Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 66 - Resmi



"Jadi jadi.. dalam hati kakak ada Aster sekarang?" Tanya Ella antusias, dia bergerak cepat pindah ke sebelah Jarred.


"Jangan brisik Ella." Tegur Jarred yang sebenarnya malu mengakui.


"Cieee mukanya merah kayak tomat busuk." Goda Ella lagi membuat semua orang tertawa.


"Ya sudah.. kalau gak mau ngaku." Ella berpindah lagi di sebelah Fano.


"Pa.. biasanya nih kalau di jodohkan langsung tunangan, ini ngga?" Tanya Ella membuat yang lain mengangguk.


"Benar juga.." Gumam Florian sambil menganguk-anggukan kepalanya.


"Gak.. nanti aja, Aster belum lulus kuliah." Sanggah Aster cepat dan Jarred juga setuju.


"Kami akan pacaran dulu pa, uncle." Sahut Jarred juga.


"Iya ayah.." Timpal Aster.


"Cieeee pacaran..." Suara Ella kembali terdengar. Ella dan Vered lah yang terlihat paling senang disini.


"Sudah.. jangan godain kakakmu lagi sayang.." Tegur Imelda pada anak gadisnya yang tidak bisa diam sejak tadi.


"Ok mama!" Seru Ella dan kembali ke sebelah Aster yang masih duduk tenang.


Setelah mengobrol, mereka bubar dan masing-masing melanjutkan kegiatan. Jarred membawa Aster ke taman belakang. Ella sudah di kamar Aster menonton video terbaru Oktav dan beberapa teaser drama yang akan tayang minggu depan.


"Kak J, selama magang kita tetap profesional ya.." Ujar Aster pada Jarred yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa? Kan kita resmi jadian." Tanya Jarred.


"Yah.. kan kak J banyak fans nya di kantor. Aster cuma gak mau heboh aja. Plisss kak.."


"Ohh ok lah. Tapi tetap kakak antar pulang kalau sore."


"Ok kak.."


"Mau keluar gak? Nonton atau ke mall?" Tanya Jarred sambil tangannya menggenggam tangan Aster.


"Nonton.. boleh." Jawab Aster dan Jarred mencari film yang seru di ponselnya.


"Ini mau?" Tanyanya dan Aster setuju.


"Ok sudah beli jam 5 sore."


"OK."


.


.


.


"IKUUUUTTTT!!" Ella merengek ingin ikut nonton karena memang dia sangat ingin nonton film itu.


"Iss.. gak Ella, kakak mau pacaran." Tolak Jarred pada Ella yang masih merengek seperti anak kecil.


"Ya ampun Ella.. nanti saja nontonnya." Tegur Imelda juga gerah melihat Ella yang seperti anak SD kelakuannya.


"Gimana nanti mama? Kan Ella cuma punya temen Aster dan kemana-mana sama Aster trus sekarang Aster mau di monopoli kak J, trus Ella sama siapa?" Keluh Ella panjang lebar dan memang benar Ella hanya punya Aster dan Aster juga hanya punya Ella.


Mereka menghela nafas lelah, "Ya udah ikut saja kalau begitu." Pasrah Aster juga tak tega melihat Ella.


"Gak gak.. Ella nanti saja nontonnya sama Oktav mau?" Tanya Jarred menggunakan jurus Oktav lagi.


"Oktav? Emang bisa?" Tanya Ella meragu. Mana mungkin Oktav yang super sibuk bisa nonton santai, dengan Ella pula tuh.


"Bisa, nanti kakak hubungi dia. Kakak janji." Jawab Jarred meyakinkan Ella.


"Iya.."


"Ya sudah pergi sana."


Ella pun mengusir kakak dan calon kakak iparnya karena diiming-imingi dengan OKtav lagi seperti biasanya.


Sejam kemudian, pesan dari Jarred masuk ke ponsel Ella. 'Siap-siap, Oktav akan datang 2 jam lagi.'


Ella terbengong, dia tak menyangka akan secepat ini Oktav mau menjemputnya?


"OH NO!! MAMAAA...." Teriak Ella kuat menggema ke seluruh rumah. Imelda yang terkejut langsung berlari menuju suara Ella yang ada di ruang tamu. Ella berdiri mematung dengan wajah putihnya yang penuh masker. Setelah kembali dari rumah Aste, Ella langsung maskeran dan bermalasan ria.


