti 3 jam lagi Ella kembali."
Ella berjalan sedikit cepat menuju parkiran dan Aster masih disana karena dia harus memeriksa cctv yang sudah mereka pasang di rumah Sarah.
"Sudah?" Tanya Aster begitu Ella masuk ke dalam mobil.
"Itu ngapain Naomi ke dapur tapi gak ambil apapun di kulkas." Tanya Ella karena terlihat kalau Naomi ke dapur lalu membuka kulkas sebentar dan di tutup lagi tanpa mengambil apapun. Mereka tidak bisa melihat karena tertutup pintu kulkas.
"Iya ya.. ini rekaman tadi pagi jam 5, sebelum Melisa bangun. Terus ini dia membuka seluruh lemari di dapur ngapain coba?"
Naomi hanya membuka tutup lemari gantung di dapur tapi sepertinya tidak menemukan apapun.
"Mungkin cari cemilan?"
"Bisa jadi."
Kembali ke Sarah,
Sarah masuk lagi ke ruang dokter Budi, mereka akhirnya mengetahui kalau dalam darah Sarah terdapat racun. Tidak mematikan tapi berefek pada janinnya yang menyebabkan janin itu perlahan melemah dan gugur.
Sarah begitu terkejut karena selama ini dia tidak pernah jajan sembarangan dan makanannya selalu sehat.
"Apakah masih berbahaya dokter?" Tanya Sarah lirih, menyimpan kesedihan luar biasa.
"Sepertinya sudah lama zat racun ini ada dalam tubuhmu, untuk saat ini tidak apa-apa. Nanti saya resepkan obat saja dan tolong hati-hati pada makanan dan minuman yang anda konsumsi." Pesan dokter Budi turut prihatin pada Sarah. Apalagi Sarah sudah menceritakan kalau kandungan pertamanya memang keguguran tanpa sebab yang jelas.
"Makasih ya Mel, berkatmu kandunganku mulai kuat. Tapi siapa yang tega? Mama sangat ingin cucu, mas Toby gak mungkin tega. Paling Naomi tapi kami gak punya masalah dan dia sibuk diluar terus." Wajah Sarah tambah lesu, dia pusing memikirkan siapa orang yang tega selama ini.
Melisa hanya bisa menghela nafasnya panjang, dia curiga pada Naomi karena botol di kamarnya tapi apa motifnya? Karena Naomi tampak biasa saja menjalani harinya di rumah itu.
"Sabar ya.. kami masih menunggu hasil pemeriksaan apa yang kutemukan. Sekarang apapun yang ada di rumah tolong berhati-hatilah dengan siapapun. Mertua, suami, saudara demi anak dalam kandunganmu. Hanya tinggal beberapa bulan lagi."
Sarah mengangguk, Melisa mengenggam tangannya memberikan dukungan penuh.
"Atau aku pindah ke rumah saudaraku yang lain dulu?" Tanya Sarah, dia sebenarnya ragu tapi apa boleh buat.
"Siapa?" Tanya Melisa.
"Ada sepupuku di kota lain tapi aku gak yakin kalau mama izinin." Sarah cemas lagi, dia seakan tak punya tempat aman.
"Iya juga ya... nanti kita pikirkan. Pulang sekarang saja. Sudah sore nanti mertua mba berisik." Ajak Melisa dan Sarah menurut. Mereka pulang menggunakan taxi online.
Sampai dirumah, Melisa segera menghubungi Ella. Dia menunggu sampai malam agar Ella kembali ke kamarnya dulu.
"Jangan telepon, masih sama mama."
Isi pesan yang dikirim Ella dan Melisa pun mengerti.
Tengah malam, barulah Ella mengirimkan hasil lab bubuk putih itu.
"Ini hasilnya, bubuk itu berisi beberapa obat yang akibatnya bisa melemahkan kandungan. Konsumsi sedikit demi sedikit agar tidak mencolok. Jaga mba Sarah dari Naomi, dia lah pelakunya. Tapi ini gak cukup bukti karena gak ada tertangkap tangan dia yang meracuni mba Sarah."
Isi pesan Ella membuat Melisa geram, padahal Naomi dan Sarah tidak pernah saling sikut, terlihat biasa saja tidak dekat tidak juga berselisih.
TBC~