
Aster dan Ella berada di perpustakaan kampus, mereka sangat lesu karena tidak ada kerjaan.
"Dua bulan lagi kita magang kan?" Tanya Ella dan Aster mengangguk.
"Mau dimana? Ella bertanya lagi.
"Belum tau, bingung." Jawab Aster dan sama dengan Ella mereka tampak ogah-ogahan.
"Kalau gak kita tentuin sendiri nanti kak J yang mutuskan, aku gak mau ke perusahaan." Masih dengan postur tubuh yang sama, bergelayutan di meja perpus.
"Sama, ayah pasti suruh ke hotel. Malas." Sahut Aster.
"Ke perusahaan om Archer mau?" Tanya Ella tiba-tiba punya ide.
"Ehm.. seru juga sih, kan studio pembuatan film terbesar disana. Tapi kalau magang disana susah gak? Takut gak sesuai jurusan kita." Aster mulai bimbang tapi memang setuju dengan usul Ella.
"Bisa.. nanti kita di team yang sama aja." Jawab Ella dan Aster hanya mengangguk.
"Ada email masuk.."
"Mana?"
Aster membuka ponsel khusus MH dan membaca permintaan client mereka kali ini. Sudah hampir 5 bulan tidak ada kasus yang masuk dan mereka bersemangat kali ini.
"Ada fotonya, wanita ini sedang hamil sepertinya." Aster menunjukan foto seorang wanita dan dia sepertinya pernah melihat wanita ini meskipun fotonya tidak jelas karena menyamping.
"Sepertinya penah lihat.. tapi dimana yaa.." Aster masih berpikir tapi sama sekali tidak ingat.
"Jadi dia minta tolong untuk lindungi bayi yang sedang dia kandung?" Ella bertanya dan masih ngeblank membaca kasusnya.
"Tega sekali sih, siapa pelakunya nih?"
'Kita bisa bertemu? Saya akan berikan alamatnya jika anda mau.'
'Baik, tapi tolong di tempat yang tidak terlalu ramai.'
'Boleh, silakan datang di restoran xxx VIP 3, atas nama Marcello, jam 2 siang.'
'Terima kasih.'
"Sudah.. ayo setengah jam lagi jam 2." Ajak Ella dan mereka pergi ke tempat tujuan sekarang, yaitu restoran milik Morgan paman Ella yang sudah di handle oleh Marcello. VIP 3 memang khusus untuk Marcello jika ada tamu dan mereka sering menggunakan ruangan itu.
Dua puluh menit, Aster dan Ella menunggu akhirnya masuk seorang wanita dengan perut terlihat membuncit dan mereka yakin itu adalah client mereka.
"Siang, maaf saya terlambat." Ujar wanita itu lalu memandang lurus ke depan dan sedikit terkejut melihat siapa yang akan dia temui.
"Loh.. anda yang di Magical Flower." Kata Sarah kemudian.
"Anda mba Sarah.. jadi ini.." Sahut Aster tapi tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena sadar apa yang dihadapi Sarah dan dia juga sadar dari mana raut kesedihan Sarah selama ini.
Sebulan sekali pasti Sarah membeli bunga Daisy dan akhirnya Aster berkenalan dengan langganan toko bunganya tapi dia tak menyangka kalau Sarah menghadapi sesuatu yang berbahaya.
"Silakan duduk mba.." Ujar Aster dan Sarah pun duduk di depan kedua gadis belia itu.
"Siapa pun yang mba temui di sini tolong rahasiakan, kami akan membantu mba." Ucap Aster lagi dan Sarah mengangguk. Mereka memesan minum sambil mengobrol.
"Jadi selama beberapa bulan lalu, kandunganku masih baik-baik saja dan 2 bulan ini makin melemah. Minggu lalu, hampir keguguran." Jelas Sarah dengan berlinang air mata. Tangannya terus mengelus perutnya yang membuncit.
"Sejak kapan kandungan mba jadi bermasalah?" Tanya Ella.
"Mba masih kerja? Kalau makanan dan minuman bagaimana?" Tanya Ella lagi.
