Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 17 - The Case (Aku Tidak Bersalah 4)



Ella mulai menjelaskan kasus yang dia tangani dan Jarred yang luluh juga karena bujukan Fano dan rengekan Ella pun bersedia mendengar apa yang Ella dapatkan dari pulpen itu. Tak lupa Ella menghubungi Aster dengan video call agar mendengarkan bersama.


"ASTAGA!!" Pekik Ella tak percaya setelah mendengar apa yang terjadi.


"Ssttt..." Fano menyuruhnya diam karena rekaman suara itu belum selesai.


Setelah mendengar sampai selesai mereka terdiam, tau siapa pelaku sebenarnya dan siapa yang mengubah setting TKP hingga bersih dan melimpahkan semua pada Alex.


"Papa.. gimana ini?" Tanya Ella yang jadi bingung sendiri, kejahatan ini melibatkan pihak lain lagi selain Aprilio dan Sergio yang merupakan anak dari komisaris polisi.


"Ini bukan ranah kalian sayang.. biar polisi yang selesaikan." Jawab Fano tapi Ella tidak mau.


"Gak pa, polisi gak bisa bantu dan malah akan semakin membuat Alex menjadi bersalah atas kasus ini."


"Bagaimana kalau kita viralkan." Timpal Aster,.


"Caranya? ini cuma rekaman suara." Tanya Ella bingung.


"Iya juga ya..." Pasrah Aster.


"Sudah, jangan pikirkan. Kalian cepat istirahat, cukup untuk hari ini." Ucap Fano yang dibalas anggukan oleh Ella, dia cukup lelah hari ini.


Ella kembali ke kamarnya dan masih menimang pulpen itu, dia akan mengcopy beberapa hasil rekaman dan menyimpannya.


Selesai mandi Ella kembali kekasurnya dan mulai membuat copyan dan dikirim ke Aster juga di ponsel dan laptopnya. Tak lama Aster kembali menguhubunginya.


"Ella.. kita bisa, kau kan bisa hack beberapa situs penting dinegara ini." Ujar Aster dan mulai membicarakan rencananya.


"Gak bisa Aster, aku gak sehebat itu. Kalau ketahuan habis!" Tolak Ella karena memang dia tidak terlalu memperdalam ilmu hacker nya.


"Gimana kalau cari sekutu lain? Cello, Marcello sepupumu." Saran Aster dan Ella setuju.


"Ok.. aku hubungi dia kita bertemu besok di cafe biasa." Ujar Ella langsung mematikan ponselnya lalu mengirim pesan ke Cello agar bertemu besok.


"Selesai dan selamat malam."


++++++++++++++++++


Ella dan Aster sedang menunggu Mercello di cafe dekat kampus mereka, sudah setengah jam Cello terlambat dan akhirnya si Tuan Muda Hastanta itu datang juga.


"Lama banget sih?" Gerutu Ella dengan wajah cemberut.


"Sabar Ella.. aku baru selesai kelas." Ujar Cello yang memang ada kelas pagi hari ini. Cello memang 1 kampus dengan Ella dan Aster tapi Cello berbeda jurusan dan tentu di gedung yang berbepa pula. Lumayan dengan jarak 2 kilo meter dari gedung kampusnya Ella dan Aster.


"Jadi ada apa?" Tanya Cello dan Ella langsung menceritakan tentang semua yang terjadi. Sebenarnya Cello juga sudah mengetahui kisah Alex dan Nadia yang telah viral beberapa waktu ini.


"Jadi gimana? Bisa bantu? Pakai IP luar negri yang gak bisa kelacak." Tanya Ella pada akhirnya diangguki oleh Cello.


"Bisa, kirimkan semua berkas yang kalian punya dan rekamannya. Kita akan bikin heboh.." Cello menyeringai licik, dia paling suka dengan sesuatu yang misterius, apalagi membongkar kejahatan.


"Ada foto Malinka itu?" Tanya Cello dan Aster langsung mengirimkan fotonya.


"Aku akan lacak dimana dia, tunggu sebentar." Cello lalu membuka laptopnya dan dalam waktu kurang dari 10 menit dia telah memeriksanya.


