
"Papa terbaik!" Ella mengangkat jempolnya dan tersenyum manis pada Fano.
"Ada syaratnya." Seru Fano kemudian, Ella langsung terdiam.
"Apa om?" Aster bertanya.
"Kalian berdua akan masuk ke HIS dan tambah 1 lagi, cari remaja laki-laki untuk temani mereka Morgan." Ucap Fano lalu melihat ke arah adiknya.
Morgan memikirkan sejenak, "Javier saja, kan kita biasanya kirim 5-10 orang. Mereka bertiga bisa saling jaga dan ingat HIS ingin setiap siswa siswi yang dikirim mempunyai keahlian masing-masing, minimal 1." Jelas Morgan dan Fano mengangguk.
"Dan 1 lagi, lepaskan atribut kalian ini. Jadilah seperti anak SMA pada umumnya dan jika kalian tampil cantik maka lebih mudah untuk bergaul dan mencari tau." Tambah Fano sambil memandang Ella dan Aster bergantian.
"Ubah nama juga jangan pakai nama asli." Marcello ikut menimpali.
Kini Aster dan Ella bingung pada keahlian mereka, "Aku hanya tau tentang tanaman, kalau Ella...." Aster terdiam dan berpikir.
"Aku? Banyak lah.." Seru Ella tambang sombong.
"Apa yang anak papa bisa hem? Selain kesana kemari mengerjakan hal gak jelas, trus manja ngambek, palingan fangirling sama si Oktav Oktav itu." Cibir Fano membuat Ella ngambek seketika.
"IIhh papa kok gitu sih? Ella bisa apapun tau!" Kata Ella merajuk sebal. Yang lain malah tertawa lucu melihatnya.
.
.
.
Sesuai yang direncanakan, Aster, Ella dan Javier ikut dalam pertukaran pelajar di HIS dan mereka akan berangkat bersama total 9 orang.
Disana mereka akan di beri ujian tentang keahlian khusus yang akan diperlombakan 3 bulan mendatang setelah pelatihan ekstra dari pihak HIS.
Dalam data diri Aster, yang berganti nama menjadi Daisy tertulis dia seorang model di sekolah HS Group.
Ella menjadi Viona, tertulis dia sangat pandai dalam merangkai bunga dan memang Ella dan Aster memiliki sertifikat Ikebana tersebut. Namun dia akan sedikit mengerem kemampuannya.
Javier menjadi Javian, kemampuan taekwondo sabuk hitam.
"Javi.. jangan lirik-lirik cewek ya.. awas loh." Ancam Ella pada adik sepupunya yang sangat tampan juga manis itu. Wajah blasteran yang dia miliki dari ibunya membuatnya sangat tampan dan manis karena ada sedikit rona oriental dari Morgan. Beda dengan Marcello yang tampak lebih mirip Morgan.
"Iya.. tapi tenang aja, biarpun dideketin cewek aku tetap mau jadi jomblo sejati dulu sebelum ketemu cewek yang bener-bener membuat jantungku berdetak." Jawab Javier santai. Dia sudah biasa di dekati gadis-gadis dimanapun dia berada.
Ke-9 siswa siswi itu berbaris dan masuk keruangan masing-masing untuk di tes. Banyak yang melihat kagum pada Ella yang menanggalkan seluruh penampilan culunnya berganti dengan seragam HIS yang sangat cantik. Ella mengikat rambutnya tinggi agar mudah merangkai bunga nantinya.
Sedangkan Aster, dia menggerai rambut indahnya dan berjalan santai dengan tubuh tinggi semampai cocok menjadi model. Aster memang sengaja karena modeling akan banyak dikagumi dan mudah mencari teman.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Anak baru sudah datang!" Teriak salah satu siswa yang bertugas mencari tau.
"Berapa orang?" Tanya salah satu dikelas itu.
"Ada 9 dan 2 bidadari sangat cantik." Jawabnya.
"Jangan lupa.. ada 1 pangeran tampan, sangat tampan." Seru siswi yang juga baru saja kembali ke kelas.
Vani dan Sora hanya memicingkan mata mendengar celotehan anak-anak lainnya tentang 2 bidadari, berarti mereka cantik. Judy hanya mendengarkan tanpa berkomentar juga.
