Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 49 - The Case (Deadly Bullying 11)



Sekolah menjadi heboh bahkan seluruh siswa dipulangkan dan tidak boleh berkeliaran dilingkungan sekolah. Tentu hal ini membuat semuanya senang karena belum pernah terjadi sebelumnya.


Sora sudah ditangkap dan diliput oleh wartawan yang selalu ada dimanapun ada kehebohan. kakak tertuanya datang dan menjadi walinya. Luciana Limanto seorang wanita karier dan perusahaannya merupakan rekanan Hastanta Group.


Luciana membawa salah satu pengacara ternama dan berusaha mengeluarkan Sora karena masih dibawah umur. Tetapi bukti yang diberikan ke polisi merupakan bukti akurat dan akan dilakukan pengecekan kembali di cctv sekolah.


"Anda bisa membawa Sora tapi dengan jaminan dan dia akan jadi tahanan rumah untuk sementara karena masih akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut." Kata polisi dan dia adalah Hasan yang dengan semangat mengambil kasus ini.


"Baik, kami akan memberikan jaminan." Luciana tidak bisa berbuat banyak. Setelah semua prosedur selesai Luciana membawa Sora pulang ke rumah dan akan di sidang oleh keluarga.


"Kau sungguh membuat keluarga malu Sora!" Hardik ayahnya tapi Sora hanya diam masih berdiri di ambang pintu rumah megah itu.


"Sudah sayang... Sora baru pulang, biarkan dia istirahat." Ujar sang ibu. Sora hanya mendengus dan masuk ke rumah lalu naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada.


"Brengseekkk! Dimana perempuan sialan itu? Pasti karna dia aku ketahuan." Sora berteriak kesal dan melempar barang-barangnya dengan marah.


Ponselnya disita, disana semua kejahatan Sora terekam dan dapat dipastikan dia akan dapat hukuman setimpal.


"Gak guna semuanya.. akan kubunuh kalian." Geram Sora, dia mengigiti kukunya dengan tangan gemetar. Dia tidak mau masuk penjara. Dia masih ingin sekolah dan


Malam harinya Sora mengendap keluar rumah, untung dia punya ponsel cadagan yang sudah tidak digunakan. Dia menghubungi Vani untuk menjemputnya.


Dari jauh Sora sudah melihat mobil Vani yang dia kendarai sendiri karena itu pesan Sora padanya.


Tengah malam, Vani membawa Sora ke salah satu rumah teman mereka yang merupakan anak-anak nakal dan preman.


"Hai Van.. lama gak datang sini?" Tanya salah satu teman mereka disana. Vani ke club malam itu untuk bertemu Alex yang merupakan anak buah salah satu mafia disana.


"Ya.. Sora yang ada perlu dengan kalian." Jawab Vani lalu duduk di salah satu sofa bersama dengan Sora.


Sora melempar setumpuk uang yang tidak seberapa lalu membuka anting berliannya dan menaruhnya diatas tumpukan uang itu.


"5 juta.. untuk apa ini?" Tanya Alex sambil mengambil anting berlian itu.


"Anting itu nilainya hampir 200juta." Kata Sora lalu melipat tangannya dan duduk bersandar. Alex menatapnya lekat.


"Pekerjaan apa?" Tanya Alex dengan senyum menyeringai. Tatapan matanya yang tajam dengan wajah mengerikan karena luka. Membuat beberapa orang bergidik tapi tidak dengan Vani dan Sora yang memang sering ke club itu.


+=+=+=+=+=


Bagaimana dengan Ella?


Ella baru saja sadar setelah 4 jam pingsan atau lebih tepatnya dia tertidur pulas.


"Auuhh..." Ella melenguh, dia memegang belakang pundaknya yang sangat sakit.


"Sayang.. sudah bangun? Mana yang sakit?" Tanya Imelda segera menghampiri Ella. Ella yang bingung menatap sekelilingnya.


"Kok aku disini ma? Tadi masih di sekolah trus ada.." Ella berhenti dan mengingat kembali.


"Ada yang  pukul punggungku.. kurang ajar, apa dia tertangkap?" Tanya Ella yang kini mulai bar-bar lagi. Dia melupakan rasa sakit di punggungnya dan Imelda hanya bisa menghela nafasnya.


"Tenang dulu sayang.. kenapa bisa sampai ke atap dan siapa yang memukulmu?" Tanya Imelda pelan.


"Gak tau, aku lagi beri pelajaran si Vani tiba-tiba punggungku sakit dan sekarang masih sakit." Ucapnya pelan juga karena tau Imelda sangat khawatir.