"Ada apa sayang, Ella?" Imelda panik mengira terjadi apa-apa dengan Ella.


"Ella kenapa sayang?" Tanya Fano juga yang berlari dari garasi rumahnya ke tempat Ella saat ini.


"Ella belum keramas, Ella jelek begini gimana mama? Oktav mau jemput 2 jam lagi. Ah ngga.." Ella menggeleng kuat, sementara Fano dan Imelda mendesah lega.


"Udah lewat 10 menit.. mama bantuin, rambut Ella lepek nih." Ella masih merengek dan melihat jam, waktu terus bergulir.


"Cepat cuci muka dan mandi, keramas nanti mama bantu keringkan rambutmu. Jangan panik sayang.." Ujar Imelda lembut dan Ella segera berlari cepat menuju kamarnya.


"Papa bantu juga, ambilin hair dryer di kamar, cepat nanti anak kesayanganmu heboh lagi." Imelda memerintah Fano dan tentu suaminya mengerjakan semua perintah istri kesayangannya itu.


Ella mandi dengan cepat, rambut basahnya dia keringkan seadanya dengan handuk lalu memakai bathrobe saja.


"Cepat duduk sini." Kata Imelda menunjuk kursi di depan meja rias di kamar Ella. Imelda dan Fano mengeringkan rambut Ella sedangkan dirinya sibuk memakai skincare dan makeup agar cepat selesai. Hampir 1 jam mengeringkan rambut Ella yang panjang dan tebal.


"Sudah." Ujar Fano lelah. Dia sedikit kesusahan mengeringkan rambut anak gadisnya.


"Di cepol saja ya.. begini." Imelda menggulung rambut panjang Ella dan mengikatnya dengan karet rambut yang terlihat flufy dan membiarkan sedikit anakan rambut Ella tergerai berantakan, memberikan kesan natural.


Ella tersenyum dan mengangguk, Fano sudah keluar kamar membiarkan istri dan putri kesayangannya menyelesaikan sisanya.


"Pakai ini saja ma?" Tanya Ella mengeluarkan dress selutut berwarna biru muda tanpa lengan.


"Cantik, itu saja." Jawab Imelda.


"Ella.. Oktav sudah datang." Teriak Fano dari luar pintu kamar Ella.


Jantung Ella berpacu cepat, dia deg-degan karena Oktav sudah datang. "Ella cantik gak ma?" Tanyanya lagi dengan ragu.


"Anak mama paling cantik." Imelda menjawab sambil menepuk bahu Ella memberikan kepercayaan diri.


.


.


Ella masih diam di kursi sebelah Oktav, pria itu menyetir sendiri dan juga masih diam. Ella sangat gugup karena tidak tau memulai obrolan apalagi Oktav terlihat lelah. Wajah Oktav yang biasanya cerah kini terlihat guratan lelah dan lingkar matanya juga sedikit menghitam.


"Ehm... maaf, pasti kak J memaksa ya?" Tanya Ella tidak enak hati.


"Tidak." Jawab Oktav singkat dan terlihat enggan. Ella menghela lemah, dia sedih karena Oktav memang terlihat terpaksa. Ella ingin menangis sekarang tapi dia tahan sambil menoleh ke sebelah jendela melihat keluar.


"Ayo.. kita turun." Ajak Oktav lalu memakai masker dan topinya, tidak lupa hoodie hitamnya semakin membuat dia terlihat misterius.


Ella ikut turun dan berjalan di belakang Oktav. Mereka masih diam dan tiba-tiba Oktav menggenggam tangan Ella dan menggandeng gadis itu masuk ke dalam lift parkiran menuju mall dan naik ke bioskop disana.


"Loh.. kakak? Aster?" Ella melongo melihat pintu lift terbuka dan ada Jarred dan Aster.


"Ayo, filmnya sudah mau mulai." Ajak Jarred yang bergandengan dengan Aster.


Oktav masih menggandeng Ella dan mengikuti Jarred ke ruangan bioskop yang ternyata sudah dia sewa seluruhnya. Bioskop jenis VVIP ini hanya berisikan 12 tempat dengan total 24 orang saja. Bukan tempat duduk melainkan seperti kasur yang bisa di ubah seperti kusi santai. Sudah pasti sangat mahal namun demi kenyamanan mereka, Jarred tentu tidak masalah.


TBC