"Mau lihat? Secantik apa sampai heboh begitu." Tanya Sora yang penasaran.
"Boleh, yuk.." Ajak Vani dan mereka bertiga keluar kelas dan pergi ke ruang khusus latihan untuk melihat siapa saja mereka.
"Tampan dan manis, aku sudah tandai dia." Ujar Vani dan Sora mendengus karena harus mengalah pada Vani. Judy hanya diam dan melirik sekilas.
"Bukan tipeku." Katanya dengan santai. Mereka lanjut dan ternyata pintu ruangan lain terbuka disana ada Ella dan Aster yang berjalan beriringan.
Vani berhenti, juga Sora dan Judy mengikuti. Mereka hanya melihat Aster dan Ella dari jarak cukup jauh namun aura cantik kedua gadis itu sangat terlihat yang membuat Vani kesal.
.
.
.
Aster dan Ella masuk ke kelas A bersama Vani dkk karena memang kelas itu adalah unggulan bidang akademik. Sedangkan Javier masuk ke kelas B yang merupakan unggulan dalam bidang musik dan olahraga.
"Selamat siang anak-anak, kita kedatangan teman baru yang merupakan rutinitas setiap 3 tahun sekali. Silakan perkenalkan diri kalian." Salah satu guru terbaik HIS menjelaskan.
"Nama saya Viona, biasa dipanggil Vio."
"Saya Daisy."
Hanya perkenalan singkat karena mereka malas berbasa-basi. Itu juga sebagai pancingan untuk orang yang membully Vina agar kesal dan mencari masalah. Aster dan Ella belum tau siapa mereka karena si pengirim email bernama Viska belum membalas email mereka.
Hari pertama sekolah Ella mencari teman sebanyak-banyaknya karena perawakannya yang lebih pendek dari Aster juga wajahnya yang cantik dan imut membuat banyak orang tertarik dengannya.
"Gimana? Dapat sesuatu?" Tanya Aster dan Ella menggeleng. "Gak ada, mereka hanya fokus pada lomba minggu depan. Kita harus ikut kalau mau lebih berbaur dengan yang lain sekaligus mancing si pembully." Jawab Ella dengan sedikit berbisik.
Aster juga akan ikut dalam lomba modeling dan ikut dalam ekskul botanica. Ella ikut dalam merangkai bunga dan baru saja ada yang mengajaknya untuk ikut dalam ekskul akting.
"Javi mana?" Tanya Aster karena si pengawal tak tampak sejak tadi, Javi seharusnya terus mengawasi Aster dan Ella.
"Gak tau tuh.." Jawab Ella sambil celingak celinguk mencari keberadaan adik sepupunya.
"Javiiii..." Teriak Ella memanggil Javier, wajahnya sebal dan menatap tajam sepupunya.
"Oiii.. bentar!" Balas Javier yang masih asik dengan beberapa gadis disana. Javier berlari santai menuju tempat Ella dan Aster duduk, kantin itu penuh dengan siswa siswi yang penasaran dengan anak baru.
"Kau ini, papa suruh jaga kami malah asik dengan cewek-cewek disana!" Keluh Ella sambil memukul lengan Javier.
"Hahahah santai kak, mereka anak baik kok dan aku dapat gosip, tapi mereka juga gatau bener atau ngga." Jawab Javier yang membawa berita untuk Ella.
"Vina punya teman, tapi masih gosip karena dia pernah lihat Vina dan Riska jalan bersama kelaur dari aula. Dia juga anggota club akting dan kembali ke aula itu setelah selesai latihan karena ada yang tertinggal." Jelas Javier setengah berbisik.
Disisi lain kantin itu ada Vani yang kesal melihat kedekata 3 anak baru itu, Vina ingin mendekati Javier tadi tapi Javier malah mengacuhkannya dan berlari ke arah Ella dan Aster.
"Mereka akan kena akibatnya besok, lihat saja.. apa yang aku inginkan akan aku dapatkan." Gumam Vani dengan tatapan penuh kebencian ke arah Ella dan Aster.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
To : MagicHandxxxxxx
Attach Video
Mereka mulai berulah lagi, tidak banyak yang bisa kulakukan selain mengirim ini ke kalian. Tolong... aku sudah berusaha menyebarkan video ini tapi semua menghilang dengan cepat.
Video> Sent>
TBC~