"Tadi dokter sudah periksa, kamu hanya syok dan gak ada luka dalam. Tapi siap-siap kena marah kakakmu, mama gak bisa bantu." Imelda menjelaskan membuat Ella menelan salivanya dan dia tegang seketika. Dia lupa perjanjian dengan Jarred agar tidak sampai terluka.


"Sudah ya.. patuh sama papa mama dan kakak, jangan bikin kami khawatir lagi. Aster sampai nangis terus dan ketakutan." Imelda mengelus rambut Ella sembari membujuknya.


"Kenapa? Aster lebay iihh aku cuma pingsan." Sahut Ella.


"Kau hampir saja ma.." Sebelum Imelda selesai dengan kalimatnya, Fano dan Jarred masuk ke kamar rawat Ella.


"Sayang.." Panggil Fano lalu mendekat ke Ella dan mengecup kening putri kesayangannya begitu juga Jarred.


Keluarga Ella sungguh senang dia sudah sadar dan terlihat baik-baik saja tapi tidak dengan Ella sendiri yang sudah ketakutan akan amarah Jarred. Tapi Jarred tidak menunjukkan amarahnya malah sangat perhatian dengan menyuapinya makan.


.


.


.


Besoknya Ella sudah boleh pulang dan Imelda sendiri yang membawa Ella pulang dengan selamat. Di rumah sudah ada Aster yang menunggu, begitu Ella sampai Aster langsung memeluknya.


"Aku gak apa-apa Aster, lebay banget ih.." Ella berusaha melepaskan pelukan Aster.


"Kau hampir mati bodoh!" Kesal Aster membuat Ella melongo.


"Masuk dulu sayang.." Ucap Imelda dan kedua gadis itu pun masuk ke rumah dan duduk di ruang keluarga. Ella yang penasaran dengan kasus Vani pun segera menyalakan televisi.


"Ada update apa?" Tanya Ella pada Aster. Sementara Imelda sudah ke dapur menyiapkan minum dan cemilan. Sebentar lagi suami dan anak lelakinya akan pulang untuk makan siang.


Aster sudah menceritakan semuanya pada Ella dan Jarred menghentikan semua aktifitas web MH untuk waktu yang tidak ditentukan, apalagi mereka akan magang sebentar lagi.


+,+,+,+,+


Beberapa hari terlewati dan Sora akhirnya resmi ditangkap. Harun sangat senang melihat Mutiara, ibunya Vina bisa datang dan bersedia jika Vina di autopsi. Vina masih berada di kamar pendingin karena Mutiara tidak sanggup memakamkannya sebelum keadilan itu dia dapatkan.


"Terima kasih nak.. kamu banyak membantu ibu." Ucap Mutiara pada Harun yang begitu gigih mencari bukti, meskipun mereka mendapatkan bukti tersebut juga dari orang yang peduli dengan Vina.


"Kami akan berusaha agar mereka mendapatkan hukuman setimpal bu. Sekarang lanjutkan hidup ibu, masih ada keluarga yang butuh perhatian ibu selain alm. Vina."


Mutiara mengangguk, bulir air matanya jatuh, dia sedih juga lega karena semua telah terbuka.


Harun dengan seorang dokter membuka kembali peti pendingin Vina dan membawanya ke tim forensik.


Sebenarnya dokter sudah tau banyak bekas kekerasan di tubuh Vina namun polisi dengan cepat membungkam semuanya.


Harun bekerja cepat dan jujur, dia bahkan dibantu oleh Marcello tanpa tau siapa informan yang memudahkan pekerjaannya itu.


Polisi juga sudah mulai memeriksa sekolah dan banyak pengawas dan guru terutama kepala sekolah yang mendapatkan suap, korupsi dan kejanggalan lain.


Banyak juga donatur yang cabut dan tak lagi memberikan bantuan, penanam modal juga mencabut semua investasi mereka dan HIS dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja saat ini.


Namun Morgan Aelisius Hastanta yang merupakan pemilik dari yayasan HS bergerak cepat, sebelum HIS jatuh dia telah mengambil alih dan membuka kebobrokan sekolah itu dalam sekejab.


HIS akhirnya terbuka, siapapun boleh datang untuk memeriksa nilai anak-anak yang telah diubah sedemikian rupa. Banyak kecurangan dari pihak guru maupun wali siswa.


Langkah pertama Morgan adalah menghapus sistem point dan akan melakukan test ulang serta pembersihan pada tenaga pengajar dan juga staff.


TBC~