"Dia masih di dalam negri dan masih di kota ini. Gak ada namanya di data perjalanan luar negri, pesawat atau kereta. Kemungkinan kalau ke luar kota juga pakai jalur darat. Aku akan cek lagi nanti." Cello menjelaskan dan Ella juga Aster hanya melongo tak percaya akan kecepatan informasi yang Cello dapatkan.


"Trus 2 orang itu? Mereka gimana?" Tanya Aster dan Cello hanya tersenyum tipis.


"Astaga ganteng banget si Cello ini.." Batin Aster melihat Cello dengan senyumnya.


"Biarkan saja mereka, kita urus yang satu ini dulu." Jawab Cello dan Ella mengangguk.


Mereka merencanakan semuanya dan dalam waktu kurang dari 24 jam berita ini pasti akan diangkat oleh media.


.


.


.


"Ella.. " Panggil Jarred yang masih berada di sekitaran kampus. Jarred sengaja memanggil Ella untuk membantunya di ruangan dosen agar adiknya itu tidak keluyuran lagi. Setelah bertemu Cello tadi, Ella kembali ke kampus karena ada kelas siang.


"Iss.. kak Jarred, aku kan mau pantau sosmed.. Kak J kadanag nyebelin." Gerutu Ella dengan wajah ditekuk maksimal. Dia terus mengghembuskan nafas keras sambil sesekali membetulkan kacamata tebalnya yang melorot


Tangan Ella memukul-mukul angin kearah Jarred karena kesal dan itu menjadi perhatian sekitar.


"Sok banget si culun itu, disuruh bantu Pak Jarred sok gak suka." Ucap salah satu dari 3 gadis berpakaian modis yang kebetulan disana.


"Iya.. pengen aku tarik kepangannya itu." Ucap gemas gadis lainnya.


"Nanti kita kerjain yuk?" Balas gadis terakhir.


"Ok, nanti setelah dia keluar dari kantor dosen tampan itu kita tarik ke toilet." Ucap yang lainnya lagi.


.


.


"Kak.. ini sampai kapan? Ella capek!" Ucap Ella dengan bibir mengerucut maksimal. Kaca matanya sudah dilepas dan tangannya memutar-mutar karena pegal.


"Sampai habis." Jawab Jarred datar dan masih fokus dengan laptopnya sedangkan Ella sedang memeriksa tugas makalah dan mencoretnya jika ada yang salah.


"Tapi kan ini banyak banget kak.. aku juga laper." Keluhnya lagi dan terdengar seperti merengek manja. Jarred pun menghembuskan napas panjang dan baru sadar kalau sudah sore.


"Ini masih sore udah laper?" Tanya Jarred kemudian menoleh pada adiknya itu.


"Iya, tadi siang cuma makan pisang bakar dan jus." Jawab Ella dan sengaja wajahnya dibuat sesendu mungkin agar Jarred luluh.


"Ok kita pulang, ber-sa-ma." Ucap Jarred dengan penekanan.


"Baru jam 5 sore kak, Ella ada janji sama Aster buat nugas bareng." Ella beralasan.


"Jangan bohong, Aster hari ini pergi ke toko bunga karena banyak pesanan." Jawab Jarred dan Ella menyerah.


Jarred membereskan pekerjaannya dan tugas yang dikerjakan Ella di bawanya pulang untuk di lanjutkan di rumah. Ella berjalan pelan mengikuti Jarred di belakang, karena itu 3 gadis yang ingin mengerjai Ella hanya bisa mengepalkan tangan kesal karena rencana mereka tidak bisa terlaksana.


Ella tetap dijemput supir, dan dengan mobil Aster sedangkan Jarred mengikuti mobil itu dari belakang sampai ke rumah agar adiknya itu tidak kabur.


Ella masih dengan wajah ditekuk sebal masuk ke rumah dan mendapati papa dan mamanya sudah ada di ruang tengah. Seperti biasa Ella mengecup pipi orang tuanya bergantian.


"Kenapa mukanya jelek Ella?" Tanya Imel melihat anak gadisnya sepertinya sedang kesal.


"Gak ada ma.." Jawab Ella, lalu dia langsung ke lantai 2 ke kamar.


"Biasa ma, ngambek karna gak bisa jalan sama Aster." Jarred menjawab dan juga berlalu ke kamarnya. Fano dan Imel hanya bisa menggeleng pelan melihat anak gadis mereka yang lumayan hiperaktif sejak memasuki usia remaja.


TBC~