"Sudah cuti saat tau aku hamil dan seharusnya 1 bulan lalu sudah masuk kerja sampai akan melahirkan, tunggu kandunganku kuat tapi nyatanya makin lemah. Kalau makanan yang selama ini aku konsumsi semua aku dibantu asisten yang masak. kadang mertua. Aman saja sih.." Jelas Sarah dan Ella mengangguk mengerti.
"Mba tinggal dengan siapa saja dan apakah ada yang mba curigai?" Tanya Aster kemudian.
"Cuma suami, mertua dan sepupu dari keluarga mertua mba, asisten rumah tangga juga sudah lama kerja. Ga ada sih yang mencurigakan." Jawab Sarah lagi sambil berpikir keras.
Tiba-tiba ponsel Sarah berbunyi dan terlihat nama pemanggil disana adalah mama mertua.
"Jawab mba dan loudspeaker ya.." Ujar Aster dan Sarah mengangguk.
"Halo ma.."
"Dimana kamu?"
"Lagi makan siang dengan teman, tadi baru saja ke dokter."
"Jangan lama-lama dan jaga cucuku, awas saja kalau keguguran lagi, ingat Toby akan menikah lagi kalau kali ini gak berhasil melahirkan anakmu itu."
"Iya ma.. ini sudah selesai dan mau balik."
"Hem dan jangan lupa telepon yayasan karena pembantu baru itu belum datang juga sampai sekarang."
"Iya ma, Sarah telepon sekarang.
Sarah mematikan sambungan telepon itu dan menghela lemah, ancaman yang sama lagi. Sarah lalu menelepon yayasan penyalur asisten rumah tangga. Beberapa menit dia berbicara akhirnya hanya bisa pasrah karena ART yang seharusnya datang pagi ini membatalkannya. Asisten di rumah sudah tua dan sering sakit makanya kembali ke kampungnya.
"Kenapa mba?" Tanya Aster melihat Sarah menghela lemah terlihat sangat lelah.
"ART yang harusnya datang hari ini batal, ibunya sakit dan harus balik ke kampung." Sarah menjawab dan tampak dari raut wajahnya dia mulai lelah.
"Mba pulang dulu deh dan istirahat, kami akan cari ART buat mba. Mungkin sore nanti sudah bisa ke rumah mba." Kata Aster dan Sarah sangat senang mendengarnya.
"Nanti mba kirim alamatnya ya, mba pulang dulu." Ucap Sarah dan mereka saling berpamitan. Sarah diantar oleh supirnya dan Aster juga Ella segera mencari seseorang yang bisa membantu di rumah Sarah sekaligus jadi mata-mata.
"Siapa yang bisa, mba Siena ga ada lagi." Gumam Ella sambil berpikir.
"Kita juga ga bisa loh.. wajahku bule tulen, kamu nanti kena marah kak J lagi." Aster juga berpikir keras.
"Ada kok non, kan pengganti Siena sudah datang 2 hari lalu. Yang jaga non dari jauh." Ujar Jarwo dan kedua gadis itu langsung membelalakkan matanya dan tersenyum lebar.
"Siapa bang?" Tanya Aster dan Jarwo segera menelepon temannya sesama bodyguard itu, memang penjagaan Ella dan Aster membutuhkan pengawal wanita. Ada kasus dimana wanita pasti dibutuhkan.
Tak lama seorang wanita menghampiri mobil mereka yang masih terparkir di depan restoran.
"Selamat siang nona-nona, saya Melisa." Sapa Melisa dengan ramah dan terlihat santai. Dia sudah tau kedua nona ini memang tidak suka dihormati.
"Oh.. kami panggilnya kak Mel aja ya?" Tanya Ella mendahului.
"Senyamannya nona Ella aja." Jawab Melisa dan mereka mengangguk.
"Jadi begini..." Ella dan Aster menjelaskan apa yang harus dilakukan Melisa dan wanita 25 tahun itu langsung mengerti dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian sederhana lusuh agar bisa masuk ke rumah Sarah.
Sore ini juga Melisa diantar oleh Jarwo dan resmi menjadi ART di rumah Sarah selama 2 bulan untuk masa training, itulah yang dikatakan Noni, mertua Sarah.
TBC~